The Circle (2017)

110 min|Drama, Mystery, Sci-Fi|28 Apr 2017
5.4Rating: 5.4 / 10 from 103,771 usersMetascore: 43
A woman lands a dream job at a powerful tech company called the Circle, only to uncover an agenda that will affect the lives of all of humanity.

The Circle adalah film drama fiksi ilmiah yang digarap oleh James Ponsoldt diadaptasi dari novel berjudul sama, karya Dave Eggers. Dengan bujet hanya US$18 juta, namun film ini dibintangi aktor-aktris besar, macam Tom Hanks, Emma Watson, serta John Boyega. Walau bukan termasuk film unggulan musim panas ini, namun nama-nama besar ini rasanya bisa menarik penonton ke bioskop. Lantas bagaimana dengan pencapaian film ini sendiri?

The Circle adalah sebuah perusahaan internet terbesar di dunia pimpinan Eamon Bailey dan Tom Stenton. Eamon dan Tom memperkenalkan teknologi baru mereka yang mampu mempersempit dunia ini dengan mini kamera canggih yang mampu merekam dan menganalisa apapun di segala tempat. Mae Holland adalah seorang karyawan baru yang karirnya menanjak cepat dan pada sebuah momen, Mae menarik perhatian Eamon dan Tom. Mae dilibatkan dalam sebuah proyek besar yang ia sendiri tidak menyadari resiko yang bakal ia terima.

Tema filmnya memang tengah panas-panasnya kini. Sosial media adalah satu hal yang menjadikan dunia ini menjadi kian sempit. Teknologi canggih yang kian global dan mudah diakses publik berbanding terbaik dengan privasi yang dimiliki tiap individu. Ibaratnya, dari kamar tidur pun semua orang di dunia bisa mengakses aktifitas kita. Film dengan tema macam ini memang tidak lagi baru. Satelit canggih yang bisa mengawasi apapun sudah sering kita lihat dalam film. Resiko sosmed sudah tampak dalam film aksi thriller remaja, Nerve. Lalu apa yang baru dalam The Circle? Nyaris tidak ada. Ide besar yang diusung filmnya tidak mampu diangkat dengan baik oleh kisahnya. The Circle terasa tanggung, dengan bujetnya yang minim, pembuat film tidak berani berjudi dengan menawarkan sesuatu yang lebih ekstrem.

Baca Juga  The Seed of the Sacred Fig

Dengan premis yang menarik, The Circle mengawali filmnya dengan baik, namun konflik yang ditunggu-tunggu (act II) seperti tak kunjung tiba. Sepanjang film terasa datar dan sangat membosankan. Tone filmnya terasa seperti film dokumenter. Satu hal yang sangat mengesalkan adalah kita sudah tahu film ini bakal mengarah kemana. Dan benar saja, ketika konflik terjadi, kita berharap sesuatu yang lebih dari kisahnya. Namun, apa yang terjadi? Nothing. Tidak ada apa-apa sama sekali. Tidak ada ketegangan sama sekali. Lusinan kisah film senada, ditampilkan lebih baik dari ini, bahkan film medioker, seperti Nerve sekalipun.

Seperti judulnya, The Cirle mengusung tema besar pada era modern ini, namun naskah serta kemasan sinematiknya tidak mampu mengarahkan film ini ke mana pun. Eksplorasi dan pengembangan cerita yang lemah menjadikan kisahnya tidak menggigit sama sekali. Bintang senior sekelas Tom Hanks tetap tidak mampu mengangkat filmnya, sekalipun ia tampil baik. Emma Watson? Tampak sekali, film ini adalah satu show besar untuk dirinya yang kini memang tengah bersinar. Dengan aksen Amerika yang sedikit janggal di telinga tetap tidak menutup talenta sang aktis yang sebenarnya memang berbakat jika mendapat naskah yang lebih baik. John Boyega? Hanya sekedar muncul tanpa apapun yang menarik dari tokohnya. Dengan bujetnya, rasanya film ini masih bisa menarik penonton cukup untuk membuat keuntungan yang berlipat. The job is done.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaThe Fun Guardians of the Galaxy Vol.2
Artikel BerikutnyaFree Fire
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses