Terminator Genisys (2015)
126 min|Action, Adventure, Sci-Fi|01 Jul 2015
6.3Rating: 6.3 / 10 from 292,461 usersMetascore: 38
When John Connor, leader of the human resistance, sends Sgt. Kyle Reese back to 1984 to protect Sarah Connor and safeguard the future, an unexpected turn of events creates a fractured timeline.

Terminator Genisys adalah seri kelima Terminator yang dianggap reboot bisa pula sekuel. Kisahnya berlatar plot Terminator pertama ketika Kyle Reese dikirim oleh John Connor ke tahun 1984 untuk menyelamatkan Sarah Connor dari kejaran T-800. Ketika Reese sampai di tahun 1984 segalanya ternyata telah berubah. Sarah justru menyelamatkan Reese dari kejaran Terminator. Sejarah telah berubah dan mereka harus mencegah Skynet kesekian kalinya untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran. Cukup rumit bukan? Entah film ini sekuel dari Terminator pertama atau kedua, atau sebuah reboot, sulit dipahami.

Jika Anda menemukan mesin waktu dan menggunakan mesin tersebut untuk kembali ke masa lalu dan memberikan rancangan mesin waktu pada diri Anda yang lebih muda. Pertanyaan sekarang, siapa yang menciptakan mesin waktu tersebut? Anda yang sekarang atau Anda di masa lalu? Plot Terminator memang memiliki masalah dengan paradoks mesin waktu. Apa yang membuat seri pertama dan kedua begitu baik adalah karena plotnya tidak bermain-main dengan logika ini namun sederhana saja, menjaga Sarah dan John Connor agar tidak dibunuh. Terminator Genesys bermain-main dengan waktu dan plot film Terminator pertama, banyak realita baru terjadi dalam alur kisahnya sehingga kita tidak bisa berpegang pada satu realita yang benar-benar bisa kita percaya. Nyaris sepanjang film kita tidak tahu apa yang sebenarnya yang terjadi? Ini inti masalah filmnya.

Baca Juga  The Rhythm Section

Plot Terminator 1 & 2 yang sederhana memungkinkan James Cameron mengeksplorasi adegan aksi dengan sedemikian hebat. Sementara Genesys terlalu sibuk dengan rumitnya plot sehingga kita tidak mampu menikmati adegan-adegan aksinya. Adegan aksi berjalan dengan cepat tapi kita justru kebingungan bertanya apa yang tengah terjadi. Sehebat apapun adegan aksi tidak akan berarti apa-apa tanpa motif yang jelas. Namun harus diakui beberapa pencapaian CGI sangat baik, terutama pada penciptaan karakter Terminator seri pertama. Nyaris tidak bisa kita bedakan dengan aslinya. Beberapa reka ulang adegan film Terminator pertama, bahkan shot-nya pun sama, sedikit membawa kita pada nostalgia masa lalu. Sosok Arnold sebagai terminator, salah satu ikon sinema terbesar, kini sudah terlalu tua dan “usang”. Satu lagi, ilustrasi musik Terminator yang menjadi salah satu kekuatan dua seri awal sama sekali tidak bisa kita rasakan dalam filmnya.

Terminator Genisys sama gagalnya dengan seri ketiga dan keempat. Entah ini sekuel atau reboot tidak ada bedanya. Plotnya yang rumit membuat semuanya menjadi tidak jelas. Penonton yang sudah fasih dengan film pertama dan kedua bisa jadi masih kebingungan apalagi yang sama sekali belum pernah menonton. Terminator Genesys sesekali membawa kita pada nostalgia masa lalu, namun tidak mampu membawa unsur ketegangan serta adegan aksi superior yang membuat seri pertama dan kedua begitu istimewa. “I’ll be back”, kata sang Terminator, kita bisa menjawab, “Don’t come back”.

baca juga review Terminator 1 & 2 disini

 

Movie Trailer

https://www.youtube.com/watch?v=62E4FJTwSuc

PENILAIAN KAMI
Total
20 %
Artikel SebelumnyaJurassic World Tembus US $1 milyar dalam 12 Hari!
Artikel BerikutnyaTom Holland adalah Spiderman MCU
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.