Adaptasi gim rupanya masih menjadi magnet bagi para penikmat film dan fans gimnya. Seri Sonic The HedgeHog yang laris dengan dua film (> USD 700 juta) dan satu serinya, kini berlanjut dengan sekuel keduanya. Sonic The Hedgehog 3 masih digarap Jeff Fowler dengan para pemain regulernya, yakni  Jim Carrey, Ben Schwartz, Colleen O’Shaughnessey, Natasha Rothwell, Shemar Moore, James Marsden, Tika Sumpter, serta Idris Elba. Aktor kenamaan sekelas Keanu Reeves pun kini bergabung dalam deretan kastingnya. So, bagaimana sekuel keduanya ini?

Seekor Hedgehog berbahaya bernama Shadow (Reeves) yang diisolasi selama 50 tahun, lepas dari tahanan. Sonic (Schwartz), Tails (O’Shaughnessey), dan Knuckles (Elba) diminta oleh GUN (Guardian Unit of Nations) untuk mengatasi situasi ini. Tak diduga, tim Sonic kewalahan menghadapi Shadow yang jauh lebih powerful dari ketiganya. Mereka pun terpaksa meminta bantuan musuh bebuyutan, Dr. Ivo Robotnik (Carrey) untuk melacak keberadaan Shadow. Siapa sangka, ini justru membawa mereka pada sesosok yang lebih jahat, yakni Profesor Gerald Robotnik (Carey) yang juga adalah kakek Dr. Ivo.

Bagi fans gimnya, bisa jadi film ini adalah kembali mimpi yang menjadi kenyataan. Tidak hanya semata visual (CGI) yang memukau, namun juga kehadiran aktor-aktor besar yang terlibat di dalamnya, sekaliber Idris Elba dan Keanu Reeves. Reeves kembali bermain sebagai “John Wick” yang kini berwujud sosok landak super bernama Shadow, berwarna hitam serta gaya bicara khas sang aktor yang karismatik. Sebuah adegan pun tampaknya terinsipirasi dari sekuen aksi John Wick, yakni kejar mengejar seru antara Sonic dan Shadow yang menggunakan sepeda motor. Ya, aksi dan visualisasinya memang jauh dari mengecewakan, belum lagi sisi humornya. Fans seri sebelumnya bakal terpuaskan penuh.

Baca Juga  Your Letter | REVIEW

Satu hal yang menjadi pembeda besar, tentu adalah penampilan sang komedian jenius, Jim Carrey. Kini, sang aktor tampil makin menggila dengan peran dobelnya sebagai sang kakek. Bagi fans Carrey, kita sudah berulang kali melihat sang komedian berperan dobel macam ini. Melalui dua sosok inilah joke-joke konyol yang amat mengocok perut terlontar. Banyolan yang liar dan spontan, sungguh mengingatkan sang komedian di era keemasannya pada dekade 1990-an,seperti seri Ace Ventura, The Mask, Batman Forever, Liar Liar, hingga Dumb and Dumber.

Carrey jelas masih memiliki mojo untuk peran tipikalnya dan fans fanatiknya pun rasanya masih besar. Namun dalam satu dekade terakhir, ia hanya bermain dalam tiga film Sonic. Sayang sekali. Jika mendapat peran yang pas, saya pikir, Piala Oscar pun tak mustahil diraihnya. Tengok saja, The Truman Show dan  Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Sepanjang sejarah sinema, jarang sekali terdapat aktor/aktris memiliki multi talenta berkarisma selevel ini.

Sonic The Hedgehog 3 adalah sebuah sekuel rutin berplot senada serta visual yang mengagumkan, dengan lagi-lagi penampilan memukau Jim Carrey. Sekalipun target penontonnya jelas, kebanyakan tentu anak-anak, namun bukan berarti film macam ini bisa diremehkan begitu saja. Di sela-sela humornya, film ini masih mampu menyelipkan momen-momen dramatik yang menguras emosi kita. Nilai-nilai luhur manusia yang meluntur, keluarga dan persahabatan, secara efektif masih dilontarkan tanpa harus disampaikan secara gamblang. Cinephile atau penikmat film sejati tentu saja memilih film macam Oppenheimer, The Substance, hingga All We Imagine as Light, namun kita sendiri perlu berkaca, apa yang membuat kita dulu sewaktu kecil begitu mencintai medium film?

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaModal Nekad
Artikel BerikutnyaSampai Nanti, Hanna!
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses