Taken 2 (2012)
92 min|Action, Crime, Thriller|05 Oct 2012
6.2Rating: 6.2 / 10 from 321,794 usersMetascore: 45
In Istanbul, retired CIA operative Bryan Mills and his wife are taken hostage by the father of a kidnapper Mills killed while rescuing his daughter.

Apakah mungkin kejadian yang sama bisa terulang kembali? Taken 2 menggunakan formula yang nyaris mirip dengan film pertamanya dengan premis plot yang sangat konyol dan memaksa. Umat muslim kini demikian mudah menjadi favorit untuk peran-peran antagonis. Satu hal yang sangat memuakkan. Jika peran antagonis tidak diperlihatkan mereka muslim atau dari mana pun rasanya bukan menjadi masalah. Ok ok.. let’s not make this a problem and go back to the plot. Alkisah Bryan Mills (Neeson) yang tengah betugas di Istambul dikejutkan oleh kedatangan istrinya, Lenore (Janssen)dan putrinya, Kim (Grace). Di tempat lain, Murad, ayah dari salah satu penculik Kim di film pertama, bertekad membalas dendam pada Bryan dan keluarganya. Cerita selanjutnya pasti sudah bisa Anda terka.

Seperti film pertamanya kisahnya berjalan cepat ketika konflik mulai terjadi. Tidak seperti Taken yang terasa sangat menegangkan namun kali ini tanpa ketegangan yang berarti. Unsur waktu yang dulu menjadi tolak ukur kini tak lagi ada. Kim yang dulu sangat pasif (korban penculikan) kini sangat aktif mendukung jalan plotnya. Bahkan Kim yang baru belajar mengendarai mobil mendapatkan pelajaran menyetir berharga dari ayahnya. Karakter Lenore yang dulu sama sekali tidak aktif kini sedikit mendapat porsi. Sementara Bryan masih sama seperti dulu.. “what I do best, “ kata Bryan. Kill, kill, and kill. Motif cerita yang tak sekuat dulu membuat aksinya menjadi terasa hambar.

Baca Juga  Killers of the Flower Moon

Taken 2 semata-mata hanya mencoba mendompleng sukses film pertamanya. Jika berhasil mungkin Taken 3 kembali dibuat dan tak perlu penulis naskah handal untuk menulis sekuelnya. Plot filmnya jelas terlihat terlalu memaksa dan tidak menghibur seperti film pertamanya. Setting di Istanbul juga tak membuat filmnya lebih menarik. Taken dibuat dengan bujet $26,5 juta dan sukses luar biasa sementara Taken 2 berbujet $80 juta. Sebuah angka yang terlalu fantastis untuk film biasa seperti ini dan menyia-nyiakan bakat aktor sekelas Neeson yang jarang tampil buruk.

PENILAIAN KAMI
Overall
55 %
Artikel SebelumnyaRumah di Seribu Ombak, Film Anak yang Terlalu Kelam
Artikel BerikutnyaBrandal-Brandal Ciliwung, Bicara Pluralisme dan Lingkungan
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.