Profesi dokter sudah barang tentu amat lekat dengan obat-obatan. Namun ketika seorang dokter meresepkan obat-obatan untuk para pencandu narkoba sekaligus memberi bantuan “berbahaya” untuk saudaranya, apa jadinya? Médecin de Nuit aka The Night Doctor menunjukkan problematika tersebut lewat kisah satu malamnya. Masih dengan kebiasaan lama, Elie Wajeman mengarahkan sendiri naskah garapannya. Walau kali ini ia tak bersama Gaëlle Macé, melainkan Agnès Feuvre dan Vincent Macaigne. Para pemain dalam film drama thriller kriminal produksi Partizan Films ini yaitu Vincent Macaigne, Sarah Le Picard, Florence Janas, Lou Lampros, Sara Giraudeau, dan Pio Marmaï. Hanya kisah para pencandu dan penyedia obat mereka, ataukah ada hal lain dalam Médecin de Nuit?

Mickaël Kourtchine (Macaigne), pria, suami, dan orang tua dari seorang anak dengan pekerjaan sebagai dokter jaga malam. Namun, ia tak cuma berkendara dari rumah ke rumah untuk mengobati pasien-pasiennya, melainkan pula meresepkan obat-obatan untuk para pencandu narkoba. Terdengar mulia, padahal para pencandu itu justru kecanduan dengan obat-obatan dari resepnya. Kourtchine sekaligus pula “membantu” bisnis sepupunya, Dimitri (Marmaï), yang dari balik bayangan bukanlah bisnis sehat. Sang dokter rupanya tersandung masalah lain di luar relasinya dengan Dimitri, berselingkuh dari istrinya, Sacha (Picard), dengan Sofia (Giraudeau), rekan kerja Dimitri. Kerumitan yang terjadi berikutnya ternyata malah berada di luar kendali Kourtchine.

Feuvre dan Macaigne merancang karakter untuk tokoh rekaan mereka seolah bukan manusia. Sosoknya yang seakan sulit “dikalahkan” hampir saja seperti John Wick dalam ketiga filmnya, Rob dalam Pig, maupun Ma Seok-do dalam The Roundup. Namun, sukar sekali melogika “keampuhan” pembelaan diri Mickaël Kourtchine, si tak terkalahkan dalam Médecin de Nuit. Tak seperti kita dapat dengan mudah memaklumi Wick, Rob, maupun Ma Seok-do. Problem yang menyebabkannya adalah perbedaan latar belakang profesi masing-masing. Kita tahu alasan di balik ketangguhan Wick dan Ma Seok-do maupun kemampuan bertahan Rob berasal dari mana. Namun Kourtchine? Sineasnya saja hanya memberi tahu kita mengenai pekerjaannya sebagai dokter.

Walau dengan ketidakmasukakalan Médecin de Nuit dalam meramu bangunan karakter sang dokter dari segi fisik, film ini punya cara bertutur yang paling pas untuk mengawal rutinitas Kourtchine. Hampir keseluruhan cerita Médecin de Nuit yang berlangsung pada malam hari dikisahkan secara kronologis dari sore hingga pagi. Film ini pun menggunakan pendekatan serupa dengan Tokyo Shaking yang tayang pula dalam Festival Sinema Prancis 2022. Penceritaan terbatas hanya melalui sudut pandang tokoh utama. Sang sineas dan para penulisnya mengajak penonton untuk mengikuti kegiatan sang tokoh menjadi dokter jaga dalam satu malam. Agaknya, ini salah satu dari beberapa nilai lebih Médecin de Nuit.

Médecin de Nuit pun tampaknya menjajal pula fungsi-fungsi fundamental dari sejumlah unsur filmis. Misalnya permainan warna untuk menunjukkan perbedaan karakter dan emosi dua tokoh sentralnya dalam sebuah situasi. Wajeman merancang momen keberadaan Kourtchine di lokasi perayaan ulang tahun sepupunya, Dimitri, dengan memasukkan dimensi warna merah dan biru di sana. Seakan sang sineas mempertegas, bahwa kedua pria bersaudara tersebut memang menyikapi persoalan obat-obatan yang mengancam mereka dengan cara pandang dan emosi yang berlawanan. Panas dan dingin, marah dan santai, panik dan penuh akal (licik). Namun tindakan yang terjadi sesudah pertemuan mereka sangat frontal.

Baca Juga  Barbarian

Kourtchine yang berdiri di “persimpangan jalan” malah menempatkan dirinya pada masalah baru terkait hubungan asmara. Ia malah berencana kabur meninggalkan segala hal (termasuk istri dan anak) dengan selingkuhannya, sekaligus mantan rekan kerja sepupunya. Persimpangan jalan yang hampir tak berguna bagi plot utama, kecuali sebagai jalur pelarian sementara sang tokoh. Dalam gelapnya malam sebagai shift kerjanya, Kourtchine justru ikut gelap mata. Kebingungan mencari jalan keluar terbaik dan tempat berlabuh paling tepat.

Kecuali kampanye soal kedokteran, apoteker, farmasi, dan kehidupan malam penuh pencandu narkoba, Médecin de Nuit hanya satu dari banyak film dengan pengemasan serupa. Sekadar mengikuti tokoh utama, perkara orang ketiga, masalah komunikasi tak sehat antara suami dan istri, penipuan oleh saudara, dan dimensi waktu dalam film hanya satu malam. Meski kriminalitas yang melibatkan para pencandu dan dunia kedokteran lewat resep-resep obat bertanda tangan Kourtchine bukanlah perkara enteng belaka. Begitu pula ketegangan dan misteri dari thriller-nya yang cukup nikmat. Terlebih dengan adegan terakhirnya yang (untuk sesaat) menghentakkan penonton dari kursi. Peristiwa yang sudah sejak awal cerita berkemungkinan menimpa sang tokoh utama, sebagai risiko dari tindakan dan prinsipnya terhadap para pencandu narkoba.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaTokyo Shaking (Festival Sinema Prancis)
Artikel BerikutnyaMagnetic Beats (Festival Sinema Prancis)
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.