The Twilight Saga: New Moon (2009)
130 min|Adventure, Drama, Fantasy|20 Nov 2009
4.8Rating: 4.8 / 10 from 299,181 usersMetascore: 44
Edward leaves Bella after an attack that nearly claimed her life, and, in her depression, she falls into yet another difficult relationship - this time with her close friend, Jacob Black.

New Moon merupakan sekuel dari Twilight (2008) yang dirilis hampir tepat setahun setelah rilis film pertamanya. Filmnya kali ini diarahkan Chris Weitz yang kembali diadaptasi dari seri novel laris berjudul sama karya Stephenie Meyer. Film ini masih dibintangi bintang-bintang muda, yakni Kristin Stewart, Robert Pattinson, serta Taylor Lautner. Menyusul sukses TwilightNew Moon sukses luar biasa meraih lebih dari $100 juta hanya dalam 3 hari rilisnya saja.

Hubungan asmara Bella (Stewart) dan sang vampir, Edward (Pattison) yang semakin dekat justru membuat sang gadis semakin gelisah. Setiap malam Bella dihantui mimpi buruk karena Edward selalu awet muda sementara ia sendiri menua. Suatu ketika pada pesta ulang tahun Bella di rumah keluarga Cullen, jari sang gadis terluka dan memancing insting binatang saudara Edward hingga mencederai Bella. Edward yang tak mau melihat Bella terluka akhirnya pergi meninggalkan Fork bersama keluarganya. Bella yang frustasi ditinggal Edward mulai dekat kembali dengan sahabat lamanya, Jacob (Lautner). Jacob yang sejak lama menyukai Bella ternyata juga menyimpan rahasia besar sama seperti Edward. Jacob ternyata adalah werewolf yang menjadi musuh besar vampir.

Apa yang bisa ditawarkan dari sebuah sekuel film roman fantasi remaja macam Twilight? Roman yang lebih menyentuh dan dramatik, atau adegan aksi lebih seru, atau konflik yang semakin memanas? Semua ini tidak ada dalam sekuelnya. Inti cerita dari New Moon adalah sebuah tes akan cinta sejati Bella dan Edward. Kita semua sudah tahu pasti sejak film pertama jika Bella dan Edward sudah cinta mati. Apalagi yang mau dibuktikan? Plot filmnya terlalu mudah dibaca. Sedekat-dekat Bella dengan Jacob siapa pun tahu mereka tidak mungkin menjalin hubungan kasih. Poor Jacob… Lalu ketika Edward akan “go public” jauh di negeri seberang coba tebak siapa yang datang menyelamatkan? Bella juga berulang-kali meminta Edward untuk menjadikannya vampir, capek rasanya melihat dialog “tak berguna” seperti ini. Kita semua tahu jika Edward melakukan ini cerita filmnya selesai. Titik! Bicara adegan aksi pun tak jauh berbeda. Tak ada yang istimewa dan pencapaian grafis (CGI) pun yang jauh dari memuaskan.

Baca Juga  Maleficent: Mistress of Evil

Satu hal yang menjadi nilai lebih seri Twilight adalah hubungan manusia dengan vampir. Jika sampai Bella akhirnya menjadi vampir, lantas apa menariknya film ini. Jelas film ini memang ditujukan untuk penonton remaja dan pembaca setia novelnya. Nyatanya di bioskop hampir sebagian besar penonton adalah gadis remaja. Mereka semua menjerit ketika Edward muncul di layar dengan slow-motion. Tak heran jika film ini sukses komersil luar biasa. New Moon dengan tempo plot yang sangat lambat, mudah dibaca, durasi yang panjang, serta sedikit aksi cenderung membuat cepat lelah dan mengantuk. Entahlah bisa jadi film ini setia dengan novelnya namun dibandingkan dengan film pertamanya sekuelnya kali ini cuma roman murahan. Just bite the girl Edward! It’s over anyway… (D)

Artikel SebelumnyaA Christmas Carol
Artikel BerikutnyaFilm, Yahudi, dan Kita
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.