The Tourist (2010)
103 min|Action, Thriller|10 Dec 2010
6.0Rating: 6.0 / 10 from 257,566 usersMetascore: 37
Revolves around Frank, an American tourist visiting Italy to mend a broken heart. Elise is an extraordinary woman who deliberately crosses his path.

Alexander Pearce adalah seorang buron internasional yang telah menggelapkan uang ratusan milyar Poundsterling. Interpol Inggris dibawah pimpinan Inspektur John Acheson (Bettany) mengawasi gerak-gerik wanita bernama Elise (Jolie) yang diduga dekat dengan Pearce. Elise mendapat petunjuk melalui sebuah surat agar ia bisa bertemu dengan Pearce sekaligus mengecoh para polisi yang menguntitnya. Elise mengikuti petunjuk untuk naik kereta ke Kota Venice dan duduk dengan seseorang yang sosoknya mirip dengan Pearce, yakni seorang turis bernama Frank Tupelo (Depp). Elise juga mengajak Frank untuk menginap di sebuah hotel mewah di Venice. Pihak polisi Inggris yang semula ingin menangkap Frank menyadari jika ternyata mereka dikecoh, namun satu kelompok gangster yang mendapat info yang salah justru ingin menangkap Frank.

Film ini konon adalah remake film Perancis berjudul Anthony Zimmer (2005). Entah seperti apa film aslinya, satu kelemahan menyolok film ini adalah plotnya yang buruk. Ide cerita sebenarnya cukup menarik sekalipun tak orisinil namun naskahnya tidak mampu memberikan cukup unsur misteri serta ketegangan yang diharapkan. Semuanya serba datar dan membosankan. Bahkan penonton yang cerdas sudah bisa menebak ending filmnya sejak awal. Amat terlalu mudah. Siapa menduga plotnya bakal seburuk ini? Naskah yang buruk juga diperparah dengan dialog-dialog yang sangat konyol dan tak perlu. Tempo film yang lambat dan membosankan, kisahnya yang cenderung serius, minim adegan aksi, ending yang sangat mudah ditebak, serta dialog yang buruk, Anda mau komentar apa lagi?

Baca Juga  Die in a Gunfight

Kombinasi bintang sekelas Depp dan Jolie sepertinya menjanjikan sebuah film yang istimewa namun terlepas dari naskahnya yang buruk, penampilan mereka juga sama sekali tidak menggigit. Tak ada sedikipun chemistry di antara mereka berdua. Sungguh konyol, akting Depp dan Jolie jelas terlalu lemah untuk karakter yang mereka perankan. Lokasi setting di kota air Venice juga menjanjikan sebuah panorama yang indah dan eksotis namun nyatanya juga tidak. Sudut-sudut kota Venice yang dipilih sama sekali tak menarik dan terlihat sepi. Kota Venice tak pernah terlihat membosankan seperti ini dalam sebuah film.

Sungguh mengherankan mengapa “tone” filmnya cenderung serius dan tidak mengarah ke komedi. Akting dan dialog konyol serta plot yang mudah diantisipasi rasanya lebih cocok untuk film full komedi. Sungguh mengherankan pula bintang sekelas Depp dan Jolie mau terlibat dalam film ini. Dengan segala kelemahan naskah dan dialognya, kasting dua bintang besar era ini, serta bujet sebesar $100 juta tak salah jika film ini layak disebut sebagai salah satu film terburuk yang diproduksi tahun ini. “$20 juta (operasi wajah) kamu memilih wajah seperti ini?”. “Memang bagaimana penampilanku?”. “Hmm.. not bad”. Sayangnya tidak untuk film ini.

PENILAIAN KAMI
Overall
10 %
Artikel SebelumnyaTron: Legacy
Artikel BerikutnyaThe Mechanic
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.