Movie Poster
Movie Poster

Sutradara: Peyton Reed
Produser: Kevin Feige
Penulis Naskah: Edgar Right/Joe Cornish
Pemain: Paul Rudd/Michael Douglas/Evangeline Lilly/Corey Stoll/Michael Pena
Sinematografi: Russel Carpenter
Editing: Dan Lebental/Colby Parker Jr.
Ilustrasi Musik: Christophe Beck
Studio: Marvel Studios
Distributor: Walt Disney Studios
Durasi: 117 menit
Bujet: US$ 130 juta

The Ant-Man adalah film keduabelas dari Marvel Cinematic Universe (MCU). Setelah sebelas film yang melelahkan yang dibangun sejak tujuh tahun lalu, Marvel kali ini menggunakan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan film-film sebelumnya. Film ini mengisahkan Scott Lang seorang pencuri kelas wahid yang baru saja lepas dari penjara San Quentin. Scott yang berusaha untuk hidup normal agar bisa kembali bertemu putrinya selalu gagal karena status mantan napi. Suatu ketika ia dipaksa kembali untuk beraksi mencuri isi brankas seorang ilmuwan tua. Tak disangka ini menjadi awal dari petualangan Scott menjadi seorang superhero.

Tidak seperti film-film MCU sebelumnya, The Ant-Man menawarkan sesuatu yang berbeda dari sisi cerita, sebut saja Iron Man, Thor, dan Captain America yang sangat kuat mengisahkan latar belakang (eksposisi). Banyak karakter penting terlibat disini, Scott, Hank Pym dan putrinya, Hope, lalu Daren Cross dan Pym Tech, mantan istri dan putri Scott, tiga rekan kriminal Scot, serta lainnya. Alhasil eksposisi cerita film menjadi terkesan lemah karena latar belakang sosok orisinil Ant Man kurang tergali. Contoh saja, tidak jelas bagaimana cara Hank bisa mengontrol serangga begitu banyak sekaligus. Tapi ini memang bukan inti alur kisahnya. Karakter Hank Pym (Douglas) menjadi kunci serta penyatu cerita. The Ant-Man lebih pada cerita hubungan guru dan murid. Penampilan Paul Rudd dan Douglas yang sangat baik memudahkan cerita berjalan mulus. Kisahnya pun tidak dituturkan serius namun penuh dengan sentuhan komedi.

Baca Juga  I Came By

Sepertiga akhir filmnya yang didominasi aksi menjadi klimaks yang sangat mengasyikkan ditonton. Tokoh Luiz yang diperankan amat kocak oleh Pena serta dua rekannya, Dave dan Kurt, memberi warna komedi yang jarang ada di film-film MCU dan mereka membuat film ini menjadi lebih hidup. Pencapaian CGI yang meyakinkan juga mampu membawa penonton ke dunia mini layaknya semut. Bermain-main dengan teknologi yang mampu membuat ukuran mini dan sebaliknya membawa pada serangkaian aksi seru yang dijamin belum pernah kita lihat sebelumnya di film-film superhero. Sedikit kejutan pada satu adegan “sub atomik” di akhir cerita serta penggunaan teknik montage sequence baru (proses Luiz membeberkan info dengan sinkronisasi vokal) membuat film ini semakin komplit.

Ant-Man membuktikan jika ukuran bukan masalah. Didukung belasan kasting yang bermain menawan, film ini tergolong lengkap memberikan hiburan dari sisi aksi, drama, komedi, serta sisi kehangatan keluarga yang tidak tampak di film-film MCU lainnya. Film ini memang tidak satu tingkat bersama Iron Man dan Captain America namun mampu memberi warna yang berbeda pada MCU. The Ant-Man sejauh ini adalah film MCU yang paling menghibur, khususnya dari sisi komedi. Seperti sudah menjadi tradisi film-film MCU, selepas ending jangan sampai melewatkan dua adegan pendek, mid dan post credit scene, khususnya yang terakhir, tiga karakter besar ada disana, dan sepertinya ini memberikan informasi penting untuk film Captain America: Civil War yang rilis tahun depan.

MOVIE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Total
80 %
Artikel SebelumnyaThe Gallows
Artikel BerikutnyaUniversal Studios pecahkan rekor dengan US $5 Milyar!
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.