The Legend of Tarzan (2016)

110 min|Action, Adventure, Drama|01 Jul 2016
6.2Rating: 6.2 / 10 from 189,762 usersMetascore: 44
Tarzan, having acclimated to life in London, is called back to his former home in the jungle to investigate the activities at a mining encampment.

Siapa yang tak kenal sosok raja rimba Tarzan, sejak era film bisu hingga kini sudah ada ratusan adaptasi film dari sang kreator, Edgar Rice Burroughs. Sejak era film klasik, franchise yang dibintangi perenang Johnny Weissmuller dengan belasan filmnya hingga film animasi Disney di tahun 1999, walau masih kalah populer dengan OST-nya yang dibawakan Phil Collins. Satu adaptasi live action, Greystoke, The Legend of Tarzan, Lord of the Apes (1984) yang dibintangi Christopher Lambert hingga kini masih dianggap yang terbaik dengan tiga nominasi Oscar-nya. The Legend of Tarzan mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda namun sang sineas piawai, David Yates (Harry Potter seri 5, 6, 7 & 8) ternyata tidak mampu berbuat banyak.

Alkisah sudah 8 tahun, John Clayton III alias Tarzan keluar dari hutan rimba dan tinggal di London bersama sang istri terkasih, Jane. Seorang Amerika, George W. Williams akhirnya bisa memaksa John untuk kembali ke Congo atas undangan dari raja penguasa setempat sekaligus menyelidiki isu perbudakan disana. Namun yang tidak diketahui John adalah Leon Rom, seorang mantan perwira licik memanfaatkan kedatangan John untuk keuntungan pribadinya, ketika kepala suku, Chief Mbonga, yang punya dendam dengan Tarzan, memberikan batu berlian yang tak ternilai.

Sebenarnya film ini telah dibuka dengan sangat baik. Karakter-karakter utama ditampilkan sekilas tanpa harus kita perlu tahu detil latarnya seolah kita bakal digiring ke sebuah kisah hebat sosok mantan raja rimba yang memulai petualangan barunya. Apa yang telah dibangun di awal justru porak poranda justru ketika kisah film memulai konfliknya. Terlampau banyak subplot (balas dendam, politik, penculikan, gorilla, memori silam, dan lain-lain) membuat kisahnya menjadi tak fokus dan melompat kesana-kemari tanpa penjelasan yang cukup. Segmen kilas-balik Tarzan dan Jane yang sesekali muncul tidak mampu memberikan emosi yang cukup bagi penonton karena disajikan setengah-setengah. Ini yang menjadi kunci masalah terbesar filmnya. Belum cukup emosi kita masuk ke dalam sebuah adegan sudah dipotong oleh adegan lainnya. Durasi 2 jam jelas tidak cukup untuk memasukkan semua elemen cerita dalam satu film ini dan mini seri bisa jadi adalah bentuk yang pas dan tidak terlihat memaksa.

Baca Juga  Everything Everywhere All at Once

Satu alasan terbesar mengapa saya melihat film ini adalah David Yates. Kemampuan sineas ini sungguh luar biasa dalam mempermainkan emosi penonton dan aspek editing menurut saya adalah salah satu kekuatan utama Yates. Warner Bros (WB) mempercayakan empat film terakhir seri Harry Potter pada Yates, tercatat sebagai sineas yang terbanyak menggarap seri ini. WB rupanya masih kepincut dengan talenta Yates hingga mempercayakan proyek besar berbujet US$180 juta ini pada sineas asal Inggris ini. Sungguh amat disayangkan justru aspek editing yang menjadi kelemahan terbesar film terbarunya ini. Layaknya amatiran (diluar guntingan sensor) film ini tidak mampu memberikan kontinuitas cerita serta emosi yang cukup bagi penonton bahkan kadang hingga shot per shot dalam satu adegan. Rangkaian shot di adegan penghujung bisa menjadi bukti betapa buruknya aspek ini.

The Legend of Tarzan berusaha melakukan pendekatan cerita yang berbeda namun banyaknya subplot menjadikan kisahnya tidak fokus layaknya film berdurasi 4 jam yang dipotong menjadi durasi 143 menit. Diluar segala kelebihan efek visual dan sinematografinya, tidak diragukan film ini adalah calon terkuat film blockbuster terburuk tahun ini. Para pemain utama sebenarnya bermain tidak buruk hanya naskah dan aspek editing mengecewakan mereka. Agak geli juga melihat sosok George yang diperankan aktor senior, Samuel L. Jackson yang mengingatkan banyak pada sosok Nick Fury yang sama-sama jago tembak. Sebagai penutup, rasanya sang raja rimba dalam kisah film ini berat untuk bisa menyaingi sukses Mowgli dalam The Jungle Book yang sukses fenomenal awal tahun lalu.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
10 %
Artikel SebelumnyaSetelah ID: Resurgence, Emmerich Garap Moonfall
Artikel BerikutnyaFinding Dory Masih Puncaki Box Office Global!
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.