The Possession of Hannah Grace (2018)
86 min|Horror, Mystery, Thriller|30 Nov 2018
5.2Rating: 5.2 / 10 from 25,776 usersMetascore: 37
When a cop who is just out of rehab takes the graveyard shift in a city hospital morgue, she faces a series of bizarre, violent events caused by an evil entity in one of the corpses.

The Possession of Hannah Grace adalah satu film horor garapan sineas pendatang baru Diederik Van Rooijen. Film berbujet US$ 9,5 juta ini dibintangi nama-nama tak familiar, macam Shay Micthell, Grey Damon, serta Kirby Johnson. Kita tahu, film horor supernatural sejenis sudah ratusan jumlahnya, dan semakin tipis kemungkinan untuk bisa menemukan formula baru untuk subgenre ini. Kita lihat, apakah film ini mampu menyajikan hal menjadi berbeda?

Megan adalah seorang mantan polisi yang dibayangi trauma masa lalunya. Suatu ketika, ia menerima pekerjaan sebagai asisten lantai kamar mayat pada jam dini hari (diistilahkan graveyard shift) di sebuah rumah sakit besar di Kota Boston. Ia bekerja mulai malam hingga pagi hari, hanya seorang diri saja di lantai tersebut. Semua tampak normal hingga datang jasad seorang perempuan muda bernama Hannah Grace yang tewas ketika proses pengusiran setan dilakukan terhadapnya. Hal-hal aneh mulai terjadi, dan Megan mulai sulit membedakan antara ilusi dan kenyataan. Plot yang terlalu familiar untuk genrenya bukan?

Sebelum menonton memang tak ada ekspektasi tinggi untuk film ini. Rasanya, ada ratusan film horor  memiliki plot “kerasukan setan” macam ini dan yang membedakan hanyalah lokasi dan latar tokohnya, termasuk pula seri Conjuring. Dua tahun lalu juga dirillis film horor yang plotnya nyaris mirip dengan film ini, yakni The Autopsy of Jane Doe. Saya sangat berharap film ini mampu menyajikan sesuatu yang sama sekali berbeda. Usaha sudah dilakukan menggunakan pengalihan sisi psikologis sang tokoh, namun hasil akhirnya sama. Tak ada ketegangan dan kejutan berarti. Pilihan belokan plotnya hanya itu-itu saja dan tone film ini pun lebih terlihat layaknya film alien ketimbang film horor. Sayang sekali, padahal ide dan konsep ceritanya sangat menarik dan rasanya memungkinkan untuk dieksplor berbeda.

Baca Juga  Extraction 2

Dengan premis menarik, The Possession of Hannah Grace hanyalah satu horor supernatural rutin dengan formula familiar yang tak lagi bisa merasuk ke penonton. Potensi setting terbatas, permainan cahaya, serta para pemain yang tampil baik, tak mampu banyak mengangkat filmnya. Film ini rasanya membuktikan bahwa genre horor supernatural macam ini telah mengalami titik kejenuhan. Mau tak mau, para pembuat film horor harus lebih berani mengambil resiko entah dari kemasan kisah maupun estetiknya. Jika memang mau buat, tak usah tanggung-tanggung. Mungkin kombinasi genre macam Overlord baru lalu, bisa ditiru. Horor supernatural dan alien? Mengapa tidak.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaNamaMu Kata Pertamaku
Artikel Berikutnya20 FILM HOROR INDONESIA TERLARIS SEPANJANG MASA
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.