The Lego Movie 2: The Second Part (2019)
107 min|Animation, Action, Adventure|08 Feb 2019
6.5Rating: 6.5 / 10 from 76,610 usersMetascore: 65
It's been five years since everything was awesome and the citizens are facing the huge new threat of Lego Duplo, invaders from outer space, wrecking everything faster than they can rebuild.

The Lego Movie 2: The Second Part arahan Mike Mitchell, merupakan sekuel dari The Lego Movie (2014) yang juga merupakan film keempat dalam Lego Universe. Phil Lord dan Christopher Miller yang mengarahkan seri pertamanya, kini menjadi penulis naskah serta produsernya. Film ini kembali menampilkan voice-acting dari bintang-bintang regulernya, yakni Chris Pratt, Elizabeth Banks, Will Arnett, Will Ferrel, hingga beberapa cameo, seperti Jason Momoa, Bruce Willis, Margot Robbie, hingga Channing Tatum.

Setelah peristiwa dalam film pertama, kedamaian Lucy, Emmet, dan seluruh warga kota Bricksburg ternyata hanya sesaat setelah mereka dkejutkan oleh kedatangan makhluk asing yang menghancurkan seluruh kota. Lima tahun kemudian, kota ini berubah menjadi wilayah yang gersang dan tandus ala Mad Max yang diberi nama Apocalypseburg. Tanpa mereka sangka, satu pesawat alien datang kembali dan menyerang mereka, serta membawa Lucy, Batman, bersama 3 rekan lainnya. Emmet kembali memulai petualangan barunya untuk pergi ke luar angkasa untuk menyelamatkan Lucy dan rekan-rekannya.

Boleh dibilang, dua pertiga kisah awalnya adalah neraka bagi saya. Apa yang mau kita harapkan dari sosok lego seperti ini? Sepanjang waktu kita hampir tak peduli dengan mereka. Tak ada tensi ketegangan dan karakter tak pernah benar-benar dalam situasi bahaya. Apapun bisa terjadi dalam alam Lego. Semua serba absurd dan logika bisa dibengkokkan sedemikian rupa. Ya benar, ada momen-momen kecil yang membuat kita tertawa lepas karena sisi komedinya yang kadang memang kelewat lucu. Kita tahu persis, ini semua hanya metafora dari konflik antara dua bocah kakak beradik, yakni Finn dan Bianca, di alam nyata, yang tengah bermain dengan mainan mereka. Kita tahu, seperti seri pertama, ini semua akan mengarah ke mana. Proses kisah di alam “Lego” sungguh berjalan amat melelahkan, namun 1/3 akhir kisahnya sungguh di luar dugaan.

Baca Juga  Pig

Tanpa diduga, kisah film ini ternyata berjalan dalam banyak level penafsiran. Dua pertiga proses di awal, kisahnya hanyalah imajinasi alam bawah sadar Finn dan Bianca, yang tentu kita tahu persis arahnya akan berjalan ke mana. Sementara konflik Finn dan Bianca memuncak, di alam lego pun, situasi juga bertambah genting. Aksi klimaks terjadi demikian seru sejalan di alam nyata, satu twist kecil muncul, yang secara mengejutkan film ini juga berbicara tentang problem orang dewasa. Sederhana saja, namun film ini mampu mengemasnya dengan sangat elegan. Dunia dewasa memang suram dan kompleks tapi bukan berarti kita harus berubah menjadi orang lain. Dua alam ini berakhir dengan solusi yang sederhana tapi teramat menyentuh.

Bicara visual, apa lagi yang mau kita komentari? Bicara sisi humornya jauh lebih menarik. Sejak Deadpool, sudah terlalu banyak film yang menggunakan metahumor, dan mengolok tentang mereka sendiri dalam medium film. “Kamu siapa? Aku sudah difilmkan dalam 6 versi dan masih ada potensi  3 proyek (film) lagi ke depan ” ujar Batman. Bukannya tak lucu, tapi gaya guyonan macam ini rasanya sudah terasa hambar. Teen Titan: The Movie, adalah satu contoh yang nyaris semua humornya adalah tentang industri film dan genre superhero. Mungkin saya hanya jenuh dengan ini, namun harus diakui ada beberapa humornya memang lucu, seperti misalnya ketika Lucy bertemu John McClane (Bruce Willis) dalam lorong AC (Die Hard). Ha ha ini benar-benar saya tak bisa antisipasi. Sosok Batman juga selalu mencuri perhatian dan masih sama lucunya dalam The Lego Batman Movie.

Walau kisahnya, bisa jadi adalah salah satu film paling membosankan dan datar yang pernah ada, namun The Lego Movie 2: The Second Part memiliki pesan kuat yang menyentuh untuk semua level penontonnya. Sejak seri pertamanya yang memiliki standar demikian tinggi, seri keduanya ini ternyata mampu berbicara lebih dari sisi kedalaman temanya. Jarang sekali, capaian film animasi yang memiliki kemasan cerita begitu berkelas macam ini. Piala Oscar untuk film animasi panjang tahun depan? Siapa tahu.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaLaundry Show
Artikel BerikutnyaBAFTA 2019 WINNERS
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.