The Woman King (2022)
135 min|Action, Drama, History|16 Sep 2022
6.9Rating: 6.9 / 10 from 73,908 usersMetascore: 77
A historical epic inspired by true events that took place in The Kingdom of Dahomey, one of the most powerful states of Africa in the 18th and 19th centuries.

Kita sekarang hidup di era para perempuan tangguh yang mendominasi medium film. Setelah film bernafaskan lokal kuat, Prey, yang rilis beberapa waktu lalu, The Woman King semakin menegaskan tren ini. Film ini diarahkan Gina Prince-Bythewood yang juga mengarahkan film aksi The Old Guard. The Woman King dibintangi Viola Davis, John Boyega, Thuso Mbedu, Lhasana Lynch, dan Sheila Atim. Apakah film berbujet USD 50 juta berdurasi 135 menit ini mampu memberikan sesuatu yang baru bagi genrenya?

“I offer you a choice, fight or we die”

Pada tahun 1823, terdapat kerajaan Dahomey pimpinan raja Ghezo (Boyega) di wilayah Afrika Barat. Kerajaan ini memiliki satu pasukan elit berisi para ksatria perempuan yang dinamakan Agojie, yang dipimpin oleh Jenderal Nanisca (Davis). Di kala perbudakaan manusia menjadi komoditi terbesar bangsa asing yang didukung kekaisaran Oyo, Dahomey adalah pihak terdepan yang menentang. Di saat yang sama, seorang rekrutan muda, Nawi (Mbedu) dibina menjadi seorang Agojie yang tangguh. Tak dinyana, rupanya Nawi berhubungan dengan masa lalu Nanisca yang kelam. Sang jenderal pun harus mengesampingkan masa lalunya, karena kerajaan-kerajaan lain bersekutu untuk menginvasi Dahomey.

Baik setting maupun kisahnya terhitung segar untuk genrenya (epik sejarah) yang lama tak unjuk gigi, sejak Gladiator, Troy, dan Kingdom of Heaven. Walau tidak sekolosal pesaing beratnya, namun The Woman King memiliki sisi hiburan yang tak kalah menarik melalui aksi perang dan pertarungan yang dikoreografi dengan baik. Setting alam dan aksinya memiliki banyak kemiripan dengan Prey, walau jelas beda genre. Selain aksi dan setting-nya, nuansa tradisi lokal juga mencuri perhatian, melalui unsur musik, lagu, dan tari. Lalu subplot antara Nawi dan Nanisca pun, di luar ekspektasi mampu memberikan kehangatan bagi kisahnya. Kasting perempuan memang adalah kekuatan terbesar film ini, khususnya Viola Davis melalui peran langka dalam sejarah karirnya.

Baca Juga  Secret Headquarters

Walau aksinya tidak sekolosal film-film di genrenya, The Woman King, mampu memberi warna segar serta menghibur melalui nuansa lokalnya. Film ini juga mampu membuktikan bahwa genre ini masih memiliki potensi entertaintment yang tak kalah dengan genre superhero dengan gemerlap efek visualnya. Pun dari sisi keberagaman yang kini tengah menjadi isu besar, film seperti Prey dan The Woman King tidak perlu bersusah payah menggembargemborkan bagaimana isu keberagaman harus diperlakukan karena kisahnya sudah menjawabnya sendiri. Selamat menonton!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaJagat Arwah
Artikel BerikutnyaFESTIVAL SINEMA PRANCIS 2022: GENERATION
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.