The BFG (2016)

117 min|Adventure, Family, Fantasy|01 Jul 2016
6.3Rating: 6.3 / 10 from 92,931 usersMetascore: 66
An orphan little girl befriends a benevolent giant who takes her to Giant Country, where they attempt to stop the man-eating giants that are invading the human world.

Steven Spielberg beberapa dekade lalu bisa dibilang tidak memiliki lawan. Dari Jaws, E.T, seri Indiana Jones, Jurrasic Park, Schindler’s List, Saving Private Ryan, hingga Jurrasic Park membuktikan bahwa ia adalah sutradara handal film berbagai genre dan tahu benar apa yang diinginkan penonton. Beberapa filmnya pada dekade ini masih memperlihatkan kepiawaian sang sineas namun sepertinya gayanya sudah terlalu lawas. Bridge of Spies, film terakhirnya, sukses secara kritik dan komersil sekalipun sudah tidak lagi seperti masa jayanya dulu. Melalui film terbarunya, The BFG, Spielberg mengadaptasi novel era 80-an karya Roald Dahl, dan hasilnya ternyata mengecewakan.

Akisah Sophie, seorang bocah perempuan yatim piatu secara tak sengaja melihat seorang raksasa di saat imsonia pada dini hari. Sophie dibawa sang raksasa ke negeri raksasa. Di sana Sophie lebih mengenal sosok raksasa, yang memiliki nama BFG (Big Friendly Giant) yang ternyata suka menangkap “mimpi”. Sementara di negeri tersebut terdapat raksasa lain yang ternyata menyukai daging manusia dan mereka mulai mengendus kehadiran Sophie.

Entah apa seperti apa novelnya namun faktanya film ini membosankan setengah mati. Sejak awal kisahnya seolah tidak memiliki tujuan yang jelas dan setelahnya kisahnya justru makin tak jelas. Sebenarnya untuk apa BFG menangkap mimpi. Raksasa-raksasa lain yang malang juga tidak memiliki tujuan yang jelas dan rasanya juga tidak mengancam umat manusia selain Sophie yang secara sengaja dibawa kesana. Kondisi disana sebenarnya baik-baik saja dan tidak ada pihak manapun yang terancam. Plot akhir menyangkut Ratu Inggris juga rasanya aneh dan sama sekali tidak bermotif. Entah bagaimana semuanya serba tak jelas dan membingungkan.

Baca Juga  Bus 657

Rylance jelas dipilih karena perannya yang gemilang di Bridge of Spies namun sekalipun ia bermain baik tidak mampu mengangkat filmnya. Demikian pula dengan si cilik Ruby Barnhill juga bermain sangat baik sebagai Sophie. Efek visual juga terlihat amat artifisial pada tokoh-tokoh raksasa dan latar di negeri raksasa. Ilustrasi musik garapan kolaborator tetap Spielberg, John Williams, sekalipun sempurna tetap tidak mampu mengangkat filmnnya.

The BFG masih memiliki sisa-sisa kejayaan Spielberg namun tema filmnya sudah terlalu kuno untuk penonton masa kini. Spielberg harus mencoba formula lain untuk mendekati penonton modern. Tiga tahun ke depan ia masih produktif sebagai sutradara termasuk proyek Indiana Jones 5 di tahun 2019. Kita lihat apakah Spielberg, sang legenda, mampu bersaing dengan sineas-sineas yang lebih muda?

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaDon’t Breathe
Artikel BerikutnyaIni Kisah Tiga Dara
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.