The Photograph (2007)
94 min|Drama|21 Jan 2009
6.7Rating: 6.7 / 10 from 294 usersMetascore: N/A
An escort at a karaoke bar struggles to raise money to send her daughter out of the city to live with her grandmother and settle her debts with her pimp. She moves in with an aging photographer and helps him fulfill his last wishes.

The Photograph adalah sebuah film karya Nan T. Achnas yang sebelumnya kita kenal melalui filmnya Pasir Berbisik dan Bendera. Seperti film-film karya sang sineas sebelumnya, film ini kembali mengangkat tema yang tidak lazim, jauh berbeda dengan tren horor, komedi, dan percintaan remaja yang berkembang saat ini. Film ini jelas tidak ditujukan untuk kalangan penonton awam namun lebih untuk segmen penonton khusus yang memiliki selera seni “tinggi”. Uniknya pula, pemeran pria utama menggunakan aktor kawakan asal Singapura, Lim Kay Tong.

Cerita filmnya berpusat pada dua tokoh utama yakni, Sita (Shanty), seorang ibu muda yang merantau jauh ke kota untuk mencari nafkah, serta Pak Johan (Tong), seorang fotografer tua keturunan Tionghoa yang selalu dibayangi memori kematian istri dan anaknya. Sita bekerja sebagai seorang penyanyi di sebuah klub malam. Ia membanting tulang demi putri dan neneknya yang sakit-sakitan di kampungnya. Sita yang memiliki banyak masalah di tempat kerjanya akhirnya tinggal dan bekerja di tempat Pak Johan. Selama tinggal di tempat Pak Johan, Sita banyak menimba pelajaran hidup dari sang fotografer baik suka maupun duka.

Bagi penonton awam film ini boleh jadi sangat membosankan karena cerita yang datar serta tempo cerita yang lambat. Namun justru inilah yang menjadi kelebihan film ini. Bahasa visual lebih banyak berbicara ketimbang ceritanya sendiri. Kekuatan filmnya terutama tampak pada komposisi fotografi yang cukup menawan. Shot-shot banyak didominasi oleh kamera statis dengan hanya sesekali menggunakan pergerakan kamera. Sineas juga sering kali bermain dengan efek kedalaman gambar yakni, permainan latar depan dan latar belakang. Pilihan set perkampungan Tionghoa yang kumuh didukung tata cahaya low-key lighting sangat pas dengan kisah suram Sita dan Pak Johan. Last but not least, Lim Kay Tong bermain begitu menawan sebagai sosok Pak Johan yang dingin.

Baca Juga  Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul

Terlalu banyak masalah dalam cerita filmnya namun tak ada yang terjawab tuntas. Masalah Sita, rasa bersalah Pak Johan pada istri dan anaknya, pencarian penerusnya, serta rasa bersalah pada leluhur. Semuanya tak ada yang terjawab dan hanya diselesaikan dengan sederhana melalui “Kematian”. What’s so special about it? Hal yang juga mengganjal adalah tidak jelasnya motif penggunaan narator, yakni Yani, putri Sita. Siapa sebenarnya Yani (sekarang)? Apa pengaruh pengalaman ibunya tersebut terhadap dirinya tidak dijelaskan. Hanya disebutkan di awal film jika, “kisah ini menyentuh saya (Yani)”. So what? Apanya yang tersentuh? Kenapa bukan Sita yang menjadi narator. Sitalah yang mengalami semua peristiwa dan mungkin memengaruhi kehidupannya setelah ini.

Film ini sedikit banyak mengingatkan penulis pada sebuah film produksi Hong kong berjudul, The King of Masks arahan Wu Tianming yang berkisah tentang laki-laki penari topeng yang mencari seorang bocah sebagai penerusnya. Kisahnya sedikit mirip dengan The Photograph hanya bedanya film ini memiliki alur cerita jauh lebih dramatik dengan ending yang begitu kuat. The Photograph memiliki potensi cerita (tema) yang cukup untuk memiliki pukulan akhir yang mematikan, namun sayangnya berakhir datar-datar saja. Masih jauh tampaknya jika The Photograph ikut bersaing dalam ajang-ajang kompetisi film bergengsi.

Artikel SebelumnyaPocong 2
Artikel BerikutnyaMerah itu Cinta, Mencoba Berbeda
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.