The Last Full Measures

0
The Last Full Measure (2019)
116 min|Drama, War|24 Jan 2020
6.8Rating: 6.8 / 10 from 14,081 usersMetascore: 51
Thirty-four years after his death, Airman William H. "Pits" Pitsenbarger is awarded the nation's highest military honor for his actions on the battlefield.

The Last Full Measures adalah film drama perang arahan Todd Robinson. Kisah filmnya diambil dari kisah nyata yang terpusat pada sosok prajurit heroik William H. Pitsanbarger yang tewas semasa bertugas pada Perang Vietnam. Hebatnya, film ini dibintangi sederetan bintang muda dan gaek, seperti Sebastian Stan, Christopher Plummer, Ed Harris, Samuel L. Jackson, William Hurt, hingga Peter Fonda. Perang Vietnam sudah jauh usai beberapa dekade lalu dengan kekalahan di pihak AS, lalu apa urgensinya film ini diproduksi sekarang?

Scott Huffman (Stan) adalah seorang staf ahli Pentagon yang karirnya tengah menanjak. Scott mendapat tugas untuk menginvestigasi seorang prajurit AS yang gugur di Perang Vietnam yang aksi heroiknya dianggap pantas untuk mendapatkan Medal of Honor, penghargaan tertinggi bagi prajurit AS. Scott mencari petunjuk, satu persatu melalui saksi para prajurit yang dulu pernah ditolong oleh almarhum pada hari akhir hayatnya. Semakin dalam investigasi, Scott tidak hanya tersentuh dengan aksi sang prajurit, namun juga mengubah perspektif, sikap batin, serta kepribadian dirinya.

Dua dekade lalu, saya masih ingat menonton di bioskop semasa kuliah sebuah film yang kisahnya mirip, yakni Courage under Fire yang dibintangi Denzel Washington, Meg Ryan, serta Matt Damon. Formulanya nyaris sama, hanya saja kisahnya adalah fiksi (rekaan) bukan kisah nyata. Kisah filmnya sederhana, namun berjalannya cerita semakin intens. Courage under Fire memang jauh lebih superior, baik dari kisah maupun aksinya, namun bukan berarti The Last Full Measures tak memiliki kelebihan. Setidaknya, film ini mampu menyajikan perspektif para veteran perang Vietnam yang kini jelas tak lagi banyak dianggap oleh generasi muda.

Baca Juga  Beauty and the Beast

Alur kisahnya yang diadaptasi dari kisah nyata memang membuat agak sedikit datar. Informasi yang diberikan hanya secuil demi secuil dalam tiap investigasi, tidak langsung to the point. Ini bisa dimaklumi. Namun, justru segmen kilas baliknya yang seharusnya bisa menyeimbangkan melalui sisi aksinya tidak disajikan menggigit. Setting dan tone adegannya kurang meyakinkan dan kita bahkan tidak mengetahui secara persis urutan peristiwa yang terjadi. Padahal segmen ini amat krusial bagi film ini. Satu cerita dari tiap saksi mata, jelas berbeda sudut pandang tapi mengapa berbeda kontinuitas adegannya. Tak jelas timeline-nya, apa misi mereka di sana, siapa posisi di depan dan belakang, siapa yang membom, semua yang terjadi serba kabur. Mengapa tidak menggunakan rentetan shot atau aksi berulang yang sama? Penonton pasti lebih mudah memahami. Sang sineas tampak kurang tertampil memainkan momen ini.

The Last Full Measures merupakan kisah investigasi militer yang menyentuh serta menginspirasi dengan dukungan kuat para aktor bintang muda dan gaeknya, hanya saja dikecewakan oleh visualisasi kilas balik yang lemah. Para aktornya jelas sedikit menutupi kelemahan ini. Tak ada satu pun dari mereka yang mengecewakan, walau Sam Jackson tak tampil seekspresif biasanya. Bisa dimaklumi. Sebastian Stan tak bermain buruk tapi juga tidak istimewa.

Film ini sedikit banyak membuktikan bahwa mengenang masa lalu adalah penting, bukan tentang kebodohan perang dengan segala intrik politiknya, namun adalah bagaimana nyawa manusia dihargai. Kita saat ini menghadapi musuh besar yang sama (Covid-19). Walau musuh kini tak terlihat, namun intinya sama. Bagaimana nyawa manusia sebenarnya tak bisa diukur dengan uang atau permainan politik. Sosok manusia seperti Pitsanbarger rasanya kini sudah semakin langka.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaTrolls World Tour
Artikel BerikutnyaLove Wedding Repeat
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.