Susah Sinyal (2017)

N/A|Comedy|21 Dec 2017
7.5Rating: 7.5 / 10 from 133 usersMetascore: N/A
Ellen does not keep her promise to watch Kiara's performance at the talent show competition between high schools. Kiara is angry and goes to Sumba alone, where she could feel a glimmer of happiness.

Tonton video review artikel ini di bawah.

Susah Sinyal, film produksi Starvision Plus yang bergenre drama komedi ini merupakan besutan sutradara yang kini tengah naik daun, Ernest Prakasa. Hanya dalam waktu 1 minggu setalah rilisnya,  film ini telah ditonton hampir 700 ribu penonton. Film garapan Ernest sebelumnya, Cek Toko Sebelah (2016) menjadi salah satu film terlaris dengan pencapaian 2,6 juta penonton. Dalam film ini, Ernest kembali bereuni dengan aktor dan aktris langgananannya, seperti Adinia Wirasti, Dodit Mulyanto, Chew Kinwah, Gisella Anastasia, serta lainnya. Jejak Ernest sebagai sutradara mengikuti koleganya, Raditya Dika yang berangkat dari seorang komika dan mencoba merambah dunia film dengan menjadi kreator sekaligus bermain di film-filmnya.

Film ini bercerita tentang hubungan Ellen (Adinia Wirasti) sebagai single mom dengan putri remajanya, Kiara (Aurora Ribero). Ellen yang amat sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengacara menjadikan Kiara tumbuh dan dekat dengan sang Oma (Niniek L. Karim). Tak disangka Oma-nya meninggal. Kiara merasa kesepian dan kehilangan. Ellen mencoba mengantikan posisi Oma-nya, namun tak semudah yang ia bayangkan, karena hubungan mereka memang sudah terlanjur berjarak. Sampai akhirnya, Ellen pun mengajak Kiara berlibur untuk mendapatkan quality time bersama putrinya.

Baca Juga  Alangkah Lucunya (Negri ini),

Tampaknya, Ernest tertarik mengolah konflik keluarga berbalut komedi dalam tema film-filmnya. Drama keluarga yang rumit disajikan begitu renyah melalui plot yang sederhana. Seperti halnya Cek Toko Sebelah, film ini juga mengangkat hubungan antara orang tua dan anak. Walau tak sematang sebelumnya, sang sineas mencoba untuk menyajikannya sedikit berbeda melalui pendekatan populer remaja, baik kisah maupun sisi komedinya. Kekuatan filmnya sebenarnya terletak pada bumbu komedinya yang konsisten disajikan sepanjang film, namun gaya komedinya sebenarnya bisa diolah lebih elegan untuk lebih memperkuat cerita. Beberapa banyolan kadang agak terlalu berlebihan dan lepas dari plot utama filmnya.

Selain sisi komedi, film ini mencoba mengolah momen dramatis dengan menggambarkan hubungan Ellen dan Kiara melalui segmen liburan di Sumba. Setting resor yang memiliki panorama yang menawan menjadi tempat yang indah untuk membangun kembali hubungan keduanya. Momen-momen kocak, bersama para pegawai dan penghuni hotel lainnya menjadi penghidup suasana, dengan dimotori oleh Asri Welas, serta duo komika Arie Kriting dan Abdur. Klimaks cerita yang menggambarkan kekecewaan Kiara terhadap Ellen, disajikan dengan baik dan ditutup dengan penyelesaian yang manis.

Film drama komedi semacam ini sepertinya kini disukai pasar. Formula para komika yang terjun di industri film dengan gaya komedi macam ini tampaknya akan terus digunakan, selama masih mendapatkan animo penonton yang tinggi. Ernest Prakasa sendiri memiliki potensi untuk menghasilkan film berkualitas dengan kisah dan tema yang sederhana, namun memiliki pesan yang kuat. Setelah sukses Cek Toko Sebelah, sang sineas kembali mampu mengolah cerita dengan pendekatan family story yang apik dan menyentuh dengan balutan unsur komedi yang kuat.

WATCH OUR REVIEW

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaThe Greatest Showman
Artikel BerikutnyaAyat-Ayat Cinta 2
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini