The Night Eats the World (2018)
93 min|Drama, Horror, Thriller|13 Jul 2018
6.0Rating: 6.0 / 10 from 8,529 usersMetascore: 50
The morning after a party, a young man wakes up to find Paris invaded by zombies.

The Night Eats The World adalah film drama thriller garapan Dominique Rocher yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pit Agarman. Film ini berjalan nyaris sepanjang filmnya hanya menampilkan satu pemain saja, yakni Anders Danielsen Lie. Film subgenre zombi telah ramai menyerbu pasar dengan beragam cerita dan varian, sekarang apa lagi yang mau ditawarkan The Night Eats the World?

Alkisah seorang musikus bernama Sam, pada suatu malam ingin mengambil barang-barang miliknya yang masih ada di apartemen mantan pacarnya. Pada saat yang bersamaan, sang mantan tengah mengadakan pesta besar hingga Sam dibuat frustasi oleh situasi tersebut. Sam akhirnya memilih untuk menunggu di satu ruangan yang sepi dan ia pun tertidur. Keesokan harinya, ia melihat apartemen telah kacau balau, bercak darah di mana-mana, dan tak ada seorang pun di sana, hingga ia akhirnya menyadari bahwa satu Kota Paris telah terkena wabah “zombi”.

Plot bertahan hidup semacam ini memang bukan hal yang baru lagi untuk subgenrenya. Hanya bedanya kali ini, tokoh utama hanya seorang diri dan hanya terbatas dalam satu lokasi bangunan apartemen di Kota Paris. Kisah asal muasal dari mana wabah berasal tak disinggung sama sekali karena memang bukan ini fokus cerita. Berjalan dengan lambat, kisah filmnya lebih menekankan pada bagaimana Sam bertahan hidup, mencari sumber makanan dari lantai ke lantai, dalam waktu yang cukup lama. Film ini adalah sebuah studi karakter, bagaimana secara kejiwaan dan psikologis seorang manusia dihadapkan dalam situasi ekstrem tersebut. Film ini menyajikan ini semua dengan baik dengan penampilan yang mengesankan dari sang aktor. Sosoknya yang seorang musikus juga secara unik memperlihatkan bagaimana cara Sam menghabiskan waktu senggangnya untuk bermain musik dengan benda-benda yang ada di sekitarnya.

Baca Juga  Mortal Kombat Legends: Scorpion’s Revenge

The Night Eats the World memang bukan yang terbaik di subgenrenya, namun pendekatan sisi humanis dan psikologis, serta karakter tokohnya yang unik menjadi kekuatan filmnya. Dengan dukungan setting dan penampilan memukau dari Anders Danielsen Lie, film ini terasa begitu nyata dan amat berbeda dengan film sejenis yang lebih sering menampilkan sisi ketegangan dan aksi yang cepat. Film ini secara manis juga menyelipkan pesan sederhana tentang hidup. Kita harus berani mengambil resiko dan mengambil keputusan untuk menghadapi suatu masalah pelik, maka opsi jalan keluar akan terhampar di hadapan kita dengan sendirinya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel Sebelumnya11:11 : Apa yang Kau Lihat?
Artikel BerikutnyaAcademy Awards 2019 Winner
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.