The Girl with All the Gifts (2016)

111 min|Action, Adventure, Drama|26 Jan 2017
6.6Rating: 6.6 / 10 from 66,904 usersMetascore: 67
A scientist and a teacher living in a dystopian future embark on a journey of survival with a special young girl named Melanie.

Zombie memasuki wilayah baru dengan semakin seringnya diproduksi subgenre ini seolah tinggal menanti waktu menjadi genre populer. Eksplorasi subgenre ini dari tahun ke tahun sangat luar biasa, baik dari sisi cerita, tema, maupun pencapaian sinematik. Pencapaian luar biasa telah dicapai Train to Busan beberapa waktu lalu dan kini The Girl with All the Gifts mencoba memasuki wilayah baru lagi. Film independen produksi Inggris ini dibintangi aktris kawakan Glenn Close serta Genma Arterton. Kisahnya diadaptasi dari novel karya M.R. Carey yang sekaligus pula menjadi penulis naskahnya.

Alkisah bumi dilanda wabah menular akibat jamur misterius yang menjadikan manusia seperti binatang dan memangsa sesamanya. Beberapa tahun berlalu penyakit tersebut bermutasi melalui belasan anak-anak hibrida, separuh zombie pemakan daging dan separuh manusia karena masih bisa berpikir dan tampak layaknya manusia normal. Mereka disekap dalam sebuah bunker militer yang dijaga ratusan tentara sementara Dr. Caroline Cardwell melakukan eksperimen untuk membuat vaksin penyakit tersebut. Helen Justineau bertanggung jawab mendidik anak-anak tersebut dan memiliki perasaan khusus terhadap Melanie, seorang bocah hibrida yang cerdas. Sesuatu lalu terjadi dan bunker tersebut ditembus. Helen bersama sisa tentara termasuk Dr. Cardwell bergerak menuju London dengan membawa Melanie yang berpotensi bisa menyelamatkan umat manusia.

Kisahnya amat menarik terlebih di awal cerita yang berlokasi di dalam bunker membuat rasa penasaran penonton benar-benar terusik. Sebuah ide cerita yang amat segar untuk genrenya dan seolah bakal menjanjikan sesuatu yang sama sekali berbeda. Sejak awal kita telah diperlihatkan hubungan yang kuat antara Helen dan Melanie, ini pasti bakal menjadi kunci cerita kelak. Waktu berjalan dan kisah semakin menarik ketika muncul konflik antara Dr. Cardwell dengan Helen. Tokoh Sersan Parks yang tegas dan dingin juga menambah tensi cerita lebih menarik. Ketika aksi pelarian dan pengejaran terjadi, plot cerita justru semakin lama semakin turun tensinya. Arah cerita mulai terbaca.

Baca Juga  Look Both Ways

Satu poin yang kurang untuk mendukung plot ini adalah chemistry antara Melanie dengan Helen. Entah mengapa ada sesuatu yang hilang dan tidak terasa adanya hubungan batin yang kuat antara mereka berdua. Bisa jadi karena latar sosok Helen yang kurang mendalam dan cerita hanya fokus pada sosok Melanie. Semua berujung pada klimaks dan ending tanpa emosi dan kita tidak bisa care dengan siapapun dan apapun yang terjadi. Padahal semua pemain telah bermain maksimal terlebih sang aktor cilik, Sennia Nanua. Dari sisi pencapaian CGI pun untuk film sekelas ini jelas tidak mengecewakan dalam menampilkan beberapa adegan eksterior kota London yang kosong. Ilustrasi musiknya yang unik juga menambah nuansa filmnya menjadi semakin berbeda.

Dengan dukungan permainan matang dari para kastingnya, The Girl with All the Gifts memiliki premis cerita menarik namun tak sepadan dengan klimaksnya. Setidaknya film ini mampu melakukan eksplorasi cerita ke wilayah baru yang memperkaya genrenya. Subgenre zombie memang selalu menarik untuk diikuti. Sisi moral dan manusiawi biasanya menjadi potensi kekuatan kisahnya termasuk pula film ini. Masih ditunggu film zombie yang mampu menyajikan aksi serta drama seimbang dengan pesan kuat dalam kemasan estetik yang segar.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaBarakati
Artikel BerikutnyaProyek Animasi Terbaru Hayao Miyazaki
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses