The Mule (2018)
116 min|Crime, Drama, Thriller|14 Dec 2018
7.2Rating: 7.2 / 10 from 11,685 usersMetascore: 58
A 90-year-old horticulturist and Korean War veteran is caught transporting $3 million worth of cocaine through Illinois for a Mexican drug cartel.

The Mule adalah film drama kriminal arahan sineas dan aktor kawakan Clint Eastwood. Eastwood kini tercatat sebagai salah satu pelaku industri film tertua di Hollywood yang karirnya mulai aktif sejak tahun 1950-an hingga kini. Eastwood yang usianya kini mendekati 90 tahun justru malah semakin aktif satu dekade belakangan dengan mengarahkan belasan film, termasuk diantaranya film-film berkelas macam Gran Torino, Invictus, American Sniper, hingga Sully.

The Mule tercatat adalah penampilan akting sang aktor sebagai pemain utama sejak Gran Torino satu dekade silam. Film ini diadaptasi dari kisah nyata yang dimuat dalam satu artikel surat kabar New York Times tentang seorang kakek tua yang menjadi kurir narkoba sebuah jaringan kartel besar. Selain Eastwood, film ini dibintangi Bradley Cooper, Dianne West, Laurence Fishburne, Michael Pena, dan Andy Garcia. Melalui The Mule, Sang sineas mampu membuktikan bahwa usia lanjut ternyata bukan berarti tak mampu memproduksi film berkualitas.

Earl Stone adalah seorang kakek tua berumur 90 tahun yang mencintai tanaman bunga lebih dari keluarganya. Putri dan istrinya amat membencinya hingga berkomunikasi pun mereka sudah amat jarang. Suatu ketika bisnis bunga miliknya kandas, dan ia pun terpaksa mencoba mencari cara lain untuk menghidupi dirinya. Akhirnya, ia menerima pekerjaan lepas sebagai kurir narkoba sebuah kartel besar di wilayahnya. Imbalan besar membuat Earl pun ketagihan melakoni profesi barunya ini.

Bicara kisah film ini tentu tak lepas dari film-film karya Clint Eastwood lainnya. Sejak Unforgiven, sang sineas banyak bergelut dengan tema “penebusan dosa”, khususnya dalam film yang ia perankan sendiri. The Mule tak lepas dari tema ini dengan fokus pada masalah keluarga. Kisahnya bergulir sederhana dengan kunci masalah pokok dituturkan demikian gamblang. Tak banyak latar konflik yang disajikan, dan kurang terdapat argumen kuat mengapa Earl bersikap begitu. Hingga akhir pun, fokus masalah keluarga hanya tertuju pada penyesalan sang kakek. Ya oke, Earl adalah seorang ayah dan suami brengsek bagi keluarganya, namun kita tentu berharap lebih dari ini. Hal ini yang membuat kisahnya terasa kurang menggigit.

Baca Juga  The Shallow

Sang sineas memiliki gaya estetik yang khas dalam mengemas filmnya, dan ini juga tampak dalam The Mule. Sinematografi yang kuat selalu menjadi ikon karyanya, dan setting The Mule yang selalu berpindah lokasi memberinya pilihan gambar yang bervariasi dengan komposisi yang amat terukur. Ritme editing yang cenderung sabar bergerak selaras mengikuti plotnya yang bergerak lambat. Sekalipun begitu, penonton mampu dibawa masuk ke dalam kisahnya serta mampu selalu dibuat penasaran apa yang bakal terjadi dengan selipan sisi ketegangan dalam beberapa momennya. Lantunan lagu-lagu lawas pun juga mengiringi perjalanan kisahnya membuat tone yang lambat menjadi terasa begitu menyenangkan.

The Mule adalah satu film drama kriminal yang menyentuh dengan pesan keluarga yang kuat, sekalipun bukan penampilan dan karya terbaik dari sang aktor dan sineas. Sang sineas yang telah uzur memang tidak lantas membuat filmnya memudar. Kematangan teknisnya justru tampak terlihat dari semua aspeknya. Tambah tua tambah bijak. Bisa jadi ini ungkapan yang pas bagi seorang Clint Eastwood. Satu momen menyentuh di penghujung film, bisa jadi akan lebih terasa mengena bagi penonton yang telah memiliki cucu. Generasi muda pun jelas bisa mengambil banyak hikmah dari film ini. “Saya bisa membeli apapun tapi saya tidak bisa membeli waktu yang telah hilang”, ujar Earl. Sederhananya, jangan sia-siakan waktumu untuk bisa bersama dengan keluarga, begitu sang sineas memberi petuah melalui film ini.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaOrang Kaya Baru
Artikel BerikutnyaMatt & Mou
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini