The Incredible Hulk (2008)
112 min|Action, Adventure, Sci-Fi|13 Jun 2008
6.6Rating: 6.6 / 10 from 525,799 usersMetascore: 61
Bruce Banner, a scientist on the run from the U.S. Government, must find a cure for the monster he turns into whenever he loses his temper.

Mungkin setelah dinilai “gagal” dalam Hulk (2003) yang disutradarai oleh Ang Lee, kali ini Marvel Studio me-remake kisah si monster hijau melalui The Incredible Hulk (2008) dengan kemasan lebih fresh yang kali ini diarahkan oleh Louis Leterrier. Para pemain lama didepak dengan memakai bintang-bintang baru antara lain, Edward Norton, Liv Tyler, Tim Roth, dan William Hurt.

Alkisah setelah sang ilmuwan, Bruce Banner (Norton), terkena radiasi sinar gamma pada suatu uji coba, ia berubah menjadi sosok monster berwarna hijau jika ia tertekan (baca:emosi). Sang monster lalu diburu oleh pihak militer dibawah pimpinan Jendral Ross (Hurt). Setelah beberapa waktu dikisahkan Banner mengasingkan diri di Brazil sambil mencari cara bersama rekan jauhnya, “Mr. Blue” untuk menemukan obat penawar dari penyakitnya. Ross berhasil melacak Banner dan membawa marinir berpengalaman, Blonsky (Roth) untuk mendampingi timnya untuk menangkapnya. Banner berhasil lolos dari penyergapan dan kembali ke Amerika. Disana ia bertemu dengan kekasihnya serta asisten lab-nya, Betty Ross (Tyler), yang juga putri Ross. Saat Banner dan Betty berusaha untuk mencari cara penyembuhan dan bertemu “Mr. Blue”, Jendral Ross menyuntikkan sebuah “serum super” pada Blonsky untuk bisa menandingi si monster hijau. Ross tidak menyadari jika Blonski kelak berubah menjadi monster yang jauh lebih ganas dan merusak daripada monster yang diburunya.

Pada versi baru ini kisahnya sangat berbeda dengan versi lamanya melalui tempo plot yang cepat dengan adegan aksi nyaris tanpa henti. Patut diacungi jempol bagaimana pada sekuen pembuka, latar belakang munculnya “The Hulk”, disajikan hanya sekilas saja sehingga tidak mengulangi plot versi sebelumnya, dan kisah filmnya sendiri justru bermula di Brazil. Tidak seperti kisah Hulk (2003) yang sarat dengan konflik psikologis serta trauma masa lalu, The Incredible Hulk, secara sederhana hanya menekankan pada dua plot utama, yakni Banner yang berusaha mencari obat penawar serta perburuan sang monster oleh Jendral Ross. Kisah roman pun (Banner-Betty) bahkan nyaris tak disinggung. Hasilnya tentu sudah bisa kita duga, aksi, aksi, dan aksi…

Bicara sekuen aksinya memang kenyataannya film ini jauh lebih baik dari film sebelumnya. Berbeda dengan Hulk (2003) yang disajikan dengan nuansa serta warna yang cerah, The Incredible Hulk disajikan dengan nuansa yang lebih gelap dan suram. Dibandingkan pencapaian rekayasa digital (CGI) pada versi sebelumnya, sosok Hulk kali ini tampak jauh lebih nyata. Sosok sang monster lebih “realistik” dengan otot-otot yang lebih kekar, kasar, serta warna tubuh hijau yang “buram”. Ini bisa jadi juga terbantu dengan sekuen aksinya yang seringkali berlatar malam hari. Sekuen aksinya yang melibatkan sosok Hulk tercatat hanya tiga buah, yakni di pabrik minuman di Brazil, di kota asal Banner, serta sekuen klimaks di kota New York, yang seluruhnya disajikan begitu mengesankan dan penuh energi. Walau awalnya tampak meragukan namun klimaks pertarungan antara Hulk versus Blonsky yang sama-sama memiliki kekuatan serta fisik yang besar diluar dugaan mampu disajikan begitu meyakinkan. Amat seru dan menghibur.

Baca Juga  The Postcard Killing

Diluar tempo plot yang cepat serta sekuen aksinya yang seru nyaris tidak ada lagi yang menarik dalam filmnya. Setting kota serta pemukiman yang indah di Brazil pada sekuen awal sesaat mampu mencuri perhatian kita. Sementara kastingnya tidak ada yang menonjol. Edward Norton sepertinya cocok dengan karakter Bruce Banner yang wajahnya tampak lelah setiap saat. Liv Tyler yang tampil begitu memelas, sangat jauh jika dibandingkan dengan penampilan Jennifer Connely di film terdahulu. Sementara Tim Roth sudah terlalu akrab di mata penonton dengan peran antagonis sejenis. Hal yang justru menarik perhatian adalah cameo sederetan aktor dan bintang, yakni Lou Ferrigno yang merupakan pemain si raksasa Hulk pada film serinya di era 80-an (berperan sebagai petugas keamanan), sang kreator Hulk, Stan Lee (berperan sebagai orang tua peminum softdrink yang berisi darah Banner), lalu Bill Bixby (pemain Bruce Banner pada film serinya) juga sekilas muncul pada sebuah acara televisi, serta paling mengejutkan tentu munculnya karakter Tony Stark (Robert Downey jr.) di akhir kisahnya. Huh… can’t you imagine Hulk & Iron Man in the same movie…

Akhir kata, jika kita bandingkan dengan versi lamanya, versi terbaru Hulk kali ini terutama memiliki nilai lebih pada sekuen aksinya. Sementara film terdahulu lebih menekankan pada kekuatan cerita serta penyajian yang unik dan elegan (teknik split screen) layaknya sebuah komik. Namun tak diragukan lagi jika versi terbaru ini akan meraih sukses jauh lebih besar dari film sebelumnya. Mana yang terbaik menurut Anda? If you’re asking me… I prefer the old one.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaKung Fu Panda
Artikel BerikutnyaHancock
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.