the conjuring last rites

The Conjuring: Last Rites adalah film ke-9 dari semesta The Conjuring dan sekuel ketiga dari seri The Conjuring. Seperti seri ketiga, Last Rites digarap oleh Michael Chaves yang juga menggarap The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) dan The Nun II (2023). Film ini masih dibintangi dua reguler utamanya, Patrick Wilson dan Vera Farmiga dengan didampingi Mia Tomlinson, Ben Hardy, Rebecca Calder, serta Elliot Cowan. Akankah sekuelnya kali ini mampu mengembalikan pamor serinya?

Ed (Wilson) dan Lorraine (Farmiga) Warren kini telah pensiun dari aktivitas pengusiran iblis dikarenakan kesehatan Ed yang semakin menurun. Putri mereka yang telah beranjak dewasa, Judy (Tomlinson) kini telah memiliki pacar bernama Tony (Hardy). Di tempat lain, sebuah peristiwa supernatural terjadi setelah seorang kakek membeli cermin untuk hadiah cucunya. Hari demi hari, gangguan terhadap anggota keluarga pun semakin menjadi, hingga viral setelah televisi meliputnya. Awalnya, Ed dan Lorraine menolak untuk mengusutnya. Namun, kasus ini rupanya punya relasi dengan malam kelahiran Judy, puluhan tahun silam.

Plotnya memang sangat familiar bagi serinya dan memiliki kemiripan dengan The Conjuring seri pertama dan kedua. Satu keluarga dihantui oleh sesosok iblis yang akhirnya dibantu pasangan Ed dan Lorraine, dengan embel-embel teks “kasus yang paling berat dihadapi oleh mereka”. Ya, kita tidak boleh lupa bahwa dua karakter ini diinspirasi dari kisah nyata, tetapi tentu tidak untuk detil kasus dan sisi dramatiknya. Lantas apa yang membedakan seri terakhir ini dengan sebelumnya? Jawabnya adalah sentuhan drama serta relasi antara Ed dan Lorraine dengan putri mereka.

Walau kita telah diperkenalkan karakter Judy cilik sebelumnya (The Conjuring 1 dan 2, Annabelle Comes Home), tetapi kita tidak pernah mengenal tokoh ini secara mendalam. Satu hal yang kita tahu, ia dapat merasakan kehadiran entitas gaib seperti sang ibu. Dalam plot Last Rites, Judy adalah penyebab kausalitas seluruh kejadian dalam kisahnya. Masa kelam orang tuanya ketika melahirkan Judy (di momen saat menghadapi satu kasus supernatural) membuat Ed dan Lorraine menghindar dari kasus tersebut. Kini mereka harus kembali menghadapi iblis dari masa lalunya, dan sang ibu harus menerima kenyataan bahwa sang putri punya kemampuan seperti dirinya. Semua ini mampu dikemas apik dalam naskahnya. Penampilan tiga kasting utamanya juga turut mendukung keberhasilan film ini.

Baca Juga  Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Lantas bagaimana pencapaian estetiknya? Michael Chaves telah menarik perhatian sang produser, James Wan dan Peter Safran, sejak The Curse of La Llorona (2019), melalui kepiawaiannya dalam mengolah trik horor. Baik The Conjuring 3 maupun The Nun 2 yang digarapnya, memang tidak banyak penyegaran trik horor yang dilakukan, begitu pun Last Rites. Trik horor, khususnya jump scare tidak sulit untuk diantisipasi. Bagi penikmat horor bisa jadi Last Rites bukan lagi horor yang menakutkan atau mengagetkan. Namun yang menjadi kekuatan adalah intensitas ketegangan. Sang sineas cukup cerdik memanfaatkan trik-trik kecil untuk menambah kejutan, seperti pada adegan di kamar kaca. Adegan klimaksnya, bagi saya, adalah salah satu segmen terbaik dalam semesta serinya.

Sekuel terbaik sebagai penutup serinya, The Conjuring: Last Rites, memiliki naskah solid dengan family value yang kuat, serta segmen klimaks intens yang menghibur. The Conjuring (2013) arahan James Wan hingga kini masih tercatat sebagai yang terbaik dalam semesta sinematiknya. Sineas bertalenta, David F. Sandberg melalui Annabelle Creation (2017) juga menambah sentuhan jump scare segar dalam serinya. Sementara The Nun memiliki set artistik dan production value yang sangat memukau. Masing-masing fans tentu memiliki film favoritnya. Kini, fase pertama The Conjuring telah rampung. Entah apa lagi yang ingin ditawarkan dalam kisah lanjutannya. Kisah petualangan Ed dan Warren bisa jadi telah kelar, tetapi mereka meninggalkan ratusan artifak keramat yang menarik untuk digali. Kita tunggu saja.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaBayar Tiket Bioskop: Dari Tunai hingga Digital
Artikel BerikutnyaHow to Be Normal and the Oddness of the Other World – Festival Film 100% Manusia 2025
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses