The Angry Birds Movie (2016)

97 min|Animation, Action, Adventure|20 May 2016
6.3Rating: 6.3 / 10 from 104,696 usersMetascore: 43
When an island populated by happy, flightless birds is visited by mysterious green pigs, it's up to three unlikely outcasts to figure out what the pigs are up to.

Siapa yang tak kenal aplikasi games Angry Birds. Sudah pasti film animasinya ini dinanti oleh para fansnya khususnya anak-anak dan remaja. Rovio Entertainment, perusahaan pencipta games Angry Birds bekerja sama dengan Sony Pictures Imageworks (SPI) untuk memproduksi film animasi layar lebarnya ini. SPI sendiri lebih dikenal sebagai pembuat efek visual film-film besar seperti seri Spiderman, Narnia, dan lainnya serta membuat film-film produksi Sony Picture Animation, seperti seri Cloudy with s Chance of Meatball dan The Smurf.

         Di sebuah pulau terpencil hidup harmonis berbagai ras burung yang tak dapat terbang. Dikisahkan Red adalah seekor burung yang bertemperamental tinggi dan ulahnya membuat ia dihukum mengikuti sesi terapi untuk mengontrol amarahnya. Disana ia bertemu dengan Chuck, Bomb, Terence, serta mentornya, Matilda. Ketika kaum babi datang dipimpin oleh Leonard, Red mencium niat buruk mereka namun diacuhkan oleh bangsanya. Ketika niat buruk kaum babi benar-benar menjadi kenyataan, Red mengajak seluruh kaumnya untuk mengeluarkan amarahnya untuk menyerbu kaum babi.

        Plot filmnya jelas berbeda dengan game-nya. Latar cerita serta penokohan karakter yang lebih diutamakan disini. Polah konyol Red, Bomb, dan Chuck adalah yang dominan tampak di film ini. Sesekali banyolan mereka memang mengundang tawa namun memang film ini lebih pas ditujukan untuk penonton anak-anak. Banyak banyolan terasa garing dan hanya aksi-aksi slapstick ringan yang pastinya tidak terlalu mengena penonton dewasa. Satu usaha banyolan sinematik mengutip film horor legendaris, Shining, ketika Red membuka sebuah pintu, tidak ada poin banyolan yang jelas disini. Kisahnya sendiri terlalu lambat menuju klimaks dan sebuah penantian yang cukup membosankan sebelum masuk babak ketiga. Semua orang pasti menanti aksinya dan itu pun tidak greget seperti yang dibayangkan.

Baca Juga  Love in the Villa

        The Angry Birds Movie semata hanya menempel pada popularitas game-nya tanpa menawarkan sesuatu yang baru untuk genrenya namun sesuai untuk target penontonnya (anak-anak). Film animasi ini memang secara cerita dan teknis masih jauh dari level film-film produksi Pixar, Disney Animation, atau Dreamworks Animation namun popularitas game-nya sepertinya bisa mengangkat filmnya untuk bisa mendulang sukses komersil. Pesan filmnya jelas sudah tertulis gamblang pada judulnya, sesekali bolehlah kita marah untuk mengatasi sebuah masalah or is it not? Jika mau menonton cukup nikmati saja polah Red, Chuck, dan Bomb.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaMidnight Special
Artikel BerikutnyaMarvel Movies Update!
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.