superman

Sosok Superman untuk kesekian kalinya telah di-remake dan di-reboot sejak hampir lima dekade lalu. Fans komik dan superhero DC berharap pada sosok sang sineas, James Gunn, yang berani merombak DC Extended Universe (DCEU) yang dianggap telah gagal. Superman menjadi film pertama DC Universe (DCU) sebagai pembuka fase pertama, Chapter One: Gods and Monsters. Film ini dibintangi oleh David Corenswet, Rachel Brosnahan, Nicholas Hoult, Edi Gathegi, Anthony Carrigan, Nathan Fillion, hingga Isabela Merced. T. Bermodal sang sineas, para bintang, dan modal USD 225 juta, mampukah Superman menyelamatkan superhero DC dari keterpurukan?

Superman alias Clark Kent (Corenswet) dikisahkan telah menjadi pahlawan Metropolis dan bahkan bumi karena selama ini menjadi juru selamat mereka. Rival jahatnya, Lex Luthor, selama beberapa tahun telah merencanakan sebuah skema besar untuk menghancurkan reputasi Superman, baik fisik maupun mental. Kisahnya dibuka dengan kekalahan sang pahlawan melawan para robot dan manusia meta kreasi Lex yang ini membuka rahasia besar asal-usul Superman.

Lex memanfaatkannya untuk menjatuhkan citra Superman di mata publik. Oleh karena dianggap sebagai ancaman umat manusia, Superman pun menyerahkan diri dan Lex menyekapnya di sebuah dimensi atau celah multiverse melalui portal ciptaannya. Rekan kerja dan kekasih Superman, Louis (Brosnahan) menyadari ada sesuatu yang janggal hingga ia pun meminta pertolongan Justice Gang, yakni Mister Terrific (Gathegi),  Hawkgirl (Merced), serta Green Lantern (Fillion).

Bagi yang familiar dengan seri feature animasi DC, menonton Superman terasa seperti menonton satu episode animasi DC Animated Movie Universe (DCMAU). Film-film animasi berkualitas ini jarang sekali memiliki eksposisi panjang dan bagi yang tidak mengikuti seri sebelumnya, bisa jadi kisahnya bakal lepas. Superman tidak lagi adalah sebuah kisah tentang siapa dan latar belakang sang sosok super. Plotnya adalah satu lompatan proses teramat panjang yang bisa jadi punya potensi untuk membuat segalanya menjadi rumit bagi penonton awam.

Pilihan ini jelas tidak terelakkan bagi Gunn yang juga menulis naskahnya, setelah seri feature-nya telah beberapa kali dibuat. Bagi saya ini adalah sebuah perjudian besar. Superman bukan versi seri animasinya yang telah meletakkan pondasi cerita pada film-film sebelumnya, tetapi ini adalah film pembuka. Superman jelas tidak buruk, tetapi tidak ada ikatan emosi kuat yang bisa saya rasakan pada semua karakternya.

Baca Juga  The Hitman's Bodyguard

Bagi fans James Gunn, pasti sudah tahu persis bagaimana ia meramu formulanya. Nuansa keluarga yang hangat dan sisi humor menjadi stempelnya, seperti terlihat pada seri Guardian of the Galaxy hingga seri Peacemaker. Seperti sudah diprediksi, Superman pun tak jauh dari ini. Tentu ini adalah sesuatu yang segar bagi film-film superhero DC (DCEU tepatnya), khususnya karakter Superman. David Corenswet mampu memberi nuansa humor yang tidak dimiliki Henry Cavill, tentu didukung celotehan konyol khas Gunn. Sosok lainnya, kecuali Lex (Hoult), mampu beradaptasi sempurna dengan selera humor Gunn, terutama sosok Mister Terrific yang memiliki screen time yang lumayan. Tidak sejak Christopher Reeves, sosok Superman kini tampak lebih manusiawi.

Tak banyak komentar soal pencapaian teknisnya yang sangat didominasi CGI. Sentuhan Gunn lagi-lagi bisa kita rasakan kuat. Tone warna yang cerah dan hangat, hingga penggunaan lagu-lagu pop yang mendampingi beberapa momen adegannya. Aksi tanpa terputus Mr. Terrific bersama Louise, ketika melibas anak buah Lex (di tepi pantai) adalah momen membekas yang sering kita lihat dalam film-film Gunn. Musik tema Superman (gubahan John Williams) jelas tidak memiliki pesona yang sama dengan versi klasiknya (1978), tetapi Gunn memberi tribute khusus melalui gaya kemunculan title dan ending credit-nya yang sedikit memberikan sensasi nostalgia.

Dengan sentuhan khasnya, James Gunn telah membuat sebuah reboot Superman yang segar, tetapi tempo plot dan minimnya eksposisi, bisa jadi membuat kisahnya tidak untuk tontonan semua orang. Dengan banyaknya karakter baru, bakal membuat penonton yang tidak familiar dengan komik (atau seri animasinya), terasa rumit dan kompleks. Terlebih bagi penonton awam yang menganggap kisahnya punya kontinuitas cerita dengan film-film (DCEU) sebelumnya. Superman sama sekali tidak tampak sebagai eksposisi, tetapi pengantar untuk membuka semesta sinematik yang lebih luas. Filmnya berhasil untuk tujuan ini, khususnya bagi fans DC dan pecinta seri film animasinya. Kita lihat, bagaimana respon fans dan penonton luas, tentu ini sangat memengaruhi kelanjutan produksi semesta sinematiknya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaOrang Ikan | REVIEW
Artikel BerikutnyaI Know What You Did Last Summer | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses