The Finest Hours (2016)

117 min|Action, Drama, History|29 Jan 2016
6.7Rating: 6.7 / 10 from 70,564 usersMetascore: 58
The Coast Guard makes a daring rescue attempt off the coast of Cape Cod after a pair of oil tankers are destroyed during a blizzard in 1952.

Satu lagi film aksi bencana di laut lepas kali ini didasarkan kisah nyata aksi penyelamatan historis kapal tanker Peddleton yang terbelah dua dalam badai besar di perairan AS. Disney memproduksi film yang terhitung sulit diproduksi ini dengan bujet US $80 juta. Pada tanggal 18 Februari 1952, Badai musim dingin menyerang perairan AS dan dua kapal tanker terbelah dua di perairan New England, AS yakni SS Fort Mercer dan SS Peddleton. Musibah kapal SS Mercer yang diketahui infonya terlebih dulu membuat semua pertolongan kapal penjaga pantai terfokus kesana. Ketika diketahui SS Peddleton juga bernasib sama markas penjaga pantai hanya menyisakan awak kelas satu Bernard Webber (Chris Pine) dan satu boat kecil untuk menolong mereka. Dengan awak kapal seadanya, Barnie dan tiga rekannya mencoba melakukan pertolongan yang mustahil untuk dilakukan.

Kisahnya yang diawali dengan tempo lambat dengan bumbu roman berubah seketika menjadi aksi menegangkan sejak sepertiga awal film hingga akhir. Hal yang menarik adalah kita diperlihatkan dari dua sisi yang berbeda, yakni bagaimana boat penyelamat yang dikemudikan Barnie bersusah payah menerjang badai, lalu kapal SS Peddleton dan para awaknya yang berusaha sekuat tenaga menunda kapal tersebut tenggelam. Kita semua sudah tahu apa yang akan terjadi namun unsur ketegangan yang disajikan dari dua sisi dengan begitu intens membuat kita melupakan cerita dan larut dalam aksinya. Aksi di laut disajikan begitu nyata hingga kita benar-benar bisa merasakan betapa melelahkan perjuangan mereka. Sisipan adegan drama di darat yang terfokus pada Miriam, tunangan Barnie, dan warga yang cemas, mampu sejenak membuat kita mengambil nafas.

Baca Juga  Ant-Man and the Wasp: Quantumania

Unsur setting menjadi aspek yang menonjol disamping penggunaan rekayasa digital, khususnya interior kapal SS Peddleton yang sebagian besar mengambil lokasi di lambung kapal. Badai yang jelas-jelas adalah rekayasa digital sudah menjadi standar film-film bencana sejenis ditampilkan amat realistik khususnya untuk shot-shot jauh. Aksi penyelamatan yang demikian sulit dan mencekam dalam situasi terjangan badai dan ombak besar mampu disajikan dengan nyata hingga layaknya kita berada di lokasi sungguhan. Nyaris sepanjang film kita disuguhi aksi tanpa henti yang memang melelahkan namun juga sebuah pengalaman visual dan audio yang memuaskan.

The Finest Hours menyajikan aksi penyelamatan heroik bersejarah dengan penuh ketegangan dan dramatik dari momen ke momen hingga mampu mengalihkan kita dari kisah serta ending yang klise. Aksi kepahlawanan macam ini tidak ada bosannya diproduksi dan bisa jadi tidak ada sesuatu yang baru namun setidaknya ada pelajaran yang bisa kita ambil. Awak SS Peddleton mengajarkan kita untuk menggunakan segala tenaga, akal, dan kemampuan kita untuk bisa bertahan hidup momen demi momen, sementara Barnie dengan prinsipnya mengajarkan kita untuk loyal pada tugas yang diemban dengan segala resikonya dikala semua orang menentang. Barnie memang menjadi pahlawan besar, namun jika ia tewas dalam aksi tersebut, bisa jadi ia bakal menjadi pecundang besar.

Watch Video Trailer

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaThe Wave
Artikel BerikutnyaThe Revenant
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.