The Shallows (2016)

86 min|Action, Drama, Horror|24 Jun 2016
6.3Rating: 6.3 / 10 from 143,458 usersMetascore: 59
A mere 200 yards from shore, surfer Nancy is attacked by a great white shark, with her short journey to safety becoming the ultimate contest of wills.

Sejak Jaws (1974) arahan sineas kondang Steven Spielberg coba saja sebut film bergenre sejenis yang relatif berkualitas? Nyaris tidak ada. Sekuel Jaws masih memiliki taring yang cukup menggigit namun setelahnya nyaris tak ada lagi. Deep Blue Sea (1999) walau terbilang lumayan namun hingga kini pun tidak pernah disebut-sebut. Sementara sang sineas, spesialis aksi thriller, Jaume Collet-Serra, yang tiga film terakhirnya berkolaborasi bersama aktor gaek, Liam Nesson (Unknown, Nonstop, Run All Night) kali ini mencoba menjajal genre “serangan hiu” ini. Hasilnya pun ternyata jauh dari buruk.

Alkisah Nancy yang trauma setelah kematian sang ibu berlibur di Mexico dan menjajal pantai rahasia tempat dimana ibunya pernah berselancar disini. Bersama dua pemuda lokal Nancy berselancar dengan penuh suka cita hingga seekor hiu putih besar merusak acara mereka. Nancy terjebak di sebuah batu karang kecil yang cukup jauh dari pantai dan ia harus mencari cara sebelum air pasang menggenangi batu karang tersebut.

Plotnya sangat sederhana dan intinya hanya bagaimana agar Nancy bisa bertahan hidup dan lolos dari situasi tersebut. Momen demi momen disajikan secara efektif tanpa mengurangi rasa ketegangan kisahnya. Tak ada yang dilebih-lebihkan, semuanya berjalan wajar dan natural. Beberapa momen memang terasa agak membosankan namun terbayar melalui segmen klimaks yang menegangkan. Hal yang menarik tampak di awal film yang menggambarkan secara nyata dan detil proses berselancar dari menggosok papan hingga berselancar di tengah gulungan ombak laut. Penonton seolah benar-benar dibawa ikut dan menikmati berselancar seperti halnya Nancy.

Baca Juga  Angels & Demons

Sejak awal sudah terlihat jika sang sineas menggunakan banyak pendekatan sinematik yang unik. Shot close up terlihat lebih dominan ketimbang shot jauh sehingga semakin mendekatkan kita secara personal dengan karakter Nancy. Teknik superimpose rasanya kini sudah amat jarang dipakai namun dalam beberapa adegan yang melibatkan komunikasi via handphone cukup efektif digunakan dan sangat menarik secara visual. Terakhir, walau tak sekuat score Jaws namun ilustrasi musiknya cukup lumayan untuk menambah suasana ketegangan.

The Shallows memang bukan Jaws namun film thriller ini secara efektif mampu mengobati rasa rindu terhadap sub genre (serangan hiu) sejenis. Dengan konsep minimalis film ini mampu memberikan ketegangan cerita secara maksimal. Sisi drama pun juga sangat baik menyatu dengan kisahnya, sang ibu memberikan pelajaran hidup berharga bagi Nancy untuk keluar dari masalah batinnya dan menyadari bahwa keluarga amat penting baginya. Tak luput pula, hubungan uniknya dengan “Steven Seagull”, yang setia menemani Nancy di masa-masa sulit di batu karang. Mungkin agak berlebihan namun tak salah jika The Shallows adalah film hiu terbaik sejak Jaws.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaFans DC Ajukan Petisi Menutup Rotten Tomatoes
Artikel BerikutnyaSuicide Squad Pecahkan Rekor Minggu Pertama!
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.