The Vanishing (2018)
107 min|Drama, Mystery, Thriller|04 Jan 2019
5.9Rating: 5.9 / 10 from 21,627 usersMetascore: 64
Three lighthouse keepers on the remote Flannan Isles obtain a mysterious trunk, leading to their mysterious disappearance.

The Vanishing adalah film drama thriller produksi Skotlandia yang digarap oleh Kristoffer Nyholm. Kisah film ini, uniknya diinspirasi dari hilangnya tiga penjaga mercusuar secara misterius di Kepulauan Flannan, Skotlandia pada tahun 1900. Film berbujet US$ 5 juta ini dibintangi oleh Gerard Butler, Peter Mullan, serta Connor Swindells. Dari trailer-nya sudah terlihat, film ini sepertinya memang menjanjikan.

Alkisah Thomas, James, dan yang termuda Donald, mendapat giliran menjaga mercusuar di sebuah pulau kecil terpencil di Kepulauan Flannan selama 6 minggu. Rutinitas mereka terusik oleh seorang laki-laki yang terdampar di pulau tersebut. Donald yang ingin menolong, tanpa sebab justru diserang dan sang pemuda pun secara tak sengaja membunuhnya. Satu peti kecil dari perahu, berhasil mereka angkat dan bawa ke rumah mercusuar. Betapa kagetnya mereka, mendapati isi kotak tersebut adalah beberapa emas batangan. Mereka pun sepakat membaginya, namun tak lama, dua orang misterius datang ke pulau untuk mencari emas yang mereka ambil.

Plotnya yang diinspirasi dari kisah nyata ini, melalui naskahnya mencoba merekonstruksi secara rinci apa yang melatarbelakangi hilangnya 3 penjaga mercusuar tersebut. Apapun tentu bisa saja terjadi (cerita sesungguhnya), tak ada seorang pun tahu, dan penafsiran pembuat film tentang kisahnya, juga boleh jadi didramatisir tapi ini jelas sah-sah saja. Toh, penafsiran mereka, jauh dari kata buruk.

Baca Juga  Hereditary

Sejak awal, layaknya film horor, film ini menyajikan setting dengan atmosfir luar biasa suram. Setting yang meyakinkan ini sangat mendukung kisahnya yang kelam serta tiga tokohnya yang berbeda karakter. Sang senior, Thomas masih trauma sepeninggal istri dan anaknya, James harus meninggalkan istri dan putranya dengan segala problema ekonomi mereka, serta pula sang pemuda labil yang tak berpengalaman, Donald. Batangan emas tersebut seolah menjadi penyelamat dari kehidupan mereka yang suram. Seperti disajikan dalam trailer-nya, plotnya pun mudah kita antisipasi ke mana arahnya setelah ini.

Datangnya dua sosok misterius yang mencari emas milik mereka, rupanya hanya menjadi petaka awal dari konflik yang sesungguhnya. Horor sesungguhnya ternyata baru dimulai setelah momen ini. Dengan berbekal kematangan akting dua bintang seniornya, Mullan dan Butler, serta bintang muda, Swindells, sajian drama thriller mendadak berubah haluan menjadi sebuah sajian horor psikologis. Tiga bintangnya khususnya Butler, bermain sangat mengesankan sepanjang momen ini. Kisah yang sebenarnya memiliki potensi lebih ini, sayangnya disajikan terlalu lambat dan ending-nya sedikit kurang menggigit sehingga tak mampu membekas kuat.

The Vanishing has strengths in terms of setting and the appearance of its players; however, the execution is slow and half-baked, making it unable to make a deep impression. Kisahnya memang tak lagi baru, sejak era klasik hingga kini, bagaimana sosok manusia berubah menjadi monster yang mampu memakan sesamanya akibat ketamakan dan keserakahan. The Vanishing dengan segala potensinya, tidak hanya bicara tentang ini, namun juga sisi humanis seorang manusia yang tak luput dari rasa bersalah dan trauma.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaAvengers: Endgame Cetak Sejarah Box Office!
Artikel BerikutnyaLong Shot
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses