The Avengers (2012)
143 min|Action, Sci-Fi|04 May 2012
8.0Rating: 8.0 / 10 from 1,531,736 usersMetascore: 69
Earth's mightiest heroes must come together and learn to fight as a team if they are going to stop the mischievous Loki and his alien army from enslaving humanity.

Mumbutuhkan waktu yang cukup lama dan penuh kesabaran hingga akhirnya proyek The Avengers diproduksi. Iron Man (2008) terhitung adalah proyek pertama, berlanjut The Incredibles Hulk(2008), lalu Iron Man 2 (2010), Thor (2011), dan terakhir Captain America: The First Avenger(2011). Dalam masing-masing film memiliki petunjuk (salah satunya melalui posh credit scene) yang saling menghubungkan superhero-superhero ini, mengisyaratkan bahwa mereka ada di dunia cerita yang sama atau sering diistilahkan Marvel’s Universe.

Masing-masing superhero memiliki ciri, karakter, dan personanya, yang jelas tidak mudah untuk menggabungkan mereka dalam satu film, namun terbukti The Avengers mampu melakukan ini dengan sangat baik. Namun banyaknya karakter utama dan semua harus dibagi dalam porsi yang sama membuat film ini harus mengorbankan kedalaman cerita. Kita memang sudah mengetahui latar belakang masing-masing superhero dari film-film mereka sebelumnya, lalu apa lagi yang dibutuhkan film ini? Jawabnya jelas musuh yang jauh lebih kuat dari mereka. Musuh yang lebih kuat bakal menjamin munculnya aksi-aksi pertempuran maha hebat dan seru. Ini adalah hidangan utama yang ditawarkan The Avengers.

Karakter dan sikap yang konsisten dari tokoh-tokoh utama (film-film sebelumnya) dalam pengembangan cerita filmnya juga patut mendapatkan acungan jempol. Sungguh menarik melihat para superhero ini bertengkar mulut ketimbang beradu otot. Sisi manusiawi mereka justru tampak disini. Tidak mudah memasukkan unsur humor dengan karakter, gaya, dan sifat mereka yang berbeda dan eksentrik namun The Avengers dapat melakukannya dengan sempurna. “Pakai kostummu dan kita selesaikan secara jantan” ujar Rogers pada Starks. “Puny God” ujar Hulk pada Loki. Celotehan serta ejekan ringan satu sama lain nyaris tampak sepanjang filmnya dan selalu mengundang tawa penonton. Unsur humor menjadi menu kedua yang ditawarkan The Avengers.

Baca Juga  What’s Love Got to Do with It?

Aspek sinematografi sedikit berbeda dari film-film sebelumnya. Kamera hampir tidak pernah statis dan dengan dukungan editing cepat selalu bergerak dengan dinamis melalui sudut-sudut yang kadang ekstrem bahkan hingga kamera berputar 180 derajat. Ilustrasi musik dibesut oleh Alan Silvestri yang juga membuat score untuk Captain America. Tidak heran jika tone musiknya sepanjang film nyaris mirip dengan score Captain Amerika. Masing-masing film sebelumnya memiliki tema musik yang khas, sayang hal ini tidak tampak disini. Bicara efek visual, sepertinya tidak perlu banyak komentar, just enjoy the spectacle!

The Avengers bakal menjawab semua apa yang diinginkan penonton. Aksi-aksi menawan nan memesona, komedi, sedikit drama, dengan dukungan penampilan yang karismatik para aktor dan aktrisnya. Jika Anda sabar sedikit menunggu ada scene tambahan di kredit penutup yang mengisyaratkan musuh para jagoan kita kelak. The Avengers memang tidak memiliki kualitas film-film superhero, seperti The Dark Knigth atau Spiderman 2, namun boleh dibilang film ini adalah film superhero yang paling menghibur yang pernah diproduksi. Tidak heran jika film ini bakal menjadi film superhero terlaris tahun ini.

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaLovely Man
Artikel BerikutnyaAphicatpong Weerasethakul : Dalam Perbincangan
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. Mank bro, score-nya Silvestri kentel banget nuansa Captain America: The First Avenger, tapi keren banget theme song-nya!!! 😀

    Oh ya, kapan2 main ke Blog w juga ya, thx

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses