The Wolfman (2010)
103 min|Drama, Fantasy, Horror|12 Feb 2010
5.8Rating: 5.8 / 10 from 111,495 usersMetascore: 43
Upon his return to his ancestral homeland, an American man is bitten and subsequently cursed by a werewolf.

The Wolfman merupakan film drama-horor yang merupakan remake dari film berjudul sama produksi tahun 1941. Remake kali ini digarap oleh Joe Johnston yang dikenal dengan film-film seperti Jumanji (1995), October Sky (1999), Jurrasic Park 3 (2001), dan Hidalgo(2004). Film dibintangi aktor-aktor senior seperti Benicio Del Toro, Anthony Hopkins, Hugo Weaving, dan Emely Blunt.

Cerita filmnya berlatar di Inggris tahun 1890-an. Alkisah Lawrence Talbot (Del Toro) pulang ke kampung halamannya di desa Blackmore untuk mencari tahu sebab kematian kakaknya setelah disurati oleh tunangan sang kakak, Gwen Conliffe (Blunt). Sesampainya disama ia disambut oleh ayahnya yang eksentrik, Sir John Talbot (Hopkins). Rumor berkembang di desa mengatakan bahwa sang kakak dibunuh oleh seekor monster. Di malam bulan purnama, Lawrence tengah mencari informasi di sebuah perkemahan Gypsy, mendadak tempat tersebut diserang oleh monster berwujud serigala. Lawrence berusaha memburunya namun malang ia justru malah terluka akibat gigitan sang monster. Diluar dugaan Lawrence sembuh dengan cepat dan tanpa disadari ia merasakan perubahan besar dalam dirinya.

Dibandingkan dengan cerita film aslinya tampak sekali upaya yang maksimal untuk lebih bisa diterima penonton masa kini. Inti kisahnya secara garis besar masih sama namun treatment-nya berbeda. Kisahnya lebih dramatik dan memungkinkan banyak adegan aksi untuk muncul, contohnya seperti sekuen aksi seru di London serta adegan akhir di tepi sungai. Sekalipun begitu tetap saja secara umum kisahnya terlalu klise dan mudah ditebak.

Baca Juga  Live by Night

Kelebihan utama film ini adalah bagaimana sang sineas mampu membangun atmosfir suram dan gelap untuk mendukung cerita filmnya. Tata cahaya kelam plus efek kabut ditambah pula setting yang sangat mengagumkan semakin menambah nuansa magis filmnya. Setting interior “istana” keluarga Talbot tampak begitu meyakinkan dan natural tanpa usaha untuk menambah intensitas pencahayaan (lebih terang). Satu lagi nilai lebih lainnya adalah ilustrasi musik oleh komposer kawakan Danny Elfman dengan gaya musiknya yang khas mampu memberikan dimensi lain layaknya musik klasik horor era film bisu.

The Wolfman adalah sebuah usaha maksimal remake film orisinilnya. Kisah yang ditawarkan masih terlalu sederhana sekalipun dikemas dalam setting dan atmosfir yang sangat memukau. Hopkins dan Del Toro sesuai kelas mereka sudah bermain maksimal. Dibandingkan film-film sang sineas yang disebut diatas, film ini jelas masih dibawah baik dari sisi cerita maupun aksi. Untuk mengembalikan era kejayaan film-film horor produksi Universal dekade 30-an rasanya juga masih jauh dari impian. Nuansa suram film ini plus musik (Elfman) banyak mengingatkan pada film-film garapan Tim Burton. Entah jika digarap Burton apakah bisa lebih baik?

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaDari Redaksi mOntase
Artikel BerikutnyaPercy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.