the glory

Satu lagi kisah pembalasan dendam yang kali ini datang dari seorang korban perundungan semasa SMA lewat thriller misteri The Glory. Film seri 8 episode produksi Hwa and Dam Pictures ini digawangi oleh arahan Gil Ho Ahn dengan Kim Eun-sook sebagai penulisnya. Kecuali Song Hye-Kyo yang mendapatkan sorotannya kembali setelah beberapa tahun, para pemain lainnya yaitu Yeom Hye-ran, Lee Do-Hyun, Ji-Yeon Lim, Sung-Hoon Park, Kim Hieora, dan Sung-Il Jung. Melalui fakta-fakta kegagalan lembaga pendidikan dalam mengatasi aksi-aksi perundungan di sekolah, seberapa signifikan The Glory menunjukkan bentuk-bentuk akibatnya?

Aksi perundungan memang marak terjadi di mana pun dan kapan pun, baik dalam lingkungan kerja maupun antarsiswa. Moon Dong-eun (Hye-Kyo) adalah salah satu contoh korbannya. Ia terus mengalami berbagai pelecehan, ancaman, dan kekerasan setiap hari dari Park Yeon-Jin (Ji-Yeon), Lee Sa-Ra (Kim Hieora), Jeon Jae-Jun (Sung-Hoon), dan anggota geng mereka. Hidup Dong-eun sama sekali tidak sebahagia anak-anak remaja pada umumnya yang menikmati keseharian mereka bersekolah. Bahkan wali kelasnya pun abai. Sampai-sampai Dong-eun harus mengundurkan diri dari sekolah dan bersumpah untuk membalas dendam ke mereka semua, dengan atau tanpa kaki-tangan.

Ciri khas paling kentara dari tangan Eun-sook dalam menuliskan skenario The Glory adalah betapa mulus, halus, dan lembutnya proses pembalasan dendam Dong-eun, tetapi mematikan. Ia tuliskan tahap demi tahap yang dengan sabar dijalani gadis tersebut dalam perkembangannya dari korban perundungan, menjadi sosok berbahaya. Setiap teror yang diam-diam disebarkannya dari bawah radar kian lama menjangkiti para perundung dan membawa ketidaknyamanan dalam hidup mereka. Keseharian yang telah dengan nyaman mereka bangun seketika dibayang-bayangi kegelisahan, sejak kehadiran Dong-eun di Somyeon. Semakin valid pula saat dia terang-terangan muncul di aula olahraga pada episode 3.

Setelah kita melihat serangkaian kisah-kisah pembalasan dendam dua tahun belakangan, The Glory adalah salah satu yang “menyenangkan”. Kita sudah mendapat suguhan menyakitkan, menyesakkan, dan memuakkan lewat keseharian Dong-eun semasa SMA dalam episode pembuka. Jadi ketika 18 tahun kemudian dia mulai melakukan eksekusi, bukan tidak mungkin ada banyak penonton yang juga turut merasa puas. Walau eksekusi yang dilakukannya tak lewat kekerasan seperti halnya Oh Hyejin / Yoon Ji Woo (Han So-hee) dalam My Name, karena cenderung mengandalkan kelicikan layaknya Jin Do Joon (Song Joong-ki) dalam Reborn Rich. Apalagi, dengan adanya fakta bahwa perundungan memang betul-betul terjadi di Korea Selatan. Bahkan lebih parah lagi.

Baca Juga  96 jam

The Glory pun banyak meletakkan warna-warna kontras di antara benda-benda umumnya. Semacam pengingat untuk penonton bahwa pada setiap episode, ada tokoh-tokoh berkelainan mata dalam membedakan warna. Jadi muncullah benda-benda remeh sekaligus penting dengan warna merah, hijau, biru, maupun merah muda. Semoga saja Eun-sook melakukan riset yang baik tentang kondisi buta warna. Agaknya pula, beberapa latar tempat dipilih dan diposisikan dengan pertimbangan yang matang. Seberapa jauh perjalanan Dong-eun dari daerah asalnya ke lokasi pembalasan dendam di Somyeon, bentuk rute yang dilaluinya, serta tempat tinggal barunya di seberang rumah salah seorang perundung. Khususnya keberadaan permainan papan bernama Go yang tak pernah absen dari sorotan.

Senada dengan alur ceritanya, melihat Hye-kyo memainkan karakter pembalas dendam dalam The Glory ternyata juga menarik. Terlebih setelah peran-perannya selama enam tahun ini belum pernah berhasil mengungguli kepopulerannya sejak Descendants of the Sun. Minimal, melalui The Glory, namanya tak kian tenggelam. Lagipula dia bermain dengan cukup baik dalam The Glory, sebagai sosok dingin yang arah tindakannya sukar ditebak. Sementara tokoh-tokoh lain hanya memainkan karakter masing-masing. Kecuali Hye-ran yang kerap muncul dengan komikal dan terlalu percaya diri lewat perannya sebagai Hyun-Nam, karena terbawa suasana.

Namun sebagaimana drama Korea kebanyakan, The Glory juga tak melepaskan bumbu-bumbu romannya. Walau tipis dan tak terlalu diseriusi. Setidaknya itulah yang terlihat dari musim pertamanya ini. Ihwal apakah ada kelanjutan dari relasi antara Yeo-jung dan Dong-eun ataukah berujung sama seperti Reborn Rich yang menggantungkan Do Joon dan Min Young? Jawabannya hanya ada dalam musim keduanya nanti.

Kendati dengan cara-cara pembalasan dendam yang terstruktur dan terencana dengan baik, The Glory sayangnya hanya fokus pada kerapian skenarionya saja. Namun, semoga ini hanya dialami oleh musim pertamanya. Musim kedua pada Maret nanti adalah penentu level keseruan pembalasan dendam Dong-eun. Apakah Eun-sook dan Gil Ho Ahn berhasil menggodok cerita mereka dengan baik, atau malah melahirkan hujatan dari khalayak. Walau sayang, tak banyak olahan sinematik yang dapat bermunculan dengan istimewa. Hanya sedikit aspek dari segi variasi pengolahan visualnya bisa kita nikmati. Kerumitannya pun hanya soal koneksi antartokoh dan cara-cara pembalasan dendam rancangan sang protagonis.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaThe Offering
Artikel BerikutnyaA Man Called Otto
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.