The Godfather (1972)
175 min|Crime, Drama|24 Mar 1972
9.2Rating: 9.2 / 10 from 2,007,621 usersMetascore: 100
The aging patriarch of an organized crime dynasty transfers control of his clandestine empire to his reluctant son.

The Godfather (1972) arahan Francis Ford Coppola diadaptasi dari novel laris berjudul sama karya Mario Puzo. Film ini dianggap banyak pengamat sebagai film gangster terbaik dan juga salah satu film terbaik sepanjang masa. Film ini sukses meraih tiga Oscar dari sepuluh yang dinominasikan yakni, film terbaik, aktor utama, dan naskah adaptasi terbaik. Pada masa rilisnya The Godfather juga menjadi film terlaris sepanjang tahun dengan pemasukan kotor, 134 juta US$. Sukses film ini juga memicu produksi sekuelnya, The Godfather Part II (1974) yang kurang lebih sama suksesnya.

Film yang berdurasi sangat panjang ini memberi kesan cerita yang amat kompleks namun inti kisahnya sebenarnya sederhana. Alkisah, Vito Corleone (Malon Brando) sang kepala keluarga Corleone merupakan seorang Godfather yang memiliki pengaruh kuat di wilayah timur Amerika Serikat. Masalah bermula ketika bisnis narkotik mulai marak di Amerika dan Vito menolak untuk ikut ambil bagian dalam bisnis tersebut. Penolakan tersebut berbuah kekecewaan dari rival-rival keluarga Corleone. Sang Godfather ditembak secara brutal walaupun ia akhirnya selamat. Salah satu putra Vito, Michael (Al Pacino) yang selama ini berusaha menjauh dari bisnis keluarganya akhirnya menyadari jika ia harus membantu keluarganya keluar dari masalah.

The Godfather mengisahkan rivalitas antar kelompok gangster dalam berbagi kekuasaan (baca: uang) dengan cara kekerasan. Cerita mengambil sudut pandang dari karakter para gangster dan nyaris tidak pernah bersinggungan dengan pihak hukum. Film juga berisi beberapa adegan aksi brutal khas gangster yakni pembantaian berdarah dengan senapan mesin serta yang paling membuat syok tentunya potongan kepala kuda di ranjang sang produser. Cerita filmnya berdurasi nyaris tiga jam dan bisa jadi membosankan bagi penonton sekarang. Rentang waktu cerita yang panjang membuat kisahnya cukup untuk diproduksi hingga tiga film. Cerita berjalan dengan tempo lambat dan dapat dibagi menjadi tiga segmen besar dengan rincian cerita yang begitu detil. Pertama: sepak terjang Vito, kedua: Michael selama di pengasingan, dan tiga: sepak terjang Michael sebagai pengganti Vito. Sekuen awal begitu penting. Coppola mengemas sekuen pernikahan dengan begitu brilian hingga dalam satu momen ini saja kita mampu melihat betapa kuat dan besar pengaruh keluarga Corleone.

Baca Juga  Tinjauan Naratif dan Sinematik, Ayat-Ayat Cinta

Amat sulit rasanya memberi komentar singkat terhadap pencapaian estetik yang dicapai film luar biasa ini. Pemain, setting, aspek sinematografi, aspek editing, hingga musik seluruhnya nyaris tanpa cela. Para aktornya, terutama Brando dengan gayanya yang khas bermain sangat impresif sebagai sosok Godfather yang keras namun penuh kasih pada keluarganya. Komposisi visual yang demikian kuat begitu dominan dalam film ini. Adegan pembantaian sadis Sonny di jalan tol tampak begitu “indah” dinikmati ketimbang aksi brutalnya sendiri. Satu momen yang paling menggetarkan adalah adegan klimaks ketika pembaptisan sang bayi di gereja yang dipotong dengan aksi pembantaian seluruh musuh keluarga Corleone. Aksi pembantaian dimulai sesaat setelah sang pendeta selesai berucap, “…do you renounce satan?”. Dan terakhir sulit rasanya membayangkan film ini tanpa ilustrasi musik yang begitu menyentuh dari komposer Nino Rota. The Godfather tidak hanya bicara masalah kehormatan, loyalitas, keadilan, korupsi, kekerasaan, dan kekuasaan di Amerika selepas perang dunia kedua, namun juga masih menjadi refleksi nyata hingga kini dimana manusia menghalalkan segala cara untuk mencari uang dan kekuasaan. The Godfather merupakan cermin kejahatan yang tidak akan pernah sirna sampai kapan pun …because it’s in our blood.

Artikel SebelumnyaAmerican Gangster, Film Gangster dengan Sentuhan Lembut 
Artikel BerikutnyaFilm Gangster dan Perkembangannya
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.