Spider-Man: Homecoming (2017)

133 min|Action, Adventure, Sci-Fi|07 Jul 2017
7.4Rating: 7.4 / 10 from 783,443 usersMetascore: 73
Peter Parker tries to stop Adrian 'The Vulture' Toomes from selling weapons made with advanced Chitauri technology while trying to balance his life as an ordinary high school student.

Spider-Man: Homecoming tercatat merupakan seri ke-16 dari Marvel Cinematic Universe (MCU), dan merupakan film solo pertama sosok manusia laba-laba dalam dunia sinematik ini, setelah diperkenalkan dalam Captain America: Civil War. Perlu dicatat, sosok Spiderman juga telah difilmkan beberapa kali dan ini adalah reboot keduanya dalam era milenium baru ini, sejak Spider-Man (2002) arahan Sam Raimi. Sineas Indie, Jon Watts, yang dikenal dengan film Cop Car, dipercaya menggarap sosok ikonik ini. Homecoming dibintangi Tom Holland bersama Michael Keaton sebagai sang antagonis, dengan beberapa karakter reguler MCU, seperti Robert Downey Jr. (Tony Stark) serta John Favreu (Happy Hogan).

Selepas peristiwa Captain America: Civil War, Peter diberi hadiah oleh Tony berupa satu kostum baru laba-laba yang penuh dengan gadget modern. Peter selalu menanti penuh harap panggilan dari Tony, kapan ia bisa beraksi dalam misi berikutnya. Bulan demi bulan berlalu, tak ada panggilan untuknya, bahkan sang pengawas, Happy Hogan pun tak kunjung membalas teksnya. Ia menghabiskan waktunya bersekolah dan bermain bersama sang sahabat, Ned, diselingi aksinya menolong warga sebagai Spider-Man. Hingga suatu ketika, Peter berhadapan dengan satu sindikat perdagangan senjata modifikasi “alien”, dan satu sosok tangguh bernama Vulture, menghalangi jalannya.

Sejak Civil War, karakter ini dipaksa masuk ke dalam cerita, dan tak banyak ekspektasi terhadap film ini karena sosok ini harus memulai kisah di tengah dunia sinematik Marvel yang sudah terkonsep matang sejak lama. Namun, apa yang terjadi dalam film solo ini sungguh di luar dugaan. Kita semua tahu, sosok Spider-Man telah dua kali dibuat serinya (total 5 film), dengan segala latar belakang dan bagaimana Peter berproses dengan kekuatan supernya, dan tinggal bersama bibi May. Homecoming melewati semua proses itu dan memasukkan plotnya persis sesaat setelah Civil War. Satu segmen pembuka secara unik melalui gaya dokumenter, mengulangi proses cerita Civil War dari sudut pandang Peter. Tanpa banyak penokohan karakter, secara efektif sosok Peter telah dikenalkan dengan sangat baik. Naskahnya yang brilian memang penuh kejutan, tak hanya berpadu sempurna dengan MCU, namun mampu menggunakan pendekatan yang sama sekali baru yang tak pernah ada sebelumnya. Sosok Peter yang masih remaja dan beranjak dewasa menjadi penyebab utama. Di sini, lagi-lagi naskahnya memberi sentuhan yang segar tanpa mengulangi formula seri Spider-Man sebelumnya. Kejutan demi kejutan cerita terus bergulir sejak awal hingga akhir filmnya, tanpa sedikit pun bisa kita antisipasi.

Baca Juga  It Was Just an Accident | REVIEW

Karakter antagonis, Adrian Toomes, juga muncul kuat dengan latar kisah sesaat setelah peristiwa The Avengers di New York, delapan tahun lalu. Tanpa memaksa, kisah bergulir secara wajar dalam konteks dunia cerita MCU. Lagi-lagi, melalui tokoh ini, kejutan cerita menjadi kekuatan terbesar filmnya. Karakter populer MCU, Tony Stark, yang menjadi mentor Peter, juga tidak diumbar begitu saja, dan selalu “muncul” dan “tidak muncul” di saat yang tepat. Beberapa karakter reguler MCU lainnya juga muncul dalam filmnya, dan sekali lagi, penuh kejutan. Bahkan hingga post-credit scene pun adalah kejutan luar biasa yang belum pernah ada dalam film-film MCU sebelumnya.

Di tengah gemerlapnya genre superhero serta sosok Spider-Man yang sudah di-reboot dua kali, secara mengejutkan film ini mampu tampil baru dan segar, tidak hanya salah satu film terbaik dalam MCU, namun bahkan salah satu film superhero terbaik yang pernah ada. Secara teknis dan pencapaian visual (CGI) rasanya sudah tidak perlu dikomen lagi. Bahkan beberapa aksi yang sebelumnya tidak pernah terpikir bisa muncul dalam film ini. Coba, bagaimana jika sosok Spider-Man kehabisan gedung untuk bergelayutan. Naskahnya yang brilian rasanya mampu dirasakan oleh penonton yang tidak menyadari kisah MCU sekalipun. Elemen MCU terasa begitu kuat dalam plotnya, namun penonton seolah mampu dibawa ke dunia cerita yang sama sekali berbeda. Spider-Man: Homecoming adalah bukti bahwa genre superhero masih jauh dari kata jenuh. Baik secara sinematik maupun cerita, semuanya adalah kejutan yang amat istimewa. Film ini memiliki segalanya yang membuat genre ini begitu hebat dan menginspirasi, yakni aksi yang menghibur, roman, menyentuh, hangat, penuh drama dan kejutan, selera humor tinggi yang membuat kita tertawa geli, serta yang paling utama, film ini memiliki hati yang besar.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaInsya Allah Sah
Artikel BerikutnyaDespicable Me 3
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses