the fantastic four first step

Tim superhero Fantastic Four (F4) telah berulang kali diproduksi, yakni 3 film, dua seri awal dan satu reboot-nya. Marvel sebagai kreatornya, akhirnya bisa mengambil-alih kembali hak cipta yang kini bisa diselipkan dalam Marvel Cinematic Universe (MCU). The Fantastic Four: First Step digarap oleh Matt Shakman yang juga menggarap satu seri MCU, WandaVision. Film ini dibintangi oleh Pedro Pascal, Vanessa Kirby, Ebon Moss-Bachrach, Joseph Quinn, Julia Garner, Natasha Lyonne, Paul Walter Hauser, hingga Ralph Ineson. Bermodal bujet lebih dari USD 200 juta, akankah F4 mampu menyelamatkan MCU dari tren buruk tahun ini?

Jauh di luar dimensi semesta superhero yang kita tahu, Planet Bumi di bawah pengawasan satu tim superhero tangguh berjulukan Fantastic Four yang beranggotakan Reed Richards (Pascal), Sue Storm (Kirby), Ben Grimm (Bachrach), serta Johnny Storm (Quinn). Selama beberapa tahun, mereka melindungi bumi dari marabahaya, dari dalam maupun luar. Hingga suatu ketika, sesosok alien misterius bernama Silver Surfer (Garner) datang memberi tahu warga bumi bahwa kehancuran total tidak bisa terhindarkan oleh entitas bernama Galactus (Ineson). Tim F4 pun berusaha untuk mengantisipasi datangnya bahaya dengan mencoba mendatangi Galactus, tanpa tahu persis siapa yang sesungguhnya mereka hadapi.

Satu yang menjadi pertanyaan besar tentu adalah bagaimana pembuat film memasukkan karakter tim superhero ini ke dalam jalinan kisah MCU. Spider-Man adalah salah satu contoh karakter yang bisa beradaptasi dengan brilian, dengan popularitas seri ini sebelumnya. Bahkan dalam No Way Home, dua seri sebelumnya (Tobey MaGuire dan Andrew Garfiled) pun bisa diselipkan dengan gaya berkelas melalui konsep multiverse. Multiverse menjadi satu motif besar untuk menyelesaikan masalah tanpa masalah. Namun, bukan berarti lantas semua mulus, X-Men hingga kini pun belum mampu teritegrasi secara penuh dengan kisah utama MCU.

Kisah F4 kali ini berdiri terpisah dan belum secara formal menjadi bagian plot dari MCU, walau sekilas telah tampak dalam post credit scene Thunderbold. Satu-satunya yang menjadi penghubung F4 dan MCU hanyalah satu sosok penting yang muncul dalam mid credit scene. Senada Thunderbold, kisahnya terasa hanya sebagai eksposisi besar bagi film Avengers yang rilis tahun depan. Bagaimana kelak mereka bisa terhubung dengan MCU, sama sekali belum disinggung secara lugas. Perjalanan antar-multiverse rasanya bukan konsep yang sulit bagi tokoh secerdas Reed Richards.

Plotnya sendiri tidak terasa baru karena hanya mengulang plot Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer (2007). Walau pengembangannya tentu berbeda, tetapi intinya tetap sama. Pembeda hanyalah pada motif cerita, di mana sang antagonis kini meminta sesuatu yang mustahil diberikan tim F4. Ini yang sedikit memberikan kedalaman dan ancaman bagi kisahnya, hanya pertanyaan besarnya adalah why? Ini tentu tidak bisa dijelaskan dalam tulisan ini (spoiler). Eksposisi yang begitu cepat, membuat kita membutuhkan proses dan waktu untuk berempati dengan tokoh-tokohnya. Namun, F4 di awal mampu memberikan eksposisi ringkas, berupa montage brilian yang menggambarkan sepak terjang mereka, sebelum dan sesudah mereka memiliki kekuatan super.

Baca Juga  Wallace & Gromit: Vengeance Most Fowl

Satu hal menyegarkan bagi MCU adalah visualisasi cerah serta tone warna yang soft. Mau tak mau pembuat film harus membedakan dunia cerita F4 dengan dunia kisah MCU yang telah akrab dengan kita selama ini (berbeda universe). Dalam kisah ini, kita tak tahu persis latar waktunya, namun sungguh menyenangkan melihat kota New York ber-setting modern, tetapi bernuansa klasik. Baik set, properti, tata rias hingga fesyen pun identik dengan era ini. Bahasa bicara pun dengan gaya yang santun dan formal, tanpa ada umpatan atau kata-kata kasar lainnya. Pencapaian CGI rasanya ini adalah salah satu yang terbaik dari seri MCU. Untuk musik, ini adalah untuk pertama kalinya musik tema MCU menggunakan choir yang melantunkan nama mereka, “Fantastic Four!”. Megah sekali. Untuk kastingnya, bisa jadi ini masalah selera, tetapi seri pertamanya di mana Chris Evans ada di dalamnya, terasa masih lebih membekas ketimbang yang sekarang.

The Fantastic Four: First Step adalah reboot segar dari MCU baik visual maupun karakternya, walau kisahnya mengulang seri sebelumnya dan terasa sebagai eksposisi bagi film besar tahun depan. Tinggal sekarang adalah respon penonton. Satu hal yang jelas, film ini terasa lebih menyegarkan dari dua film MCU yang rilis tahun ini. Seperti sudah sering saya katakan sebelumnya. MCU kini berada di zona yang belum pernah disentuh semesta sinematik lainnya. Mustahil untuk bisa selalu berada di atas angin dengan sekian puluh banyak film. Jalinan kisahnya yang panjang dan kompleks punya potensi kekuatan dan kelemahan bagi serinya. Dua film yang rilis tahun ini, kisahnya punya relasi panjang dengan jalinan kisah MCU sebelumnya dan hasilnya pun kurang sukses. Sementara kisah Fantastic Four kali ini benar-benar lepas dari film mana pun. Apakah lantas ini bisa mengangkat kembali pamor MCU?

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaUntamed | REVIEW
Artikel BerikutnyaBelieve: The Ultimate Battle | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses