Ray Hirano (Boy William), seorang keturunan Indonesia-Jepang sedang jatuh cinta pada Mia Clark (Nabilah), yang juga orang Indonesia. Ray dan Mia bekerja sebagai pengajar tari di sebuah studio yang sama. Ray berencana mengenalkan Mia pada Alex (Herjunot Ali), kakak kandungnya yang seorang pianis ternama. Malangnya, Mia mengakibatkan kecelakaan pada Alex, sehingga ia tak mampu bermain piano hingga dua bulan ke depan. Karena merasa bersalah, Mia berkomitmen mengurus Alex hingga sembuh dan menjadi asisten pribadinya. Perlahan Alex dan Mia menjadi dekat, bahkan Alex menciptakan lagu “Sunshine Becomes You” yang terinspirasi dari Mia.

Latar Kota New York yang romantis menjadi pemandangan utama di film ini, bahkan sekolah musik terkenal di dunia, Julliard, menjadi salah satu ikon yang ikut disorot. Sayangnya spot-spot dramatis ini dirusak oleh penggunaan rekayasa gambar (green screen) yang kasar pada beberapa adegan, sehingga terlihat sekali hanya “gambar tempelan”. Sementara dari sisi cerita seperti kebanyakan film-film remaja roman produksi kita, masih klise, terlalu ringan, dan melodramatik. Banyaknya adegan pendekatan Alex dan Mia membuat konflik dalam alur cerita kurang fokus dan terkesan melompat-lompat.

Dari segi akting, penampilan Herjunot Ali berbanding terbalik dengan Nabilah yang notabene adalah pendatang baru di dunia film. Peran sebagai Mia, yang seorang penari profesional terkesan sangat memaksa dan kaku. Karakter Mia menjadi lemah karena gerak-gerik Nabilah yang kurang elegan. Bahkan satu kesalahan fatal di sebuah adegan ketika Mia keceplosan memanggil nama “Boy” bukan “Ray” pada Ray Hirano yang diperankan oleh Boy William. Walaupun begitu, di akhir cerita Herjunot Ali menutup kelemahan Nabilah dengan akting memukaunya dan amat dramatik.

Baca Juga  Ada Cinta di SMA

Bagi para penggemar kisah romantis dan fans novel “Sunshine Becomes You” tentu film ini menjadi penantian yang terbayarkan. Berangkat dari novel dengan judul yang sama, cerita film berkiblat pada film-film drama romantis Korea yang menguras air mata penonton. Film Indonesia yang diangkat dari novel beberapa tahun terakhir masih saja populer. Sasarannya kebanyakan adalah kaum remaja muda yang menyukai romansa dan hiburan yang ringan. Semoga dunia film Indonesia ke depan mampu menciptakan lebih banyak tensi drama yang tinggi dan lebih menarik untuk ditonton tidak hanya sekadar menjual tampang semata.

Watch Trailer

Artikel SebelumnyaSINGLE
Artikel BerikutnyaBenarkah Film Terbaru Quentin Tarantino “ The Hateful Eight” Adalah Film Misogini?
Lahir dan besar di Kalimantan Barat, merupakan seorang aktivis demokrasi. Tahun 2015 hijrah ke Yogyakarta untuk menekuni ilmu film di sebuah perguruan tinggi swasta. Selain kuliah, menulis dan menggambar animasi menjadi rutinitas pilihannya.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.