The Magnificent Seven (2016)

132 min|Action, Adventure, Drama|23 Sep 2016
6.9Rating: 6.9 / 10 from 240,944 usersMetascore: 54
Seven gunmen from a variety of backgrounds are brought together by a vengeful young widow to protect her town from the private army of a destructive industrialist.

The Magnificent Seven adalah remake dari film western berjudul sama yang diproduksi tahun 1960. Film aslinya sendiri adalah versi barat dari film klasik, Seven Samurai karya sineas legendaris Jepang, Akira Kurosawa. Film aslinya dibintangi sederetan bintang top kala itu seperti Yul Brynner, Eli Wallach, Steve McQueen, Charles Bronson, serta James Coburn. Kini film remake-nya pun nyaris sama dengan beberapa nama besar seperti, Denzel Washington, Chris Pratt, Ethan Hawke, hingga bintang asia, Byung-hun Lee.  Antoine Fuqua yang sering menggarap genre aksi dan kriminal kini mencoba genre baru baginya.

Alkisah sebuah kota kecil, Rose Creek, yang memiliki tambang emas kini dikuasai oleh seorang pengusaha keji bernama Bartholomew Bogue. Warga kota akhirnya mencoba meminta pertolongan pihak luar dan usaha tersebut memetik hasil dengan berhasil merekrut seorang pemburu buron, Sam Chisolm. Sam akhirnya merekrut beberapa rekan serta jago tembak dan Indian yang ia temui sepanjang perjalanan hingga berjumlah tujuh orang. Walau mereka semuanya jago dan mahir menggunakan senjata api namun misi ini tidak semudah yang mereka bayangkan.

Inti kisahnya kurang lebih sama dengan film aslinya atau bahkan Seven Samurai namun beberapa detil cerita jelas berbeda dan disesuaikan dengan penonton masa kini. Sejak awal filmnya berjalan dengan cepat nyaris tidak berhenti sedikitpun dan suara desing peluru tiap kali ada dalam tiap adegannya. Drama bukan menu utama film ini namun adalah aksi. Walau setiap tokohnya tidak dieksplor secara mendalam namun penokohan karakternya sudah lebih dari cukup. Satu hal yang terpenting adalah bukan latar belakang mereka namun adalah kemampuan dan kelihaian mereka dengan senjata api. Ini sudah cukup.

Baca Juga  The Woman in Cabin 10 | REVIEW

Aksi klimaks yang ditunggu jelas tidak tanggung-tanggung. Entah sudah berapa banyak orang yang tewas dalam satu shot sudah tidak terhitung lagi. Suara ledakan dinamit, tembakan senjata api, desingan peluru, suara deru kuda, hingga panorama alam barat yang khas terus menerus bergantian memanjakan mata dan telinga penonton. The Magnificent Seven adalah ibarat Mad-Max-nya genre western. Para fans sejati film western atau aksi dijamin bakal terpuaskan. Duel senjata api dengan segala bentuk dan sisi. Bukankah ini alasan mengapa kita menyukai genre ini sejak awal? Akhirnya menutup dengan manis, ilustrasi musik film aslinya yang sangat legendaris menghentak pada kredit penutupnya.

The Magnificent Seven walau tak lagi orisinil adalah sebuah remake yang penuh aksi dengan para bintangnya yang bakal mengobati kerinduan para pecinta genre western yang kini kian langka. Sangat menyenangkan melihat para pemain bintang seperti Denzel, Pratt, Hawke serta lainnya terlihat sekali amat menikmati perannya. Jika dibandingkan dengan film aslinya atau bahkan Seven Samurai, versi remake ini jelas berbeda dan tidak akan menggantikan film-film klasik tersebut namun dijamin setiap rupiah yang Anda keluarkan untuk menonton film berdurasi 133 menit ini tidak akan rugi. Sekalipun hanya menyajikan aksi semata namun beberapa momen filmnya sangat menyentuh karena di era kini sekalipun kita masih mendambakan sosok jagoan yang mau berjuang untuk rakyat kecil untuk menegakkan keadilan dengan taruhan nyawa mereka sekalipun.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaPete’s Dragon
Artikel BerikutnyaRooney Mara Bintangi film Drama Vox Lux
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses