The Wandering Earth (2019)
125 min|Action, Adventure, Sci-Fi|05 Feb 2019
5.9Rating: 5.9 / 10 from 36,513 usersMetascore: 57
With the sun dying out, a group of brave astronauts set out to find new planet for the whole human race.

Dijamin, belum pernah ada film bencana yang mencapai level absurd semacam ini. Lazimnya dalam plot film sejenis jika planet Bumi tak lagi bisa dihuni, umat manusia akan mencari satu solusi dengan mencari planet baru yang layak huni. Isu lingkungan kerap menjadi penyebab bencana tapi tidak untuk film ini. Dalam kisah The Wandering Earth, umat manusia memang mencari lokasi yang baru, namun bukan untuk warganya tapi untuk planet bumi! Kali ini, satu planet bumi yang dipindah menuju sistem tata surya lain karena Matahari diprediksi sekitar 100 tahun lagi akan mati dan tata surya akan musnah. Kenapa harus susah-susah harus memindah bumi selama ribuan tahun lamanya dan tidak membangun kapal angkasa raksasa untuk membawa umat manusia ke sana. Jauh lebih masuk akalkan? Bicara logika sepertinya harus kita abaikan untuk kasus film ini.

Film bencana edan berdurasi 125 menit ini digarap oleh Frant Gwo dengan bujet USD 50 juta. Film ini pada rilis domestiknya, tercatat sebagai film nomor dua terlaris dengan raihan nyaris mencapai USD 700 juta. Rilis globalnya didistribusikan oleh Netflix yang dirilis secara streaming sejak akhir bulan April lalu. Tokoh utama film ini bukan para bintangnya, namun adalah efek CGI yang mendominasi semua adegannya.

Untuk film non-Hollywod, efek visualnya jelas terlihat luar biasa. Setting-nya pun disajikanluar biasa meyakinkan. Dua aspek ini memang menjadi kekuatan terbesar filmnya. Baik setting di kota bawah tanah, permukaan bumi yang bersalju, di dalam truk, maupun di luar angkasa, nyaris tak bisa dibedakan dengan produksi film-film pesaingnya di barat sana yang jauh lebih mahal. Saya sendiri sangat terkesan dengan semua segmen di kapal luar angkasa, baik interior maupun eksterior. Tak dapat dipercaya, film ini mampu menampilkan segmen aksi seru di luar badan kapal angkasa dengan sangat baik. Usaha yang demikian total, jelas patut dihargai tinggi.

Baca Juga  Sleep

Sepanjang menonton film bencana fiksi ilmiah sejenis, sebut saja macam Interstellar, Deep Impact, Armageddon, atau bahkan The Core dan Geostorm yang absurd, belum pernah kisahnya demikian menakutkan seperti ini. Sepanjang film, kita tidak pernah merasa nyaman karena bumi yang kita pijak (baru kali ini dalam medium film), tidak dalam posisi orbitnya. Apapun bisa terjadi dan terlalu banyak variabel yang bisa merusak rencana awal. Hal Inilah yang terjadi dalam kisahnya. Walau akhir kisahnya terhitung “happy ending”, namun tetap masih terasa mengambang dan gelap. Selipan drama keluarga, juga disajikan tidak buruk, walau terhitung terlalu konvensional untuk genrenya serta latar penokohan pun lemah. Siapa sangka pula, Pulau Sulawesi berperan penting dalam kisahnya, walau saya tak habis pikir, bagaimana perjalanan sejauh itu terasa begitu singkat.

The Wandering Earth adalah satu proyek ambisius yang berani dari Tiongkok dengan konsep serta premis amat absurd yang belum pernah dilakukan genrenya. Untuk genrenya, jelas film ini bukan yang terbaik. Namun untuk level produksinya, film ini jelas istimewa. Film ini jelas membuka sekuelnya dan entah kisah absurd macam apa lagi yang ingin disajikan. Saya masih menanti, film-film produksi Tiongkok sejenis dengan kualitas cerita maupun pencapaian visual yang lebih baik lagi. Setidaknya kini, industri film mereka sudah berada di jalur yang benar.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Lion King
Artikel BerikutnyaPintu Merah
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.