The Mule (2018)
116 min|Crime, Drama, Thriller|14 Dec 2018
7.0Rating: 7.0 / 10 from 165,692 usersMetascore: 58
A ninety-year-old horticulturist and Korean War veteran turns drug mule for a Mexican cartel.

The Mule adalah film drama kriminal arahan sineas dan aktor kawakan Clint Eastwood. Eastwood kini tercatat sebagai salah satu pelaku industri film tertua di Hollywood yang karirnya mulai aktif sejak tahun 1950-an hingga kini. Eastwood yang usianya kini mendekati 90 tahun justru malah semakin aktif satu dekade belakangan dengan mengarahkan belasan film, termasuk diantaranya film-film berkelas macam Gran Torino, Invictus, American Sniper, hingga Sully.

The Mule tercatat adalah penampilan akting sang aktor sebagai pemain utama sejak Gran Torino satu dekade silam. Film ini diadaptasi dari kisah nyata yang dimuat dalam satu artikel surat kabar New York Times tentang seorang kakek tua yang menjadi kurir narkoba sebuah jaringan kartel besar. Selain Eastwood, film ini dibintangi Bradley Cooper, Dianne West, Laurence Fishburne, Michael Pena, dan Andy Garcia. Melalui The Mule, Sang sineas mampu membuktikan bahwa usia lanjut ternyata bukan berarti tak mampu memproduksi film berkualitas.

Earl Stone adalah seorang kakek tua berumur 90 tahun yang mencintai tanaman bunga lebih dari keluarganya. Putri dan istrinya amat membencinya hingga berkomunikasi pun mereka sudah amat jarang. Suatu ketika bisnis bunga miliknya kandas, dan ia pun terpaksa mencoba mencari cara lain untuk menghidupi dirinya. Akhirnya, ia menerima pekerjaan lepas sebagai kurir narkoba sebuah kartel besar di wilayahnya. Imbalan besar membuat Earl pun ketagihan melakoni profesi barunya ini.

Bicara kisah film ini tentu tak lepas dari film-film karya Clint Eastwood lainnya. Sejak Unforgiven, sang sineas banyak bergelut dengan tema “penebusan dosa”, khususnya dalam film yang ia perankan sendiri. The Mule tak lepas dari tema ini dengan fokus pada masalah keluarga. Kisahnya bergulir sederhana dengan kunci masalah pokok dituturkan demikian gamblang. Tak banyak latar konflik yang disajikan, dan kurang terdapat argumen kuat mengapa Earl bersikap begitu. Hingga akhir pun, fokus masalah keluarga hanya tertuju pada penyesalan sang kakek. Ya oke, Earl adalah seorang ayah dan suami brengsek bagi keluarganya, namun kita tentu berharap lebih dari ini. Hal ini yang membuat kisahnya terasa kurang menggigit.

Baca Juga  The Electric State | REVIEW

Sang sineas memiliki gaya estetik yang khas dalam mengemas filmnya, dan ini juga tampak dalam The Mule. Sinematografi yang kuat selalu menjadi ikon karyanya, dan setting The Mule yang selalu berpindah lokasi memberinya pilihan gambar yang bervariasi dengan komposisi yang amat terukur. Ritme editing yang cenderung sabar bergerak selaras mengikuti plotnya yang bergerak lambat. Sekalipun begitu, penonton mampu dibawa masuk ke dalam kisahnya serta mampu selalu dibuat penasaran apa yang bakal terjadi dengan selipan sisi ketegangan dalam beberapa momennya. Lantunan lagu-lagu lawas pun juga mengiringi perjalanan kisahnya membuat tone yang lambat menjadi terasa begitu menyenangkan.

The Mule adalah satu film drama kriminal yang menyentuh dengan pesan keluarga yang kuat, sekalipun bukan penampilan dan karya terbaik dari sang aktor dan sineas. Sang sineas yang telah uzur memang tidak lantas membuat filmnya memudar. Kematangan teknisnya justru tampak terlihat dari semua aspeknya. Tambah tua tambah bijak. Bisa jadi ini ungkapan yang pas bagi seorang Clint Eastwood. Satu momen menyentuh di penghujung film, bisa jadi akan lebih terasa mengena bagi penonton yang telah memiliki cucu. Generasi muda pun jelas bisa mengambil banyak hikmah dari film ini. “Saya bisa membeli apapun tapi saya tidak bisa membeli waktu yang telah hilang”, ujar Earl. Sederhananya, jangan sia-siakan waktumu untuk bisa bersama dengan keluarga, begitu sang sineas memberi petuah melalui film ini.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaOrang Kaya Baru
Artikel BerikutnyaMatt & Mou
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses