Sebagai sebuah pabrik, Hollywood membutuhkan bahan mentah berupa cerita yang bakal diolah jadi skenario, lalu difilmkan sutradara. Bahan mentah itu bisa dari cerita asli karangan sang penulis skenario maupun diambil dari materi lain, entah novel, naskah drama, komik, serial TV, bahkan artikel di koran atau majalah.

Contoh sukses adaptasi novel ke film antara lain Harry Potter dan Twilight. Versi filmnya mendatangkan keuntungan luar biasa bagi studio pembuatnya. Namun, cerita novel bisa tamat.  Studio film terkadang tak punya opsi lain kecuali menamatkan juga versi filmnya. Hanya satu, rasanya, hikayat James Bond yang terus hidup walau novelnya tak lagi ditulis Ian Fleming, sang penulis asli. (Omong-omong, komik superhero yang difilmkan juga tak berdasar pencipta awal komiknya, tapi pengembangan dari cerita komik yang terus berlanjut dari hasil kerja banyak penulis.)

Setelah tak mungkin lagi melanjutkan franchise Harry Potter dan Twilight karena materi aslinya sudah tamat, Hollywood mencari novel mana lagi yang bisa diangkat ke layar lebar. Mereka bertaruh, syukur-syukur bisa sesukses dua seri novel tersebut. Yang diincar terutama novel yang sejenis Harry Potter dan Twilight, bacaan yang menyasar pembaca muda-dewasa. Istilahnya, young-adult.  Demografi ini cocok dengan konsumen terbesar bioskop, yakni mereka yang biasa menghabiskan waktu di mall sambil nonton bioskop. Masalahnya hanya satu: tidak semua novel sesukses Harry Potter dan Twilight ketika difilmkan. Eragon, Maze Runner, Divergent, Percy Jackson, The Spiderwick Chronicles, The 5th Wave, atau Lemony Snicket tak meraih sukses box office semasif kisah Harry maupun Bella-Edward ketika difilmkan. Akibatnya, kebanyakan hanya seri pertama novelnya yang difilmkan, lalu seri keduanya tak kedengaran lagi bakal diangkat ke layar lebar atau tidak. Pasca Harry Potter dan Twilight hanya seri novel The Hunger Games yang sukses meraih box-office masif.

Pada kenyataan seperti di atas kita lalu mendudukan The Dark Tower yang diangkat dari novel Stephen King. Aslinya, novel ini telah terbit sejak 1980-an dan merentang hingga delapan seri sampai 2012. King menyebut seri The Dark Tower magnum opus-nya.

Bagaimana filmnya?

Izinkan saya cerita garis besar kisah film The Dark Tower dahulu. Filmnya berfantasi dunia tempat kita hidup berparalel dengan dunia-dunia lain. Seluruh dunia paralel ini tersambung lewat jembatan yang terhubung pada sebuah menara yang menjulang tinggi dan dikatakan sebagai pusat semesta. Di luar menara dan dunia paralel hidup makhluk-makhluk jahat. Nah, menara ini berfungsi menjaga keseimbangan semesta agar makhluk jahat tak bisa masuk.

Namun, ada penyihir jahat berbaju hitam (diperankan Matthew McConaughey) yang ingin meruntuhkan menara tersebut. Di lain pihak ada ksatria penjaga menara, disebut Gunslinger, yang bertugas menjaga keutuhan menara. Hanya tersisa seorang Gunslinger, Roland  (Idris Elba). Lainnya tewas, termasuk ayah Roland, di tangan Walter, si penyihir berbaju hitam.

Walter dan kawanannya menculik anak-anak dan remaja demi menghancurkan menara. Mereka didudukkan paksa pada sebuah bangku lalu dari kepala bocah-bocah itu keluar sinar yang ditembakan seperti Death Star di Star Wars dengan menara sebagai sasarannya. Saat menara diserang keseimbangan dunia terganggu. Bumi, misalnya, dilanda bencana gempa bumi.

Baca Juga  Film Lebaran 2018, Cermin Kualitas Film Kita?

Nah, di Bumi tinggal remaja tanggung bernama Jack Chambers (Tom Taylor) yang mendapat penglihatan alam lain dunia paralel berupa menara, Gunslinger dan pria berbaju hitam. Kontan ia jadi buruan Walter dan kawanannya. Jack lari hingga ke dunia lain tempat Roland tinggal. Keduanya lalu berhadapan dengan sang penyihir berbaju hitam.

Hitung-hitungan Untung Rugi

Cukup sampai di situ saja ceritanya. Saya tak mau merusak kenikmatan orang yang mungkin ingin menonton filmnya. Yang mau saya bincangkan pendekatan yang digunakan film ini. Menonton filmnya, terasa betul yang hendak disasar jenis penonton yang tempo hari terpikat pada Harry Potter, Twilight dan The Hunger Games. Artinya, The Dark Tower sekadar menambah daftar panjang jenis film adaptasi untuk kaum young-adult. Artinya pula, tak ada yang spesial lagi yang ditawarkan film ini dari segi pengisahan.

Itu mungkin sebabnya, dari sisi box-office totalnya film ini baru meraup uSD 88 juta, hanya untung tipis dari ongkos produksi USD 60 juta. Nama besar Matthew McConaughey dan Idris Elba belum mampu mengangkat pamor ini. Begitu juga dengan aktor anyar Tom Taylor. Ia harus menerima nasib batal seterkenal Daniel Radcliffe atau Robert Pattinson.

Hm, sebetulnya, bagi saya, studionya sendiri, Sony Pictures, sejak awal tak ingin bertaruh habis-habisan di film ini. Tengok saja bujetnya. Angka USD 60 juta terbilang rendah untuk film yang dirilis musim panas. Beda betul dengan Spider-Man: Homecoming, produksi patungan Disney dan Sony, yang diongkosi USD 175 juta.

Hasil dari ongkos produksi USD 60 juta itu kelihatan pula dari production value The Dark Tower. Efek visual filmnya tak lebih mewah dari serial TV bikinan HBO atau Netflix. Setting memadukan dunia western dengan kisah fantasi di The Dark Tower mengingatkan pada serial Westworld, bagi yang tak mengakrabi novelnya. Artinya, lagi-lagi secara visual pun The Dark Tower biasa-biasa saja.

Maka, yang dihasilkan pun, baik secara box office maupun tanggapan kritikus film (mendapat skor buruk 16 persen di Rotten Tomatoes), tak maksimal.

Versi film yang diangkat Nikolaj Arcel–sebuah nama yang kurang dikenal di Hollywood–menjadi bukti studio yang berinvestasi ala kadarnya menghasilkan film yang ala kadarnya pula. Studionya tampak bermain aman dan memainkan prinsip ekonomi: agar tak rugi terlau besar, jangan keluarkan modal besar.

Bagi saya hal itu bukan untuk disalahkan. Itu pilihan ekonomi Sony. Produser Sony tentu telah mengkalkulasi semuanya. Dengan materi cerita young-adult yang telah jamak, sutradara kurang dikenal, aktor remaja tak kharismatis, plus efek visual biasa-biasa saja sepatutnya jangan berharap untung besar. Kalaupun itu terjadi, anggaplah bonus. Dan nyatanya itu tak terjadi. Jadi, sesungguhnya, menurut saya, apa yang dihasilkan The Dark Tower sudah sesuai kalkulasi mereka.

Masalahnya kini, dengan angka box-office dan tanggapan kritikus macam di atas, apakah Sony bakal melanjutkan mengadaptasi seri The Dark Tower ke layar lebar? Hitungan-hitungan ekonomi harus dilakukan dengan cermat kembali.***
WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaBad Genius
Artikel BerikutnyaCaptain Fantastic
Ade Irwansyah
Kontributor Montasefilm.com, bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Bukunya yang sudah terbit “Seandainya Saya Kritikus Film” (Homerian Pustaka, Yogyakarta), rilis 2009.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini