The Fate of the Furious (2017)

136 min|Action, Crime, Thriller|14 Apr 2017
6.6Rating: 6.6 / 10 from 254,409 usersMetascore: 56
When a mysterious woman seduces Dominic Toretto into the world of terrorism and a betrayal of those closest to him, the crew face trials that will test them as never before.

Seri ke-8 franchise besar, Fast and Furious yang dinanti-nanti fansnya akhirnya rilis dengan titel, The Fate of the Furious. Kali ini sineas kulit hitam, F. Gary Gray menjadi sutradara setelah baru lalu sukses dengan film biografi musik, Straight Outta Compton. Sederetan bintang regulernya masih bermain, seperti Vin Diesel, Dwayne Johnson, Tyrese Gybson, Michelle Rodriguez, Chris Bridges, serta beberapa pendatang baru seperti Jason Statham, Scott Eastwood, Kurt Russel, hingga Helen Mirren.

Dominic bersama istrinya, Letty menjalani masa bulan madunya dengan bahagia, sebelum seorang wanita misterius bernama Cipher, menawarkan sesuatu yang tak mungkin ia tolak. Dalam sebuah misi bersama rekan-rekannya, Dom membelot dan berpihak pada Cipher. Letty, Hobbs, dan rekan-rekannya kini tidak hanya harus menghadapi Cipher, namun juga rekan mereka sendiri. Agen yang juga rekan lama mereka, Frank Petty akhirnya memutuskan untuk merekrut Deckard Shaw, sosok lawan tangguh mereka sebelumnya.

Kita semua tahu bahwa seri ini rasanya tak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan dua seri berikutnya konon sudah dijadwalkan. Franchise Fast & Furious adalah mesin uang yang sangat efektif, terlebih setelah sukses fenomenal seri ke-7 silam yang meraih lebih dari US$1,5 milyar. Sukses ini rasanya banyak dipicu oleh kematian aktor bintang pelopor seri ini, yakni Paul Walker, yang tewas mengenaskan sebelum menyelesaikan seri ke-7. Seperti seri sebelumnya, formula yang digunakan masih sama, dengan musuh dan aksi heboh dan lebih segala-galanya dari seri sebelumnya. Sejak dua seri silam, film ini telah berubah dari aksi kebut-kebutan jalanan menjadi aksi pencurian melalui kerja tim, yang dimulai sejak seri terbaiknya, Fast Five. Seri ke-8 ini boleh dibilang mencoba mencari sesuatu yang baru, namun sekaligus adalah film terburuk dari seri ini.

Kisahnya sangat memaksa dan absurd. Penulis naskahnya, setelah banyak peristiwa dari seri sebelumnya, rasanya mencoba mencari celah cerita baru untuk mereka olah, namun jelas bukan sesuatu yang segar. Motif celah cerita inilah yang membuat Dom membelot. Jika penonton bisa menerima ini, bisa jadi mereka akan menikmati filmnya, namun bagi saya, ini jelas amat memaksa. Segala alasan dibuat, namun tetap saja memaksa. Kita tahu kemana cerita ini akan berakhir setelah motif ini terbongkar, tak ada kejutan sama sekali.

Baca Juga  Long Shot

Sejak dua seri lalu, adegan-adegan aksi tak masuk akal mulai ditampilkan. Ya memang, ini jelas sah-sah saja untuk genrenya, namun setidaknya masih mengindahkan logika, tidak lantas absurd terbang dari satu gedung ke gedung lain. Hal ini semakin menjadi pada seri ini. Pertanyaannya jelas amat sederhana. Jika memang Cipher memiliki kemampuan untuk mengontrol segala hal, termasuk “benda raksasa” di klimaks film, serta memiliki SDM yang cukup, mengapa oh mengapa ia membutuhkan dan susah-susah merekrut Dom sejak awal? Teknologi “remote kontrol” yang dimiliki Cipher-lah yang membuat aksi-aksi dalam seri kali ini berbeda dengan sebelumnya. Jika bisa terima ini semua, jelas Anda bisa menikmati film ini, tetapi jelas bukan penonton seperti saya. Aksinya sangat melelahkan dan membuat frustasi. Jika mau melihat aksi seperti ini, saya tentu lebih memilih film-film superhero Marvel. Mengapa oh mengapa mereka tidak membuat aksinya lebih nyata seperti dalam Fast Five.

Sesuai ekspektasi, seri ke-8, The Fate of Furious, menawarkan sesuatu yang baru serta aksi-aksi hebat yang jauh lebih absurd (baca: konyol) dari dua seri sebelumnya. Namun bukan tidak ada yang menarik dalam seri kali ini. Chemistry antara Hobbs dan Deckard sangat menyenangkan untuk dinikmati, sayangnya tidak ada ending yang manis untuk mereka berdua. Seperti sebelumnya, karakter yang diperankan Chris Bridges dan Tyrese Gibson menjadi sosok pengumbar banyolan, hanya kali ini tanpa kehadiran sosok Brian, banyolan mereka tampak garing. Beberapa sosok baru juga tidak lantas membuat kisahnya lebih menarik. Sebagai penutup, bisa jadi fansnya masih menyukai jenis aksi absurd macam ini, namun bagi saya seri ini sudah mulai memasuki ranah fiksi Ilmiah yang jauh dari esensi genrenya sejak awal. Entah apa lagi besok aksi-aksi yang akan mereka lakukan, melawan Alien mungkin?
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaHEADSHOT: Action Yang Menggemaskan
Artikel BerikutnyaThe Problem with Fast and Furious 8
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.