The Equalizer 2 (2018)
121 min|Action, Crime, Thriller|20 Jul 2018
6.7Rating: 6.7 / 10 from 200,314 usersMetascore: 50
Robert McCall serves an unflinching justice for the exploited and oppressed, but how far will he go when that is someone he loves?

Walau The Equalizer tak sukses besar, namun sekuelnya tetap berlanjut, The Equalizer 2. Sang sineas, Antoine Fuqua yang menggarap seri pertama, kembali menggarap sekuelnya, serta pula menandai kolaborasi keempatnya bersama sang aktor, Denzel Washington. Uniknya, ini juga pertama kalinya sang bintang bermain dalam sebuah film sekuel dari film yang dibintanginya. Beberapa pemain di film pertama juga muncul kembali seperti Bill Pulman dan Melissa Leo. Kisah film tentang penegak keadilan yang bertindak di luar hukum sudah terlalu banyak, termasuk film pertamanya, apa lagi yang mau ditawarkan sekuelnya?

Robert McCall kini tinggal di sebuah apartemen di Kota Massachusets dan hobi lamanya sebagai seorang “penegak hukum” liar masih ia lakukan, dengan membantu secara diam-diam warga kota yang menjadi korban tindak kriminal atau kekerasan. Rekan lamanya di CIA, Susan, yang kini masih aktif, masih saja terus mengajaknya untuk bekerja kembali, namun tentu ditolak oleh McCall. Masalah bermula ketika Susan terlibat satu kasus pelik yang merenggut nyawanya. McCall pun tak bisa tinggal diam.

Setelah satu segmen aksi pembuka di Turki, cerita filmnya dibuka dengan manis menggambarkan bagaimana keseharian McCall sebagai supir taksi online, yang sekaligus menjadi pelindung warga kota yang menumpang mobilnya. Satu montage yang disajikan menawan, menggambarkan berapa banyak orang yang telah ditolong McCall. Ya, film pertamanya telah menggambarkan ini semua, dan montage ini sekaligus merupakan tribute untuk seri TV-nya.

Satu hal yang menarik, sekuelnya kini tidak lagi menggunakan pola plot yang sama dan tidak ingin terjebak dalam konflik yang sama pula. Alur kisahnya, sejak awal seolah melebar ke banyak arah. Hubungannya dengan Miles, pemuda berbakat seni yang masih labil, Si tua Sam yang mengeluh karena ia berpisah dengan adik perempuannya semasa Holocaust, lalu juga sisi masa lalu McCall yang kelam bersama mendiang sang istri, kini juga disinggung.

Baca Juga  Force of Nature

Sementara kasus Susan menjadi inti plot sesungguhnya. Beberapa subplot di atas seolah lepas dari kisah utamanya, namun secara mengesankan semuanya bersinggungan dengan plot utama. Arah cerita film menjadi tak terduga. Twist cerita menjelang akhir serta aksi mengagumkan di penghujung film, rupanya disimpan untuk memberikan kejutan pada penonton.

Denzel kembali menjadi kunci keberhasilan filmnya. Ia memasang muka ramah dan tersenyum pada orang-orang di sekitarnya, tapi berubah drastis menjadi sosok yang garang dan dingin ketika berhadapan dengan para kriminal. Namun, sosoknya yang terlalu pede dan tanpa tanding ini pula yang menjadi kelemahannya. Seperti halnya film-film aksi yang dibintangi Steven Seagal, McCall tampak tak memiliki kelemahan, dan layaknya superhero, ia bisa menghabisi lawan-lawannya tanpa kesulitan. Rasanya memang ini bukan masalah bagi kebanyakan penonton.

The Equalizer 2 adalah sebuah sekuel segar yang menampilkan kemasan cerita berbeda walau unsur aksi, misteri, dan ketegangannya kini tak sebaik film pertamanya. Sekuelnya kini memang tak lagi mengumbar adegan aksi dan ketegangan seperti sebelumnya, dan ini jelas sebuah pertaruhan besar secara komersial. Walau film pertama memang lebih menghibur, namun usaha untuk tidak menggunakan formula kisah yang sama patut kita acungi jempol. Bisa kamu bayangkan jika Denzel beraksi tipikal dan repetitif seperti halnya Liam Nesson dalam seri Taken dan film lainnya. Jika kamu suka, jelas ini bukan filmmu.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaEiffel… I’m in Love
Artikel BerikutnyaDOA (Doyok – Otoy – Ali Oncom): Cari Jodoh
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.