The 5th Wave (2016)

112 min|Action, Adventure, Sci-Fi|22 Jan 2016
5.2Rating: 5.2 / 10 from 124,444 usersMetascore: 33
Four waves of increasingly deadly alien attacks have left most of Earth in ruin. Cassie is on the run, desperately trying to save her younger brother.

Sejak sukses The Hunger Games beberapa tahun silam, genre fiksi ilmiah remaja (young adult sci-fi) memang tengah panas-panasnya, hingga muncul franchise sejenis seperti, Divergent dan The Maze Runner. Diadaptasi dari novel berjudul sama, The 5th Wave, tidak seperti franchise lainnya mencoba peruntungannya dengan menggunakan makhluk luar angkasa sebagai premisnya. Kisahnya terfokus pada karakter Cassey Sullivan (Chloe Grace Moretz), seorang remaja SMU yang tengah bahagia-bahagianya menjalani masa remaja. Kedatangan ratusan pesawat ruang angkasa ke bumi merubah segalanya. Mereka tidak langsung begitu saja menghabisi penduduk bumi namun melakukannya secara bertahap, mematikan mesin dan listrik, gempa dan tsunami besar, wabah penyakit, dan seterusnya. Kisahnya terfokus hanya pada Cassey dan adiknya bagaimana mereka bertahan hidup di tengah situasi serba sulit.

Awal kisahnya menjanjikan sesuatu yang menarik, dengan tempo cepat cerita bergerak mempersingkat waktu sejak sebelum kedatangan alien hingga munculnya gelombang pertama, kedua, dan seterusnya. Cerita berubah menjadi lambat dan membosankan justru ketika inti cerita mulai berjalan, yang terfokus pada karakter Cassey dan adiknya. Pengembangan konflik cerita pun sama sekali tidak menarik dan tidak masuk akal. Satu kelemahan besar plotnya adalah kurangnya penjelasan latar cerita sehingga menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Jika komunikasi dengan alien tidak pernah terjadi darimana umat manusia tahu itu adalah gelombang bencana yang datang dari mereka, dan bagaimana pula mereka bisa tahu hanya ada lima gelombang? Entah cerita aslinya dari novelnya seperti ini memang masih belum jelas namun yang tidak bisa saya mengerti adalah mengapa tidak mereka habisi saja umat manusia dalam sekali gelombang. Terbukti mereka jelas punya kemampuan untuk itu. Mengapa buang-buang waktu dan tenaga.

Baca Juga  Five Feet Apart

Kelemahan cerita diatas sudah cukup membuat film ini sama sekali tidak layak tonton. Di luar premisnya yang menarik, The 5th Wave memiliki pengembangan cerita yang sangat lemah serta tidak menawarkan sesuatu yang baru, dan untuk genre sejenis, film ini adalah yang terburuk. Film ini tampak banyak memiliki kemiripan plot dengan film-film populer lain. Efek visual yang biasanya menjadi andalan film sejenis, sama sekali tidak ada yang menarik dan sudah sering kita lihat dalam film-film lain. Konon The 5th Wave adalah awal dari trilogi bagi dua film berikutnya. Saya pikir kita tidak perlu gelombang berikutnya. This is done.

Watch Video Trailer

PENILAIAN KAMI
Overall
10 %
Artikel SebelumnyaNominasi Academy Awards 2016 – Kejayaan Film Fiksi Ilmiah
Artikel BerikutnyaThe Hateful Eight
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. Awalnya keren, cukup membuat penasaran. Terusannya jadi “apa banget”, emosi nya jugak nggak dapet, jadi semacam twilight, tapi yg ini alien setengah manusia. Dan menurutku film The 5th wave ini, action tanggung, sci-fi romantis2 khayalan banget yg kental akan bullshit nya yg bikin enek (menurut aku yaa). Kalo buat nonton di bioskop Not Recommended. Sorry…

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses