Tausiyah-Cinta-MontasefilmSutradara  : Humar Hadi
Penulis  : Umank Ady, Yuli Retno Winarsih, Maryah El Qibthiyah, Nadia Silvarani
Pemain : Rendy Herpy, Hamas Syahid, Ressa Rere
Produksi : BedaSinema Pictures
Durasi : 99 menit

Muda, cerdas, sukses, tampan, bahkan sholeh, bukan jaminan mutlak orang muda untuk bebas dari ujian iman. Begitulah Azka dan Lefan, dua pemuda tampan yang bersahabat karena dipertemukan lewat sebuah pekerjaan proyek. Azka adalah seorang yang tenang dan sholeh selalu menjadi tempat mengadu Lefan. Lefan adalah sosok yang gelisah, korban dari broken home yang begitu menderita ketika kehilangan ibunda dan kakaknya yang sakit parah. Pencarian cinta sejati Lefan ditemukannya pada sosok Rein, seorang mahasiswi cantik lagi cerdas yang juga terlibat proyeknya bersama Azka. Selama pencarian Lefan, Rein, dan Azka, petuah-petuah agama selalu mengisi keseharian mereka hingga akhirnya ketiganya mampu membuat keputusan yang mengubah hidup mereka.

Tema religi bukan hal yang baru di dunia perfilman Indonesia. Tahun 2008, film Ayat-Ayat Cinta mempopulerkan film bergenre drama religi. Sudah lazim, kisah film-film drama Indonesia banyak sekali diambil dari novel yang berjudul sama. Terlebih jika novel tersebut meledak di pasaran dan diperbincangkan, karena kaum muda adalah sasaran empuk industri hiburan. Tausiyah Cinta mengangkat isu-isu populer seputar status ‘jomblo’, pencarian cinta sejati, dan pergulatan batin ketika dihadapkan pada kajian iman dan agama. Film ini menarik sebagai panduan ringan bagi kaum muda Islami yang sedang menghadapi pergumulan batin yang sama. Filmnya juga menyelipkan beberapa kutipan ayat-ayat Al Quran yang pas pada momen para tokohnya sedang dalam kondisi “down“.

Film dibuka cepat dengan adegan yang tidak nyaman akibat penonton langsung disuguhi konflik begitu saja. Kebingungan antara momen kilas-balik Lefan dan Elfa, kakaknya, dengan visualisasi penyesalan batin Elfa seolah tak menyiapkan jeda untuk bisa dicerna penonton. Adegan per adegan ditampilkan begitu cepat seperti dikejar durasi. Namun pada penghujung film, puisi Tausiyah Cinta yang dibawakan Lefan diiringi ilustrasi tentang waktu dan wanita impiannya menjadi pesona romantis dari drama religi ini.

Baca Juga  Ngeri-Ngeri Sedap

Secara teknis penggabungan suara dialog dengan ilustrasi musik tidak tertata halus. Seringkali peralihan antara dialog ke ilustrasi musik masih terdengar noise yang mengganggu. Beruntung lagu-lagu tema dalam film ini mengalun dengan lirik yang bagus hingga menutupi kejanggalan suara. Para pemain bermain cukup baik. Beberapa penampilan dari cameo seperti Irwansyah, tokoh-tokoh agama, dan seorang penulis buku populer turut mendukung kisah filmnya. Hanya saja, mereka terpaku dengan dialog-dialog klise serta gurauan-gurauan yang garing.

Film dengan tema drama dengan muatan agama akan selalu dibutuhkan, baik sebagai referensi, dakwah, maupun hiburan semata, namun tidak berarti kualitas cerita film ditinggalkan. Bagaimana pun, informasi dan pesan bagi penonton akan semakin tercapai jika disuguhkan dengan film yang berkualitas dari segala sisi pula.

Watch Video Trailer

Artikel SebelumnyaThe Big Short
Artikel BerikutnyaNominasi Academy Awards 2016 – Kejayaan Film Fiksi Ilmiah
Lahir dan besar di Kalimantan Barat, merupakan seorang aktivis demokrasi. Tahun 2015 hijrah ke Yogyakarta untuk menekuni ilmu film di sebuah perguruan tinggi swasta. Selain kuliah, menulis dan menggambar animasi menjadi rutinitas pilihannya.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.