Suicide Squad (2016)

123 min|Action, Adventure, Fantasy|05 Aug 2016
5.9Rating: 5.9 / 10 from 723,705 usersMetascore: 40
A secret government agency recruits some of the most dangerous incarcerated super-villains to form a defensive task force. Their first mission: save the world from the apocalypse.

David Ayer yang kita tahu sebelumnya menyutradarai film-film aksi kriminal macam End of Watch, Street King, Sabotage serta film aksi perang, Fury, kini mencoba merambah genre superhero dengan konten yang masih akrab dengannya, yakni kriminal. Suicide Squad terhitung merupakan seri ke-3 dari DC Extended Cinematic Universe (DCEU) setelah Man of Steel dan Batman v Superman. Kita tahu ini adalah bagian dari perang besar antara Marvel dan DC yang sejauh ini dimenangkan Marvel baik secara komersil maupun kritik. Apakah Suicide Squad mampu mengangkat franchise DC, tampaknya tidak.

Munculnya meta human atau manusia super rupanya amat menakuti keberlangsungan umat manusia. Pemerintah AS kali ini mencoba merekrut penjahat super untuk menghadapi kasus jika para meta human tersebut membelot berbalik melawan manusia. Deadshot, Harley Quinn, Captain Boomerang, El Diablo, dan Killer Crooc, dipaksa untuk beraksi kembali dalam pengawasan ketat ketika satu meta human, Enchantress, berniat untuk menghabisi umat manusia.

Bagi genre superhero memang ini adalah sesuatu yang baru, bagaimana sekelompok penjahat super harus beraksi menyelamatkan umat manusia. Uniknya pula film ini tidak menitikberatkan pada aksi namun pada penokohan karakternya dan sisi humor. Nyaris separuh filmnya berisi latar belakang tokoh-tokohnya yang disajikan dalam bentuk kilas balik yang kadang membosankan. Penonton yang baru kali ini bertemu dengan karakter-karakter ini pada medium film dipaksa untuk berkenalan dalam waktu yang singkat. Hasilnya memang tidak maksimal dan beberapa karakter tidak mendapatkan latar cerita yang memadai namun usahanya secara keseluruhan tidak buruk. Jika saja karakter-karakter ini telah muncul sebelumnya dalam film-film DCEU bisa jadi kisahnya jauh lebih menarik. Sisi humor jelas menjadi salah satu kekuatan film ini dibandingkan aksi yang medioker untuk genre superhero berbujet $175 juta.

Baca Juga  We Have a Ghost

Nilai lebih film ini juga pada tokoh-tokohnya yang eksentrik dan dibintangi beberapa nama besar.   Deadshot dan Harley Quinn jelas mendapat porsi yang cukup besar, dan Will Smith serta Margot Robbie memang sangat pas bermain untuk dua karakter ini. Sepanjang waktu kita bisa melihat bagaimana polah dan aksi para penjahat super ini menghadapi kasus yang tidak mereka antisipasi sebelumnya. Munculnya karakter Joker juga mencuri perhatian. Jared Leto yang bermain sebagai karakter ikonik yang sudah sering muncul dalam berbagai film Batman, tidak bermain istimewa selain tawanya yang khas. Sebagai bonus karakter Batman dan Flash muncul sekilas untuk mempertegas penonton terhadap dunia sinematik DC. Bicara para superhero, kemana pula mereka ketika kasus besar ini yang jelas-jelas menarik perhatian dunia hingga mereka tidak muncul?

Suicide Squad memang bukan suntikan yang berkualitas bagi franchise DC Extended Universe namun setidaknya mencoba memberikan sesuatu yang berbeda bagi genrenya. Selain tokoh-tokohnya yang kuat, aksi CGI spektakuler bukan menu utamanya, dan terakhir iringan beberapa nomor lawas yang dilantunkan mampu memberikan nuansa yang berbeda untuk genrenya. Setelah BvS yang gagal secara kritik rasanya Suicide juga tidak mampu mengangkat franchise ini. Jika sukses komersil bisa jadi kita akan kembali melihat aksi Deadshot dan Harley Quinn dan kabarnya sekuelnya pun telah mendapat lampu hijau. Bicara soal David Ayer, beberapa hari lalu ia disorot karena mengucapkan kata sumpahan untuk pesaing DC (Marvel) dalam premiere film ini. Walau Ayer sendiri sudah meminta maaf melalui akun twitter-nya semoga saja ini tidak mempengaruhi karirnya. Bicara rivalitas DC versus Marvel, sejauh ini Marvel masih terlalu superior. DC harus lebih bersabar dan tidak perlu terburu-buru untuk melawan pesaingnya yang memang telah membangun pondasi Marvel Cinematic Universe sejak lama.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaMarvel Update – Avengers: Infinity War
Artikel Berikutnya3 Srikandi
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.