The Girl in the Spider's Web (2018)
115 min|Action, Adventure, Crime|09 Nov 2018
6.1Rating: 6.1 / 10 from 52,117 usersMetascore: 43
Young computer hacker Lisbeth Salander and journalist Mikael Blomkvist find themselves caught in a web of spies, cybercriminals and corrupt government officials.

Film aksi kriminal The Girl in the Spider’s Web adalah sekuel dari The Girl with the Dragon Tatto (2011) yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya penulis Swedia, David Lagerrcrantz. Novelnya sendiri merupakan seri keempat dari novel aslinya yang sebelumnya ditulis oleh Stieg Larsson yang meninggal karena sakit jantung. Sekuelnya kali ini, sayangnya tidak mengkasting para pemain lamanya (Daniel Craig dan Rooney Mara), yakni Claire Foy sebagai sang protagonis, lalu didukung beberapa pemain belum ternama, seperti Sverrir Gudnason, LaKeith Stanfeild, Sylvia Hoeks, serta Stephen Merchant. Suntradara kawakan, David Fincher, kini tak lagi menggarap filmnya, digantikan oleh Fede Alvarez. Dengan amunisi baru, baik sineas maupun para pemainnya, apakah sekuelnya ini mampu menandingi seri aslinya yang memang memiliki capaian istimewa?

Selepas kisah film pertamanya, Lisbeth Salander masih memainkan perannya sebagai seorang pembela keadilan yang beraksi di luar hukum, menindak para penjahat berdasi yang sulit dijerat hukum dengan caranya yang unik. Suatu ketika, ia menerima pekerjaan dari seorang programer ternama untuk mencuri file rancangan program miliknya sendiri. Tak disangka, Lisbeth justru terjebak dalam situasi pelik di antara otoritas setempat, satu sindikat kriminal besar, serta otoritas AS (NSA)  yang merebutkan satu program rahasia yang mampu mengakses kode nuklir yang ada di seluruh dunia. Tak hanya itu, Lisbeth pun harus mengahadapi trauma masa lalunya kembali.

Baca Juga  The Accountant

The Girl with the Dragon Tatto yang digarap sangat apik oleh David Fincher memang terlalu superior jika dibandingkan dengan film ini. Di film sebelumnya, Ronney Mara yang bermain sebagai Lisbeth bermain begitu dingin dan percaya diri, tanpa ekspresi. Sementara Claire Foy, kini pun bermain jauh dari kata buruk melalui tekanan psikologis yang tak pernah muncul di seri pertamanya. Trauma masa lalu yang selalu menghantui Lisbeth sepanjang filmnya, tercermin baik di wajahnya yang kini bimbang akibat tekanan rasa bersalah. Sementara pencapaian terbalik justru muncul dari karakter Mikael Blomkviskt yang diperankan Sverrir Gudnason yang kini tak lagi dominan dan perannya pun seolah tak penting. Daniel Craig, pada seri sebelumnya mampu memberikan chemistry yang begitu “intim” dengan sosok Lisbeth. Chemistry yang sama kini menghilang tanpa bekas. Seolah Lisbeth dan Mikael hanyalah teman lama biasa.

Berbeda dengan film pertamanya yang minim aksi, Spider’s Web sangat menghibur karena unsur aksi ketegangan yang disajikan, nyaris tanpa henti sejak awal. Layaknya film spionase sekelas Bond, aksi-aksinya disajikan amat elegan dengan dukungan tata sinematografi serta ilustrasi musik yang menawan. Latar cerita di Swedia yang dingin dan bersalju tidak lantas mengurasi tensi ketegangan aksinya justru malam memompa adrenalin kita. Aksi spionase kali ini memang lebih dominan, penuh dengan banyak kejutan, serta segmen klimaks yang menegangkan. Walau tak sebanding dengan seri pertamanya dari sisi mana pun, The Girl in the Spider’s Web adalah satu aksi thriller menegangkan yang bakal menghibur fans genrenya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaA Man Called Ahok
Artikel BerikutnyaStan Lee, Kreator Superhero Marvel Berpulang di Usia 95 Tahun
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.