Apa yang terpikir dalam benak kita ketika mendengar kata Superhero? Kita langsung merujuk pada komik ataupun film. Superhero merupakan tokoh khayalan yang diwujudkan penulis komik ke dalam sebuah cerita bergambar dan sering diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Genre film ini cukup diminati banyak orang dari berbagai umur, baik anak-anak maupun dewasa. Genre ini selalu ditunggu-tunggu karena tokoh-tokohnya yang populer, apalagi bagi para fans komiknya. Pemahaman umum yang sudah mendarah daging di publik tentang superhero adalah seorang tokoh yang mempunyai kekuatan lebih dari manusia biasa baik kekuatan dari dalam maupun dari luar/pendukung. Seseorang disebut superhero karena dengan kekuatan yang melebihi manusia biasa mereka mampu untuk membasmi kejahatan dan memperjuangkan kebenaran.

Tokoh superhero dalam komik maupun film merupakan tokoh khayalan dan fantasi semata yang tidak ada di dunia nyata. Tokoh-tokoh superhero tersebut memang sengaja diciptakan untuk sekedar hiburan dan memberikan pesan moral tertentu bagi pembaca ataupun penonton film. Penampilan seorang superhero pun berbeda dengan manusia-manusia kebanyakan. Mereka biasanya menggunakan topeng, pakaian tempur yang didesain menarik dan mempunyai senjata khas masing-masing. Seperti Batman misalnya yang mempunyai pakaian tempur dan topeng berwarna hitam. Ironman yang memiliki baju tempur besi berwarna merah perpaduan dengan kuning.

Walaupun segala sesuatu yang berhubungan dengan superhero, baik itu penampilan maupun setting ceritannya tidak ada di dunia nyata. Namun, cerita yang diangkat dalam sebuah film superhero sering mengangkat aspek-aspek kehidupan yang juga terjadi di dunia nyata, sepeti perjuangan akan kebenaran dan keadilan, memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, serta semangat perjuangan untuk membasmi kejahatan dan kriminal. Atau juga mengangkat tentang eksistensi diri dari sang superhero itu sendiri. Banyak film superhero yang mengangkat pergulatan batin sang superhero itu sendiri. Pada dasarnya film-film superhero selalu tidak lepas dari nilai-nilai hidup yang ada pada kehidupan nyata.

Sekarang kalau kita ditanya, adakah “superhero” dalam dunia nyata? Tentu saja kita langsung menjawab tidak ada, karena pemahaman kita akan superhero adalah tokoh khayalan dalam komik maupun film. Kalaupun ada orang yang memakai pakaian yang sama persis dengan salah satu superhero, maka mungkin saja itu sengaja dibuat untuk hobi ataupun festival kostum. Itu semua tidak salah dan juga tidak benar. Mari kita sejenak melihat dua sisi dari kata “superhero”, apabila dari sisi karakter tokoh yang berpenampilan gagah dengan baju yang mentereng dan didesain sangat heroik tentu tidak ada di dunia nyata, tetapi apabila kita melihat dari sisi seorang superhero yang selalu memperjuangkan akan kebenaran dan keadilan, memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, serta semangat perjuangan untuk membasmi kejahatan dan kriminal, tentu saja ada orang di dunia ini yang berkarakter seperti itu di dalam kehidupan nyata. Itu artinya orang-orang seperti itu bisa saja disebut sebagai seorang “superhero”.

Baca Juga  Eiffel... I’m in Love

Sekarang apakah semua orang yang memperjuangkan kebenaran bisa dengan mudah kita sebut sebagai seorang superhero? Tentu tidak, mereka yang bisa disebut sebagai superhero biasanya mempunyai peran khusus dari manusia lain kebanyakan. Mereka mempunyai kesadaran dan kedewasaan yang lebih dari manusia biasa. Pemikirannya kadang tidak terpikirkan oleh manusia lainnya. Mereka mempunyai ideologi sendiri dalam dirinya yang bisa mendewasakan dirinya. Ideologinya ataupun pemikirannya sering diikuti oleh banyak orang dan bermanfaat bagi banyak orang. Kekuatan mental yang melebihi kebanyakan orang merupakan simbol baju tempur, senjata dan kekuatan fisik layaknya seorang superhero. Dan yang paling penting banyak orang yang merasa terlindungi dan aman karena sosok tersebut.

Adakah orang-orang semacam ini dalam dunia nyata? Kita ambil contoh saja Mahattma Gandhi, beliau adalah seorang pahlawan yang mampu melawan ideologi asing di negaranya dengan ideologinya yang kemudian diikuti rakyatnya. Masa itu rakyatnya selalu mengelu-elukan beliau dan merasa terlindungi akan keberadaan beliau. Perannya sangatlah besar dan berarti bagi negaranya dan menjadi contoh bagi dunia internasional. Beliau tidak mempunyai pakaian tempur seperti Batman ataupun Ironman. Beliau hanya berpakaian kain putih yang selalu dipakainya yang menjadi ciri khasnya. Yang menjadi senjata dan baju tempurnya adalah hati nuraninya. Beliau juga memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan memperjuangkan rakyatnya.

Masih banyak tokoh-tokoh dunia yang memiliki semangat perjuangan luar biasa dan berperan penting bagi banyak orang seperti Mahattma Gandhi. Sebutlah tokoh pahlawan Indonesia yang juga mempunyai peran penting bagi masyarakat kita, seperi Sultan Agung, Gajah Mada, Sultan Hamengku Buwana IX dan masih banyak lagi. Tokoh-tokoh tersebut dengan semangat perjuangannya sama dengan semangat seorang superhero dalam melawan musuh-musuhnya. Dengan melihat semangat dan perjuangannya, mereka patut dijuluki sebagai “superhero”. Adakah tokoh-tokoh masa kini yang mempunyai peran seperti belaiu-beliau ini? Memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan? Hampir tidak ada tokoh yang seperti itu.

Sekarang persoalannya bukan soal penyebutan nama superhero ataupun pahlawan bagi seseorang yang mampu memperjuangkan kebenaran tetapi intinya orang-orang seperti itu mempunyai perbedaan dari kebanyakan orang. Yang menjadi persamaan adalah semangatnya yang sama dengan semangat heroik karakter-karakter superhero yang ada pada film-film yang diterapkan dalam dunia nyata. Menjadi seorang superhero sejati tidaklah harus memakai topeng maupun baju tempur atau harus memasukkan zat kimia dalam tubuh yang bisa menjadikan fisik kita kebal dan kuat. Namun, kekuatan mental yang kuat dan tangguh menjadi modal utama bagi seorang superhero sejati.

Artikel SebelumnyaNovember Jogja
Artikel Berikutnya‘3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta’ dan Wacana Hubungan Kasih Beda Agama
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.