Surat Cinta untuk Starla the Movie (2017)

90 min|Drama|28 Dec 2017
6.2Rating: 6.2 / 10 from 108 usersMetascore: N/A
Hema guy who is obsessed with his love for nature has the uniqueness of making a love letter for nature. Assisted by his old typewriter's legacy of his former journalist grandfather, Hema …

Tonton video review artikel ini di bawah.

     Film bergenre roman remaja ini merupakan film besutan sutradara Rudy Aryanto. Ini adalah kali kedua debutnya membuat film panjang. Film pertamanya bergenre horor berjudul Psikopat (2005). Selama ini, ia lebih aktif untuk memproduksi sinetron remaja ketimbang film. Film ini merupakan adaptasi dari sebuah lagu karya Virgoun berjudul Surat Cinta untuk Starla yang populer pada tahun 2016. Tak heran, kini filmnya sangat laris di pasaran dengan jumlah penonton lebih dari 1 juta penonton.

     Film ini sendiri bercerita tentang dua orang remaja yang saling jatuh cinta, Hema dan Starla. Hema (Jefri Nichol) adalah seorang pemuda yang hidup bebas dan memiliki hobi membuat mural. Sementara Starla (Caitlin Halderman) adalah seorang remaja putri yang memiliki sebuah cafe. Tanpa sengaja, Hema bertemu dengan Starla di cafe karena dikejar polisi. Perkenalan menjadikan hubungan mereka semakin dekat. Starla juga tertarik dengan kepribadian Hema yang unik. Namun, hubungan mereka harus terusik karena sesuatu yang tak mereka duga sebelumnya.

     Plot utama filmnya berkisah mengenai bagaimana hubungan mereka terjalin, namun plot pada adegan perkenalan kurang jelas menggambarkan bagaimana mereka bisa saling tertarik dan mendapatkan chemistry. Adegan pertemuan mereka pun terasa agak menggelikan dan kurang elegan. Sebelum adegan cafe pada pagi harinya, terdapat adegan yang tak pernah penonton ketahui, sebagai motif penggerak cerita mengapa mereka bisa menjadi dekat. Walaupun pada adegan-adegan berikutnya disinggung melalui dialog, namun rasanya sangat kurang dan janggal, karena adegan tersebut adalah inti pokok yang membangun kausalitas cerita filmnya.

Baca Juga  Ada Apa Dengan Cinta?

     Salah satu plot yang menarik adalah perjalanan mereka berdua mengarungi jalanan sudut kota yang menjadi keseharian Hema. Ini menjadi pengalaman baru buat Starla. Hema yang digambarkan sebagai sosok yang romantik, selalu membuat mural berupa quotes untuk Starla. Namun, entah mengapa chemistry-nya masih terasa juga kurang. Bisa jadi karena dialog yang dibangun masih ala sinetron remaja yang kaku dan tidak menghidupkan suasana serta membangun mood filmnya.

     Salah satu aspek yang mampu membangun tone filmnya adalah ilustrasi musiknya yang bernuansa roman serta lagu tema filmnya. Beberapa kali, lagu Surat Cinta untuk Starla menjadi backsound dari beberapa adegan pokok. Lagu temanya mampu membangun mood dan chemistry filmnya terlepas dari penceritaannya yang tanggung. Drama roman remaja memang masih salah satu menjadi tren dari industri perfilman kita dengan mampu menarik ribuan penonton remaja, terbukti dengan jumlah penonton yang fantastis. Sekalipun film ini masih belum maksimal karena penceritaannya yang tanggung.

WATCH OUR REVIEW

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaVin Diesel Membintangi Superhero: Bloodshot
Artikel Berikutnya4 Film Gabung Klub US$ 1 M di Tahun 2017
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini