The Woman in Cabin 10 | REVIEW

0
310
the woman in cabin 10

Di tengah tren film-film thriller berkualitas, kini Netflix merilis The Woman in Cabin 10 yang digarap oleh Simon Stone. Naskah filmnya diadaptasi dari novel berjudul sama (2016) karya Ruth Ware. Film ini dibintangi sederetan nama tenar, antara lain Keira Knightley, Guy Pearce, Art Malik, Gugu Mbatha-Raw, Kaya Scodelario, David Ajala,Daniel Ings, serta Hannah Waddingham. Akankah film thriller ini bisa memberikan sensasi baru dan tren bagus bagi genrenya? 

Laura Blacklock (Knightley) adalah seorang jurnalis ternama traumatik yang diundang dalam acara spesial bersama para miliuner di sebuah kapal pesiar pribadi mewah. Acara tersebut digagas oleh Richard Bullmer (Pearce) di mana istrinya yang juga pemilik perusahaan, Annie mengidap kanker akut. Laura secara empat mata sempat berbicara dengan Annie yang rupanya ingin menyumbangkan seluruh hartanya untuk sebuah yayasan kanker.

Malamnya, Laura mendengar kegaduhan di kamar sebelah, dan mendengar seseorang yang  terjatuh ke laut. Seisi kapal pun geger dan aksi pencarian pun berlangsung. Faktanya, sang kapten mencatat tidak ada seorang pun yang menghuni kamar nomor 10. Kewarasan Laura pun diuji karena tidak ada seorang pun yang memercayainya. Jiwa jurnalis membawa Laura untuk melakukan investigasi mandiri.

Awalnya, saya pikir ini adalah adaptasi lepas film thriller klasik arahan Hitchcock, The Lady Vanishes (1938) yang juga menginspirasi Flightplan (2005), dibintangi Jodie Foster. Keduanya masing-masing berlokasi di atas kereta api yang berjalan dan pesawat udara komersial. Kedua film ini memiliki kemiripan plot dengan The Woman in Cabin 10, tetapi siapa sangka rupanya bersumber dari cerita novel yang berbeda. Apakah novelnya mencatut dari The Lady Vanishes yang bersumber dari novel The Wheelspin (1936), bukan menjadi problem di sini. Poinnya adalah kisahnya bukan lagi sesuatu yang baru.

Pengembangan plotnya di awal telah cukup memberikan eksposisi bagi sederetan tokohnya, khususnya Laura dengan segala problema traumatiknya. Penikmat film tulen tentu tak sulit menduga jika ini bakal menjadi motif cerita kelak. Intensitas cerita dan sisi misteri pun masih menarik hingga peralihan babak kedua. Namun dalam pengembangan cerita, informasi makin terkuak, tetapi justru makin memberi banyak pertanyaan bagi penonton. Banyak hal tampak janggal.

Baca Juga  Run Hide Fight

Satu poin saja, jika seseorang ingin membuat skenario stunt double satu karakter penting di dalam kapal (yang kelak bakal dibunuh), masak iya, menyusupkan orang tersebut di dekat cabin tempat para tamu (sebelah kamar Laura) dan kru awak kapal lalu lalang? Gilanya, pintu kamar kabin nomor 10 tidak ditutup pula. Kemungkinan si penyusup bakal terlihat oleh awak kapal dan tamu lainnya tentu besar. Faktanya, aksi tersebut justru dipergoki sendiri oleh sang korban. Laura pun bisa demikian mudahnya masuk ke kabin nomor 10, walau tak disengaja. Plotnya sendiri yang menjawab kejanggalan ini.

Walau terdapat kelemahan dari sisi cerita, harus diakui, penggunaan lokasi di atas kapal super modern, memberikan suasana dan intensitas ketegangan yang lebih. Ukuran kapal tersebut tidak terlalu kecil dan tidak pula terlalu besar, terdapat cukup banyak ruang untuk dieksplorasi dalam pengembangan kisahnya. Di luar set, penggunaan lokasi sekitar juga memiliki panorama yang sangat indah, memberikan opsi bagi sineas untuk mengeksplorasi suasana eksternal di luar kapal. Ditambah pula sisi sinematografi yang menawan menangkap tiap-tiap momennya, baik interior di dalam kapal maupun eksterior. Ilustrasi musik pun cukup memberi tensi ketegangan dalam mendukung tiap adegannya. Penggunaan set ruang terbatas dalam film ini adalah salah satu pencapaian terbaik bagi genrenya yang sesungguhnya memiliki potensi lebih.

The Woman in Cabin 10 tidak mampu mengolah sisi thriller dengan solid sekalipun didukung set yang mengagumkan. Satu aspek yang belum disinggung adalah para kastingnya. Kita sudah berulang kali melihat sang bintang (Knigthley) dalam situasi plot yang sama, dan kali ini pun sang aktris bermain baik. Walau jauh jika dibandingkan dengan peran Jodie Foster dalam Flightplan. Aktor sekaliber Pearce bermain hanya sebatas formalitas, justru yang mencuri perhatian adalah Kaya Scodelario dan David Ajala, bermain sebagai Grace dan sang mantan Laura. Sebagai tontonan streaming, The Woman in Cabin 10 rasanya cukup memberikan hiburan bagi penikmat genrenya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaSmashing Machine | REVIEW
Artikel BerikutnyaThe Black Phone 2 | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses