The Wonder (2022)
108 min|Drama, Mystery, Thriller|16 Nov 2022
6.6Rating: 6.6 / 10 from 43,926 usersMetascore: 71
A tale of two strangers who transform each other's lives, a psychological thriller, and a story of love pitted against evil.

Kombinasi kisah drama periodik, spiritual, trauma psikologis, dan thriller bisa jadi adalah satu paduan yang langka. The Wonder adalah film arahan sineas asal Chili, Sebastian Lelio yang filmnya, The Fantastic Woman (2017) meraih Piala Oscar untuk kategori film bahasa asing terbaik. The Wonder dibintangi oleh Florence Pugh, Tom Burke, Toby Jones, dan Ciaran Hinds. Film ini dirilis Netflix pada tanggal 16 November 2022 kemarin. Dengan paduan tema yang menarik dan sentuhan tangan emas sang sineas, mampukah film ini memberi ekspektasi lebih?

You’re paid to watch, not to intervene.”

Filmnya berkisah di wilayah pedalaman Irlandia tahun 1862. Elizabeth “Lib” (Pugh) adalah seorang perawat yang dikirim dari London untuk merawat seorang gadis, Ana, yang memiliki kondisi unik, ia menolak makan selama berbulan-bulan. Tugas Lib hanyalah mengawasi Ana yang bergantian dengan seorang biarawati. Oleh keluarganya dan warga setempat, kondisi Ana dianggap sebuah keajaiban dari Tuhan sementara seorang dokter lokal berusaha mencari penyebab secara ilmiah mengapa kondisi Ana tidak memburuk. Lib yang berada di tengah situasi pelik tersebut, mencoba menggunakan kewarasannya untuk membantu sang gadis, sekaligus menghadapi trauma masa lalunya.

Premis menarik ini sudah dibuka dengan teknik pelanggaran tembok keempat yang menggelitik dan jarang kita temui dalam film (di dalam studio indor ke setting filmnya). Ini apa maksudnya? Satu shot yang senada pada ending-nya mengubah segalanya yang tentu tak mungkin saya tulis di sini (spoiler). Sepanjang plotnya, sisi misteri menggugah rasa penasaran akibat kondisi sang gadis, ditambah pula ekspektasi yang lalu lalang di pikiran kita. Plotnya diombang-ambing di antara sisi spritual dan sains yang membuat kita menduga-duga, apa yang sebenarnya terjadi?

Baca Juga  Transformers: Revenge of the Fallen

Sang sineas begitu terampil, mampu mempermainkan penonton melalui dialog, sisi trauma Lib, hingga tata artistik yang kelam. Jalinan plotnya pun dibangun dengan sabar melalui temponya yang lambat. Sisi spritual dan ilmiah berjalan sama kuat yang sulit diduga arahnya. Apakah penantian ini semua akhirnya terbayar dengan memuaskan? Tidak juga jika ditilik dari plotnya, sejak trauma Lib terkuak, membuat plot selanjutnya mudah terantisipasi. Hanya saja, shot ending-nya melalui sosok yang tidak diduga, mampu memberikan tafsir yang berbeda.

The Wonder membawa premis unik, namun kisahnya tak mampu membawakan sebuah drama spritual yang menggugah, walau ending-nya bisa menampiknya. Deretan kastingnya (khususnya Pugh) yang bermain apik, membuat kita begitu mudah untuk larut dalam kisahnya. Jujur saja, The Wonder terhitung sebagai film yang sulit diulas dan memang bukan untuk tontonan awam. Siapa sebenarnya perempuan yang berbicara dengan penonton (melanggar tembok keempat)? Apakah “Tuhan” atau “malaikat”? Campur tangan-“Nya” dengan jelas mampu mengarahkan Lib untuk bertindak spontan ke arah yang benar sekaligus “menebus” dosa masa lalunya. Lantas apa poin ini semua? Apa film ini bicara tentang keyakinan atau logika dan akal sehat? Keajaiban bisa jadi adalah keduanya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaSri Asih
Artikel BerikutnyaCici
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.