Sylvie's Love (2020)
114 min|Drama, Music, Romance|23 Dec 2020
6.8Rating: 6.8 / 10 from 6,427 usersMetascore: 74
When a young woman meets an aspiring saxophonist in her father's record shop in 1950s Harlem, their love ignites a sweeping romance that transcends changing times, geography, and professional success.

Tak ingat, atau mungkin bahkan belum pernah, kapan terakhir menonton film drama roman bertokoh kulit hitam yang sama bagusnya dengan film-film terbaik di genrenya? Sylvie’s Love adalah film roman arahan Eugene Ashe yang dibintangi oles Tessa Thompson, Nnamdi Asomugha, Aja Naomi King, serta Eva Longoria. Film ini didistribusikan oleh platform streaming Amazon Prime Video milik Amazon Studios beberapa hari lalu.

Berlatar Kota Harlem tahun 1950-an, Sylvie (Thompson) adalah seorang gadis muda penggemar acara televisi yang kini bekerja menunggu toko piringan hitam milik ayahnya. Seorang pemuda, Robert Halloway, diterima ayahnya untuk bekerja di sana. Robert ternyata juga pemusik peniup Saxophone, yang diam-diam Sylvie pun jatuh hati padanya. Setelah beberapa lama berpacaran, asmara mereka pun berbuah benih cinta yang masih Sylvie sembunyikan dari sang kekasih. Sementara Sylvie memulai karirnya di televisi, Robert pun mendapat tawaran manggung di Kota Paris selama beberapa tahun.

Seperti halnya tipikal film roman sejenis, kisah film ini menyajikan suka duka asmara dua sejoli yang tak sulit untuk diantisipasi arah plotnya. Keunikannya dengan tipikal roman sejenis hanyalah setting cerita, dua tokoh utamanya yang berkulit hitam, serta musik jazz. Chemistry keduanya, khususnya di paruh awal film mampu terjalin dengan amat manis dan romantis yang didukung penampilan menawan dari Thompson dan Asomugha. Tak sulit bagi penonton untuk jatuh hati dengan kedua sosok ini. Setting kisah di Kota New York juga sangat mendukung kisah asmara mereka, layaknya kita menonton film-film roman era klasik. Satu hal lagi adalah musik Jazz. Iringan musik dan belasan nomor Jazz klasik yang melantun sepanjang filmnya sungguh menambah syahdu nuansa roman yang begitu melekat dalam tiap adegannya.

Baca Juga  The Green Knight

Sekalipun kisahnya sedikit klise, Sylvie’s Love adalah film roman langka di mana kita mampu jatuh cinta pada dua tokoh utamanya sekaligus alunan musik dan lagunya. Dari sisi kisahnya, melalui dua sosok tokoh utamanya yang berkulit hitam, film ini adalah pengembangan besar dari genrenya. Dari sisi penggunaan musik jazz-nya, film ini mampu membuat film roman musikal bagus macam La La Land menjadi terasa artifisial. Dalam film animasi Soul yang juga sama-sama menyajikan musik jazz, tidak mampu membuat musiknya begitu lekat dengan narasi seperti halnya dalam Sylvie’s Love. Bagi pecinta musik Jazz, film ini adalah tontonan wajib. Jika kamu akrab dengan lagunya, dijamin kamu akan ikut bersenandung bersama. Jika kamu pecinta sejati musik jazz dan film roman, film ini bagimu pastilah sebuah masterpiece.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaWe Can Be Heroes
Artikel BerikutnyaShadow in the Cloud
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.