The Last Voyage of the Demeter (2023)
118 min|Fantasy, Horror, Thriller|11 Aug 2023
6.1Rating: 6.1 / 10 from 68,545 usersMetascore: 52
A crew sailing from Varna (Bulgaria) by the Black Sea to England find that they are carrying very dangerous cargo.

The Last Voyage of Demeter adalah film fantasi horor yang diadaptasi dari satu bab dalam novel legendaris Dracula (1897) karya Bram Stoker. Film ini diarahkan sineas asal Norwegia André Øvredal dengan beberapa pemain yang kurang familiar, sebut saja Corey Hawkins, Aisling Franciosi, Liam Cunningham, dan David Dastmalchian. Film berbujet USD 45 juta berdurasi sekitar 119 menit yang nyaris seluruh adegannya berada di atas kapal. Adaptasi “Dracula” sudah demikian banyaknya sejak era klasik hingga kini, apakah kini secuil kisahnya mampu memenuhi ekspektasi?

Pada tahun 1897, Kapal Demeter melakukan transit di pelabuhan Varna, Rumania, untuk mengambil kargo dalam tujuan akhir mereka ke Inggris. Dua kotak kargo misterius diangkut ke dalam kapal tanpa ada kecurigaan apa pun dari para awaknya. Clemens (Hawkins) adalah seorang dokter berkulit hitam yang ikut bersama awak kapal karena telah menolong Toby, cucu kapten Elliot (Cunningham). Dalam perjalanan beberapa peristiwa ganjil mulai terjadi. Stok makanan kapal berupa hewan ternak, semua tewas oleh gigitan binatang buas. Satu kotak kargo berisi perempuan muda yang dipendam dalam tanah. Sang dokter pun berusaha menyelamatkan nyawanya. Sementara itu, satu persatu kru awak kapal pun mulai menghilang secara misterius.

Jika dibilang loyal dengan sumber aslinya (novel), plot Demeter jelas jauh dari ini. Dalam kisah satu bab aslinya, The Captain’s Log, hanya berisi catatan tertulis sang kapten dari waktu ke waktu yang menyajikan bagaimana situasi awak kapal dan bagaimana mereka menghilang satu persatu secara misterius. Tak ada sosok Clemens, tak ada Toby (cucu sang kapten), dan tak ada Anna. Naskahnya jelas adalah tafsiran lepas sumber aslinya. Bisa jadi ini masalah besar bagi fans novelnya, namun bukan lantas berarti ini tidak menarik sebagai medium film dalam konteks masa kini. Hal ini dapat ditolerir karena tuntutan durasi dan intensitas dramatik bukan hal mudah untuk dikompromikan. Naskahnya pun terbukti mampu menyajikannya secara elegan dengan menyelipkan sentimen ras dan perempuan, serta sisi manusiawi para awak kapalnya.

Baca Juga  Expend4bles

Di luar tafsiran lepasnya, Demeter adalah sebuah pengalaman visual yang sangat memesona. Setting menjadi satu hal yang menjadi kekuatan besar filmnya. Sejak pembuka, suasana pelabuhan sungguh disajikan secara menakjubkan dan meyakinkan. Rasanya ini salah satu visualisasi terbaik pelabuhan di era silam ketimbang seri Pirates of the Caribbean yang bernuansa kental fantasi. Lalu setting kapal Demeter sungguh mengesankan, baik ruang eksterior (dek) maupun ruang-ruang indoor-nya. Benar-benar terlihat natural. Hanya saja dalam beberapa adegan tampak terasa “stabil” tanpa ada goyangan, walau bukan masalah besar. Aksi-aksi menegangkannya juga jauh dari buruk yang sangat terbantu oleh suasana dan atmosfir kapal yang gelap dan suram. Lalu sosok sang monster pun mampu disajikan demikian fantastik. Menonton Demeter, tak berasa seperti menonton film horor, namun adalah layaknya menonton “Alien”.

Kita semua tahu bagaimana kisah dan ending-nya, namun The Last Voyage of Demeter adalah sebuah pengalaman visual yang menggigit. Untuk setting-nya rasanya film ini adalah salah satu yang terbaik untuk genrenya. Menafsirkan kisah hanya sepenggal kecil dari sumber aslinya jelas bukan perkara mudah, namun Demeter mampu menyajikan dengan baik walau terasa banyak dramatisasi di beberapa momen. Untuk fans horor jelas adalah satu sajian yang menarik untuk ditonton dan dibincangkan. Demeter adalah adaptasi novel terbaik sejak Bram Stoker’s Dracula arahan sineas berpengaruh Francis Ford Coppola.

1
2
PENILAIAN KAMI
overall
80 %
Artikel SebelumnyaCatatan si Boy
Artikel BerikutnyaThe Monkey King
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses