https://www.imdb.com/title/tt5580390/?ref_=nv_sr_1

Guillermo del Toro seperti kita tahu memiliki gaya yang unik melalui film-filmnya, sebut saja seri Hellboy, Pan’s Labyrinth, Pacific Rim, hingga Crimson Peaks. Sang sineas identik dengan monster atau makhluk unik/aneh dengan kemasan setting khas yang suram. Terinspirasi dari kenangan masa kecilnya ketika menonton Creature from The Black Lagoon, del Toro menulis naskah The Shape of Water. Film yang berkisah tentang hubungan unik antara wanita bisu dan monster air. Dengan kisah dan latar ceritanya, del Toro bisa kembali secara maksimal mengeksplorasi sentuhan artistiknya yang memang mengagumkan.

Kisah filmnya berlatar tahun 1962, di kota pelabuhan Baltimore, semasa AS perang dingin dengan Soviet. Elisa (Sally Hawkins) sang tokoh sentral, adalah wanita bisu sejak lahir yang bekerja sebagai cleaning service di sebuah fasilitas laboratorium rahasia milik negara. Entah mengapa karakter wanita muda ini banyak mengingatkan pada sosok Audrey Hepburn yang kebetulan memiliki nama peran sama di film drama roman, My Fair Lady. Elisa tinggal sendirian di apartemen unik, bertetangga dengan seniman tua eksentrik, dan dibawah kamarnya persis adalah gedung bioskop. Di tempat kerjanya, Elisa ditemani sang rekan, Zelda (Octavia Spencer), perempuan kulit hitam yang terus berceloteh saat kerja. Suatu ketika, fasilitas tersebut kedatangan satu obyek penelitian rahasia, yang ternyata adalah seekor monster amfibi. Elisa yang sering membersihkan ruang lab tersebut, lambat laun menjalin komunikasi secara intensif dengan sang monster.

Ibarat kisah klasik Beauty and the Beast (atau lebih tepatnya The Mute and the Beast), film ini berintikan kisah hubungan asmara antara Elisa dengan sang monster. Latar cerita perang dingin membuatnya menarik karena memasukkan sub plot intrik antara pihak Soviet, yang mampu mengalihkan kita dari inti kisah sesungguhnya. Sedikit aksi “pencurian” membuat plotnya semakin atraktif walau keseluruhan alur cerita, rasanya tak sulit untuk ditebak arahnya. Tak banyak kejutan cerita, hanya drama roman dan sedikit sisipan komedi. Nyaris tak ada yang istimewa. Entah apa ada pesan tersembunyi, saya tak mampu membacanya. Era ini di AS memang masa yang penuh konflik, selain perang dingin (ancaman paham komunis dan perang nuklir) juga gerakan hak asasi manusia mulai memanas, terutama gerakan aktivis kulit hitam. Mungkin film ini hanya murni bicara soal cinta yang tidak mengenal batas.

Baca Juga  French Tech (Festival Sinema Prancis)

Satu hal yang tak pernah membuat bosan adalah jelas sisi artistik filmnya. Film-film del Toro selalu menampilkan gaya setting khas dengan lorong panjang bawah tanah yang selalu ia kemas secara unik. Bahkan apartemen Elisa pun, melalui elemen perabot, bentuk jendela, hingga tata cahaya, memiliki sentuhan nuansa fantasi yang menawan. Walau tak masuk akal, satu adegan indah disajikan ketika kamar mandi Elisa disulap bagai akuarium besar dimana ia memadu kasih di sana. Amat imajinatif. Sementara dari sisi pemain, baik tokoh utama maupun pendukung, semuanya bermain amat baik, khususnya Sally Hawkins. Satu pemain lagi yang menarik perhatian penonton tentunya adalah sosok kolonel Strickland yang diperankan Michael Shannon.

The Shape of Water memadukan kisah unik roman-fantasi, dengan gaya mise_en_scene khas yang menjadi tradisi sang sineas. Bersama Tim Burton, del Toro adalah dua sineas langka yang memiliki sentuhan artistik unik sedemikian rupa. Rasanya tak ada sineas lain yang memiliki visi artistik begitu konsisten seperti dua sineas ini. The Shape of Water mendominasi perolehan nominasi di ajang Academy Awards tahun ini dengan 13 nominasi, termasuk film terbaik, sutradara, naskah asli, dan aktris terbaik. Kita lihat saja beberapa hari lagi, berapa banyak ia bisa membawa pulang Piala Oscar. Del Toro telah mendapat penghargaan sutradara terbaik pada ajang Gloden Globe dan BAFTA beberapa waktu lalu.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaDeath Wish
Artikel BerikutnyaBenyamin Biang Kerok
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.