The Sorcerer's Apprentice (2010)
109 min|Action, Adventure, Family|14 Jul 2010
6.1Rating: 6.1 / 10 from 169,648 usersMetascore: 46
A protege of the magician Merlin must train his teacher's successor - an introverted but resourceful physics prodigy - in the art of sorcery to prevent the return of Morgana le Fay.

Alkisah ribuan tahun silam di Britania sang penyihir besar Merlin membagi ilmu sihirnya untuk ketiga muridnya, yakni Balthazar Blake (Cage), Maxim Hogvarts (Molina), serta Veronica (Belucci). Hogvarts mengkhianati mereka bersekutu dengan penyihir jahat Morgana yang berakhir dengan kematian Merlin. Veronica mengorbankan dirinya untuk Balthazar dan memasukkan roh Morgana dalam tubuhnya dan menyekap dirinya pada sebuah “guci” khusus. Sebelum ajalnya, Merlin menyuruh Balthazar untuk mencari penerus sejatinya yang kelak dapat menghancurkan seluruh kekuatan Morgana. Ribuan tahun lamanya Baltazhar mencari penerus Merlin di seluruh penjuru dunia hingga akhirnya ia bertemu dengan Dave Stutler (Baruchel) di Manhattan.

Sungguh diluar dugaan kisah film ini tidak seserius yang kita bayangkan. Semuanya serba tanggung dari sisi mana pun. Ide cerita yang membawa mitos masa silam ke masa kini juga tak lagi baru karena sudah banyak film yang memiliki plot sejenis, seperti seri National Treasures (juga kolaborasi Turteltaub–Brucheimer), seri The Mummy, hingga Percy Jackson baru lalu. Plot filmnya sendiri juga terlalu sederhana dan mudah sekali diantisipasi tanpa kejutan berarti. Skala cerita tidak sebesar yang kita bayangkan. Plot filmnya terlalu kecil untuk cerita filmnya yang luas. Cerita hanya berpindah dari karakter satu ke lainnya tanpa substansi masalah yang serius. Para penyihir yang demikian hebat mau menguasai dunia dan satunya lagi mau menyelamatkan dunia tapi hanya melibatkan beberapa gelintir orang saja? Bisa saja namun rasanya terlalu naif. Kalau dipikir-pikir, Horvats plus pengikutnya dengan kekuatan yang dimiliki mereka sudah mampu mengusasai dunia tanpa harus membangkitkan Morgana.

Baca Juga  Kung Fu Panda 4

Bicara masalah pencapaian teknis terutama efek visual jika kita mundur sepuluh tahun kebelakang rasanya bisa diacungi jempol namun kini jelas sudah tidak ada apa-apanya. Coba bandingkan dengan The Mummy yang diproduksi satu dekade lalu, pencapaian rekayasa digitalnya masih jauh lebih baik dari film ini. Sangat menyedihkan memang. Bujet produksinya yang sangat besar sungguh tidak sepadan dengan hasilnya. Satu lagi yang menyedihkan adalah masalah kasting. Memang Cage dan Molina bermain pantas untuk perannya namun sosok karakter Dave yang diperankan Baruchel apa tidak salah kasting? Apakah Dave merupakan sosok yang pantas menjadi penerus penyihir besar Merlin yang berwibawa, bijak, cerdas, dan karismatik? I don’t think so. Sementara Teresa Palmer yang bermain sebagai Becky mampu tampil sebagai pemanis filmnya.

The Sorcerer’s Apprentice tidak menawarkan sesuatu yang baru. Plot good vs evil-nya terlalu klise dan tak menarik. Beberapa hal yang patut dicatat hanyalah satu sekuen aksi kejar-mengejar seru serta sisipan unsur komedinya. Kolaborasi kembali Turteltaub – Bruckheimer – Cage jelas ingin mencoba mengulang sukses seri National Treasures dan kali ini sepertinya mereka bakal gagal. The Sorcerer’s Apprentice tak ubahnya film anak-anak dan rasanya hanya bisa dinikmati betul oleh anak-anak berusia di bawah 12 tahun.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaDari Redaksi mOntase
Artikel BerikutnyaSalt, Spionase Non Stop Aksi
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.